Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tersungkur pada penutupan perdagangan Selasa, (11/8/2026). Analis menuturkan, tekanan rupiah terhadap dolar AS dipicu hubungan AS dengan Iran yang memupus harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 106 poin atau 0,60% menjadi 17.861 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.755 per dolar AS.
Advertisement
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada juga bergerak lesu di level 17.824 per dolar AS dari sebelumnya 17.795 per dolar AS.
"Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini, sehingga memupus harapan kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk kembali membuka Selat Hormuz,” kata dia dikutip dari Antara.
Kedua negara itu dinyatakan melontarkan klaim yang bertentangan mengenai status Selat Hormuz. Washington menyatakan, jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur itu menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone).
Selain itu, serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco turut menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan.
"Kelompok Houthi mengancam akan membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dengan cara menyerang kapal serta infrastruktur minyak di Laut Merah. Langkah ini meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah," ujar dia.
Melihat sentimen domestik, tekanan terhadap pasar sedikit tertahan seiring langkah Presiden RI Prabowo Subianto yang menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo, sehingga meredakan kekhawatiran terkait kepemimpinan.
"Namun, pasar juga merespon negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun, dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026,” ujar Ibrahim.
Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah, Sentimen Selat Hormuz Membayangi
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Rupiah turun 40 poin atau 0,23 persen ke level 17.795 per dolar AS dari penutupan sebelumnya 17.755 per dolar AS.
Pelemahan ini dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah muncul seiring memanasnya kembali situasi di kawasan Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang kembali menaikkan harga minyak mentah dunia. Saat ini US$ 83,21 per barel dibandingkan penutupan minggu lalu di US$ 77 per barel,” ujar Lukman dikutip dari Antara.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan tekanan terhadap negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Lonjakan harga energi juga berpotensi memengaruhi inflasi dan memperburuk sentimen terhadap mata uang negara berkembang.
Selain faktor eksternal tersebut, pelaku pasar juga mulai berhati-hati menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan dolar AS dalam jangka pendek.
Selat Hormuz dan Data Ekonomi AS Jadi Perhatian Pasar
Sentimen negatif terhadap rupiah turut dipicu perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai Amerika Serikat memenuhi tuntutan Iran, termasuk mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pernyataan itu disampaikan ketika perundingan mengenai masa depan pelayaran melalui Selat Hormuz masih mengalami kebuntuan. Iran disebut telah melakukan pembicaraan dengan Oman dan mencapai kesepahaman mengenai peta jalur pelayaran, sementara konsultasi masih berlangsung untuk menyelesaikan sejumlah poin teknis dalam pernyataan bersama.
Di sisi lain, investor global juga menantikan data penjualan ritel Amerika Serikat yang diperkirakan tumbuh 1,8 persen. Data tersebut dipandang penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi masyarakat AS dan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan penantian data ekonomi AS, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada di kisaran 17.750 per dolar AS-17.850 per dolar AS.