Liputan6.com, Bogota - Gempa magnitudo 7,4 mengguncang Kolombia hanya tiga hari setelah Abelardo De La Espriella (48) dilantik sebagai presiden. Bencana tersebut langsung menjadi krisis besar pertama yang harus dihadapi pemerintahannya, sementara masyarakat masih dibayangi dua gempa dahsyat yang melanda negara tetangga Venezuela pada Juni.
"Pemerintah pusat telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelamatkan nyawa, membantu masyarakat terdampak, dan menyalurkan bantuan ke wilayah yang membutuhkan," kata De la Espriella dalam pidato nasional pada Senin (10/8/2026), seperti dilaporkan The Guardian.
Advertisement
Pidato De la Espriella datang sekitar pukul 13.00 waktu setempat, kurang lebih sekitar 5,5 jam setelah gempa utama mengguncang Kolombia.
Dalam pidato itu, ia menetapkan status darurat nasional dan menyebut jumlah korban meninggal mencapai 111 orang. Kini, menurut Asosiasi Kota-Kota Ibu Kota Kolombia (Asocapitales) seperti dilaporkan CNN, total korban tewas sedikitnya mencapai 132 orang, dengan 570 lainnya dilaporkan terluka.
Prioritas utama pemerintah saat ini adalah menyelamatkan orang-orang yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Sang presiden baru dilaporkan telah mengunjungi Quibdo, ibu kota Provinsi Choco yang berada di kawasan pesisir. Di sana, ia menjanjikan bantuan biaya sewa bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Setelah itu, menurut Reuters, ia melanjutkan perjalanan ke Cali, kota terbesar di bagian barat Kolombia.
De la Espriella dijadwalkan menyampaikan perkembangan terbaru jumlah korban meninggal secara nasional pada Senin malam. Namun, ia hanya mengumumkan data dari Provinsi Valle del Cauca, tempat Cali berada.
Badan Geologi Kolombia menyatakan hingga Senin malam telah mencatat 21 gempa susulan, termasuk yang berkekuatan magnitudo 2,8 dan 4,8. Lembaga tersebut memperingatkan gempa susulan masih berpotensi terjadi.
Berikut ulasan tentang Presiden De La Espriella:
Arah Kebijakan Keamanan De La Espriella
De La Espriella resmi dilantik sebagai presiden Kolombia setelah memenangi pemilu putaran kedua. Dalam kampanyenya, ia berjanji menindak tegas kelompok bersenjata, memangkas belanja pemerintah hingga 40 persen, serta menghidupkan kembali industri minyak dan gas negara Amerika Selatan tersebut.
De la Espriella mengucapkan sumpah jabatan pada Jumat (7/8). Berbeda dari tradisi sebelumnya, pelantikan tidak digelar di ibu kota Bogota, melainkan di Cali, kota di wilayah barat daya Kolombia yang rawan konflik dan selama bertahun-tahun menjadi salah satu daerah yang paling terdampak bentrokan antara pemerintah dan kelompok bersenjata.
Pemilihan Cali sebagai lokasi pelantikan sekaligus menandai perubahan arah dari kebijakan pendahulunya, Gustavo Petro. Presiden dari kubu kiri itu selama menjabat mengedepankan perundingan damai dengan kelompok-kelompok bersenjata, sebuah pendekatan yang dinilai gagal oleh De La Espriella.
"Tidak akan ada ruang bagi manuver yang mengganggu stabilitas negara," ujar De La Espriella pada Jumat seperti dilaporkan Al Jazeera.
Ia berjanji akan "tanpa henti mengalahkan narkoterorisme". Ia menegaskan bahwa "pilihan untuk berdialog sudah sepenuhnya tertutup".
Di hadapan para pengusaha Kolombia, De La Espriella berjanji pemerintahannya akan menjadi mitra mereka dalam berinvestasi di Kolombia.
Ia mendorong pengembangan metode pengeboran untuk mengambil minyak dan gas dari lapisan batuan dengan menyuntikkan cairan bertekanan tinggi atau fracking secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
"Kita tidak boleh pasrah dengan cadangan minyak terbukti yang hanya akan bertahan beberapa tahun lagi. Kita juga tidak dapat menerima terus menurunnya cadangan gas kita," tuturnya.
De la Espriella menambahkan, pemerintahannya akan berupaya memperkuat perusahaan minyak milik negara, Ecopetrol.
"El Tigre"
De la Espriella merupakan pendatang baru di dunia politik. Ia dikenal para pendukungnya dengan julukan "El Tigre" atau "Sang Harimau".
Kekayaan dan popularitasnya dibangun melalui karier sebagai pengacara dan pengusaha, bukan lewat jabatan politik. Maju sebagai kandidat dari luar lingkaran politik, ia membiayai sebagian besar kampanyenya dengan dana sendiri.
Naiknya De La Espriella ke tampuk kekuasaan menandai perubahan haluan politik yang tajam di Kolombia. Selama empat tahun terakhir, negara itu dipimpin Petro, seorang mantan gerilyawan yang kerap mengkritik kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait narkoba dan imigrasi.
Sebaliknya, De La Espriella mengambil posisi yang lebih dekat dengan Trump, termasuk dalam pendekatan keras yang mengandalkan kekuatan militer untuk memerangi kejahatan narkoba di Amerika Latin.
Pengamanan ketat mewarnai upacara pelantikan pada Jumat yang berlangsung di auditorium sebuah universitas di hadapan anggota Kongres. Tentara dan kendaraan lapis baja berjaga di jalan-jalan sekitar lokasi. Sejak beberapa hari sebelumnya, polisi juga mendirikan pos pemeriksaan dan memeriksa kendaraan untuk mengantisipasi bahan peledak.
Setelah upacara, De La Espriella mendatangi sebuah batalion militer di dekat lokasi untuk berbicara langsung kepada para prajurit. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan semangat angkatan bersenjata sekaligus memberi gambaran tentang pendekatan keamanan yang akan ditempuh pemerintahannya.
Wilayah barat daya Kolombia hingga kini masih diperebutkan sejumlah kelompok bersenjata. Di antaranya adalah faksi pembangkang FARC yang menolak perjanjian damai yang ditandatangani kelompok pemberontak tersebut dengan pemerintah satu dekade lalu.
Kartel narkoba Clan del Golfo dan kelompok pemberontak Tentara Pembebasan Nasional (ELN) aktif pula di kawasan itu.
De La Espriella juga berjanji membawa Kolombia bergabung dengan "Shield of the Americas", koalisi regional yang didukung AS untuk memerangi perdagangan narkoba. Koalisi tersebut lahir dari pertemuan yang digelar pemerintahan Trump pada Maret.
Selain itu, ia berjanji memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel serta memutus hubungan dengan Kuba dan Nikaragua, dua negara yang ia sebut sebagai "tirani".
Petro sebelumnya sempat menolak menerima hasil pemilu yang membuat sekutunya dari kubu kiri, Ivan Cepeda, kalah. Ia menuding hasil penghitungan suara telah dimanipulasi.
Namun, tuduhan tersebut ditolak oleh para pemantau internasional dan otoritas pemilu Kolombia.
Meski demikian, unjuk rasa pecah di Cali, Bogota, dan Barranquilla pada hari pelantikan.
Di kawasan Puerto Resistencia, Cali, yang pernah menjadi pusat demonstrasi besar antipemerintah pada 2021, demonstran berusia 25 tahun Sebastian Ocampo mengatakan warga sedang "mempertahankan martabat" dalam menghadapi seorang presiden yang, menurutnya, tidak mendapatkan dukungan mereka.
Jorge Restrepo, profesor ekonomi di Javeriana University di Bogota, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tipisnya selisih suara dalam pemilu menunjukkan tantangan besar yang akan dihadapi De La Espriella dalam memimpin negara yang terbelah secara ideologis.
"Retorikanya hari ini, pidatonya, sebenarnya menunjukkan kurangnya rincian. Ada banyak niat dan banyak prinsip politik yang menjauhkan dirinya dari pemerintahan progresif sayap kiri Gustavo Petro sebelumnya," katanya.
"Namun, minimnya rincian itu menunjukkan bahwa akan sangat sulit baginya untuk mewujudkan apa yang telah ia janjikan kepada Kolombia, yaitu... sebuah 'negara keajaiban'," ujarnya.
Dukungan Trump
Kemenangan De La Espriella memperpanjang rangkaian kemenangan kubu konservatif dalam pemilu di berbagai negara Amerika Latin. Sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, tujuh pemimpin sayap kanan telah terpilih di kawasan tersebut.
Mereka antara lain Keiko Fujimori di Peru, Jose Antonio Kast di Chile, dan Javier Milei di Argentina.
Trump secara terbuka memberikan dukungan politik penuh dan total (endorsement) kepada De La Espriella selama masa kampanye Pilpres Kolombia.
Kementerian Luar Negeri AS pada Jumat mengatakan pemerintahan Trump berencana memberikan bantuan keamanan senilai US$1 miliar kepada pemerintahan De La Espriella. Rencana itu masih harus mendapat persetujuan Kongres AS.
"Sebagai salah satu landasan utama dalam kemitraan yang diperbarui ini, AS, dengan bekerja sama bersama Kongres, berniat mengumumkan bantuan senilai US$ 1 miliar sebagai bagian dari paket keamanan untuk mendukung pemerintahan Presiden De La Espriella dalam mencapai tujuan bersama kita," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri AS.
Pasca gempa, Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan bantuan sebesar senilai US$ 15,5 juta atau sekitar Rp 275,8 miliar untuk Kolombia.