Melihat Karya Wilsen Willim Lebih Dekat di Heritage Reimagined, dari Koleksi Couture hingga Kolaborasi Dian Sastrowardoyo

Pameran "Heritage Reimagined" terbuka untuk umum pada 6–30 Agustus 2026, menghadirkan ragam bahasa desain Wilsen Willim.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 09 Agustus 2026, 21:00 WIB
Wilsen Willim X ASTHA District 8 mempersembahkan pameran "Heritage Reimagined" yang berlangsung pada 6–30 Agustus 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta - Wilsen Willim membawa pengunjung lebih dekat dengan caranya memandang warisan budaya Indonesia melalui pameran "Heritage Reimagined" di Melting Pot, ASHTA District 8, Jakarta. Berlangsung pada 6–30 Agustus 2026, pameran ini mempertemukan karya-karya sang desainer dengan kekayaan wastra Nusantara, mulai dari koleksi couture hingga kolaborasi busana bersama Dian Sastrowardoyo.

"Di ASHTA, kami percaya bahwa legacy hanya akan tetap hidup ketika terus diberi ruang untuk berevolusi. Melalui 'Heritage Reimagined,' kami ingin menghadirkan sebuah pengalaman yang menghubungkan warisan wastra Indonesia dengan kreativitas masa kini," kata Senior Manager Center Experience ASHTA District 8, Leonardo Slatter, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Memasuki ruang pamer, pengunjung tidak hanya menemukan busana yang berdiri di atas maneken. Bahasa desain Wilsen juga hadir melalui instalasi yang menerjemahkan wastra dan elemen pinwheel ke dalam dekorasi.

Jarak antara karya dan pengunjung terasa lebih dekat, memberi kesempatan untuk mengamati tekstur kain, konstruksi busana, serta permainan material yang menjadi bagian dari proses kreatif sang desainer. 

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah "Algorithm: Universal Language," koleksi haute couture perdana Wilsen. Koleksi ini memperlihatkan bagaimana wastra dapat bergerak melampaui batas pemahaman tradisional tanpa kehilangan akar yang membuatnya istimewa.

Batik tulis Cirebon menjadi salah satu material yang digunakan. Wilsen juga membawa tenun hasil tangan para perajin dari empat wilayah Indonesia, yakni songket Minang dari Halaban, Sumatera Barat; tenun sutra bulu dari Garut, Jawa Barat; songket Jembrana dari Bali; serta tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, Putussibau, Kalimantan Barat.

 

Tak Berhenti pada Busana

Wilsen Willim X ASTHA District 8 mempersembahkan pameran "Heritage Reimagined" yang berlangsung pada 6–30 Agustus 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Kreasi tersebut tidak berhenti pada busana. Wastra yang sama diterjemahkan menjadi bagian dari dekorasi ruang pamer. Perjumpaan antara kain, pakaian, dan instalasi membuat pengunjung dapat melihat bagaimana satu material memiliki banyak kemungkinan ketika berpindah ke tangan seorang perancang.

Wilsen juga membawa sejumlah kolaborasi ke dalam pameran. Sepatu Bocorocco x Wilsen Willim tampil dengan karakter edgy dan futuristik. Perhiasan etnik hasil kolaborasi dengan Subeng Klasik, serta aksesori kulit bersama Peau melengkapi eksplorasi tersebut.

Ruang pamer juga mempertemukan dua nama yang telah beberapa kali bersinggungan melalui karya: Wilsen Willim dan Dian Sastrowardoyo. Kolaborasi keduanya menjadi bagian penting dari "Heritage Reimagined" dan menghadirkan koleksi busana siap pakai yang terinspirasi dari siluet tradisional Indonesia.

 

Ragam Koleksi

Wilsen Willim X ASTHA District 8 mempersembahkan pameran "Heritage Reimagined" yang berlangsung pada 6–30 Agustus 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Sebanyak 13 busana hadir dalam bentuk kemeja, rok, korset, dan luaran. Kebaya Kartini, kebaya kutubaru, atasan Janggan, beskap, sikepan hussar khas prajurit Keraton Surakarta, dan surjan menjadi sumber inspirasi. Wilsen dan Dian mengemas siluet tersebut dengan pendekatan yang lebih bersih dan kontemporer.

Palet netral seperti putih, hitam, merah hati, biru laut, dan hijau gelap membuat setiap busana terasa mudah dikenakan di berbagai kesempatan. Material katun, suiting fabric, jacquard, dan batik tulis Cirebon berbahan dasar katun turut membangun karakter koleksi.

"Kami sengaja memilih warna-warna netral agar mudah dikenakan kembali ataupun dipadukan dengan wastra Nusantara yang sering kali bercorak cerah dengan motif dominan," kata Wilsen.

Kolaborasi tersebut lahir dari hubungan kreatif yang sudah berlangsung beberapa tahun. Dian pernah mengenakan rancangan Wilsen saat mempromosikan "Gadis Kretek" di Busan International Film Festival 2023. Pada 2024, ia kembali hadir dalam karya Wilsen sebagai model penutup presentasinya.

 

Pesan tentang Kebaya

Wilsen Willim X ASTHA District 8 mempersembahkan pameran "Heritage Reimagined" yang berlangsung pada 6–30 Agustus 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Kedekatan itu kemudian menemukan bentuk baru melalui koleksi bersama. Dian tidak hanya menjadi wajah kolaborasi, tapi turut menuangkan gagasan dan melakukan kurasi terhadap rancangan bersama tim Wilsen. Peran tersebut membuat proses kreatif berjalan sebagai percakapan antara dua orang yang sama-sama memiliki perhatian pada budaya Indonesia.

"Saya ingin kebaya bisa menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia, dengan gaya yang lebih kasual, material yang sejuk, namun tetap menjaga nilai dan identitas budayanya," ujar Dian saat private viewing luncheon di Plataran Dharmawangsa pada 29 Juli 2026.

Bagian pertama koleksi Wilsen Willim x Dian Sastrowardoyo kini dapat ditemukan selama pameran berlangsung. Bagian kedua dijadwalkan hadir pada Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2026.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya