Liputan6.com, Jakarta - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menurunkan ESG Risk Rating secara konsisten hingga masuk 28 besar perusahaan sektor telekomunikasi secara global berdasarkan penilaian Morningstar Sustainalytics.
Perbaikan tersebut terlihat dari penurunan skor ESG Risk Rating Mitratel dari 34,5 pada 2022 menjadi 18,6 pada 2026. Dengan skor tersebut, Mitratel mempertahankan kategori Low Risk, membaik dari skor 18,8 pada 2025.
Advertisement
Transformasi ESG Mitratel dimulai sejak perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia. Perseroan memperkuat tata kelola, efisiensi energi, pemanfaatan energi hijau, hingga aspek sosial secara bertahap.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil kerja konsisten seluruh pihak di perusahaan.
"Kerja keras seluruh pihak di Mitratel untuk mencapai target risiko ESG rendah telah berbuah positif dengan adanya pengakuan secara global melalui ESG Risk Rating oleh Sustainalytics. Namun, perjalanan ESG kami tidak berhenti sampai di sini,” ujar Theodorus kepada wartawan, Selasa (11/8/2026.).
Mitratel juga menempati peringkat 12 untuk ESG Score for Listed Companies in Indonesia dan tercatat dalam indeks IDX ESG Leaders. Perseroan turut meraih level tertinggi “Optimizing & Excellent” dalam penerapan prinsip keberlanjutan ISO 26000 berdasarkan asesmen TÜV SÜD.
Penguatan ESG Mitratel mencakup penerapan sistem manajemen keamanan informasi, kode etik, whistleblowing system, keterbukaan informasi, pengawasan dewan, serta standar kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
ESG Diintegrasikan ke Strategi Bisnis
Memasuki tahap berikutnya, ESG mulai diintegrasikan ke dalam strategi bisnis melalui pengembangan layanan yang mendukung efisiensi energi dan infrastruktur hijau, seperti Power as a Service (PaaS) dan Green Tower as a Service (GTaaS).
Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi menilai perbaikan ESG Mitratel menunjukkan, aspek keberlanjutan telah berkembang dari fungsi kepatuhan menjadi bagian dari keunggulan kompetitif.
“Perbaikan ESG Risk Rating dalam kurun waktu tiga tahun merupakan pencapaian yang menunjukkan adanya konsistensi implementasi, bukan sekadar inisiatif jangka pendek,” kata Yosua.
Ke depan, Mitratel menargetkan mempertahankan status Low Risk dengan memperluas penerapan ESG dalam operasional dan strategi bisnis.
Perseroan juga menyiapkan peta jalan menuju Net Zero 2060 melalui Climate Transition Plan, peningkatan investasi berkelanjutan, pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT), serta penguatan program tanggung jawab sosial.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.