Wamenkeu Juda: Aset ETF Emas Global Tembus Rp 9.949 Triliun

Wamenkeu Juda Agung menegaskan, faktor kepercayaan merupakan faktor fundamental di pasar keuangan, ETF emas juga harus berirungan dengan penguatan integritas.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 10 Agustus 2026, 12:21 WIB
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung. (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyebut aset kelolaan atau asset under management (AUM) ETF berbasis emas secara global mencapai US$ 559 miliar atau Rp 9.949 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800) pada 2025. Nilai tersebut menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap instrumen investasi berbasis emas.

Juda mengatakan, ETF emas global tersebut memiliki kepemilikan emas mencapai 4.025 ton. Dia menuturkan, perkembangan tersebut mencerminkan semakin pentingnya ETF emas dalam ekosistem investasi global.

"Pada 2025, aset kelolaan ETF emas global mencapai US$ 559 miliar dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton,” kata Juda dalam peluncuran ETF emas di Bursa Efek Indonesia, Senin (10/8/2026).

Juda menilai, peluncuran ETF emas di Indonesia tidak sekadar menambah produk investasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperdalam pasar modal nasional.

“Yang kita lakukan hari ini bukan sekadar menambah satu produk, kita sedang memperluas pilihan investasi sekaligus memperdalam pasar keuangan kita,” ujarnya.

Dia mengatakan, pasar modal memiliki peran strategis karena kebutuhan investasi Indonesia jauh lebih besar dibandingkan kemampuan pembiayaan APBN. Dalam APBN 2027, kebutuhan investasi Indonesia diperkirakan mencapai Rp 8.705 triliun, sedangkan APBN hanya mampu menjangkau sekitar Rp 459 triliun.

Sementara itu, sekitar Rp 7.973 triliun atau 91% kebutuhan investasi tersebut diharapkan berasal dari pembiayaan swasta, termasuk melalui pasar modal.

Juda mengatakan ETF emas juga dapat menghubungkan ekosistem bulion dengan pasar modal. Pemerintah sebelumnya telah mengembangkan kegiatan usaha bulion atau bank emas sejak 2023.

Namun, Juda menekankan pengembangan ETF emas harus berjalan beriringan dengan penguatan integritas pasar. Investor harus memiliki kepastian mengenai keberadaan, penyimpanan, valuasi, serta tata kelola emas yang menjadi aset dasar ETF.

“Pasar hanya dapat bekerja bila ada trust. Trust adalah faktor paling fundamental di pasar keuangan,” katanya.

Airlangga: ETF Emas Perkuat Pasar Keuangan Indonesia

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai peluncuran exchange traded fund (ETF) emas menjadi langkah strategis untuk memperdalam sektor keuangan Indonesia. Instrumen ini dinilai tidak hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan likuiditas pasar emas nasional.

Airlangga mengatakan kehadiran ETF emas dapat menghubungkan berbagai pelaku dalam ekosistem keuangan, mulai dari manajer investasi, bank kustodian, bank bullion, dealer, hingga Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Saya harapkan memang produk ini menghubungkan antara manajer investasi, custodian bank, bank bullion, dealer, dan bursa efek. Dan emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas,” kata Airlangga dalam peluncuran ETF emas, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).

Menurut Airlangga, ETF emas juga membuka peluang bagi industri asuransi untuk berinvestasi pada emas melalui instrumen pasar modal. Sebelumnya, industri asuransi memiliki keterbatasan untuk berinvestasi langsung pada bullion.

"Dengan ETF, maka asuransi bisa investasi emas. Sebelumnya asuransi tidak bisa investasi di bullion. Jadi ini salah satu yang kita akan terus dorong,” ujarnya.

 

Potensi Pengembangan ETF Emas

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto . (Dok Kemenko Perekonomian)

Airlangga melihat potensi pengembangan ETF emas Indonesia cukup besar. Ia menyebut nilai ETF emas global telah mencapai sekitar US$4.047 miliar, dengan Amerika Serikat sekitar US$526 miliar, China US$45 miliar, dan India US$17,5 miliar.

Di sisi lain, jumlah emas yang dikelola Pegadaian mencapai sekitar 153 ton atau setara sekitar US$20 miliar. Menurut Airlangga, besarnya potensi tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengejar pasar ETF emas negara lain di kawasan.

"India sebetulnya bisa kita balap dengan waktu cepat. Jadi kita akan dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura. Dan dengan demikian tentu kita lebih dalam lagi," ujar dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya