Melihat Mural Interconnected Existence, Simbol Keseimbangan dan Krisis Iklim

Tiga seniman asal Austria, Indonesia, dan Ukraina berkolaborasi melukis mural dan diberi judul Interconnected Existence.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 31 Juli 2026, 21:30 WIB
Mural Kolaborasi Seniman Austria, Indonesia dan Ukraina Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Liputan6.com, Jakarta - Kedutaan Austria dan Ukraina di Indonesia bersama dengan Dewan Kesenian Jakarta menggelar pembukaan tirai mahakarya mural hasil kolaborasi antara seniman dari Indonesia, Ukraina, dan Austria. Pembukaan tirai mural dihadiri oleh ketiga seniman di balik karya tersebut yaitu Manuel Skirl dari Austria, Muna Diannur dari Indonesia, dan Vitalii Dilkone asal Ukraina.

Seni mural berjudul Interconnected Existence atau keberadaan yang terkait ini mengusung tema Ecological Interdependence, atau Ketergantungan Ekologis. Ini berartikan bahwa kesadaran akan perkembangan di suatu bagian dunia akan berdampak pada bagian lain dan pada akhirnya masa depan bergantung pada kemampuan kita untuk bertindak bersama.

Seniman Manuel Skirl, Muna Diannur dan Vitalii Dilkone Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Ketiga seniman tersebut berbagi ceritanya tentang proses di balik mahakarya tersebut. Mereka mengungkapkan bahwa pada awalnya komunikasi mereka hanya bertukar pesan lewat WhatsApp sampai akhirnya mereka bertemu. Manuel memberikan kesannya saat mereka harus merubah sesuatu, komunikasi mereka sangat bagus.

“Sebelumnya kami hanya berhubungan lewat WhatsApp, dan sebagian besar waktu kami gunakan untuk mencurahkan ide apa yang ingin kami bawakan di mural ini. Jika kami merasa ada yang kurang disukai dari sketsa, kami akan bicarakan hal tersebut dengan penuh rasa hormat,” jelas Manuel di Taman Islmail Marzuki Kamis (30/7/2026).

Ia memberikan contoh kaligrafi Arab yang dibuat oleh Muna. Mulanya, ia tidak terbayang hasil akhirnya seperti apa. Tapi setelah mereka mulai mengerjakannya dan melihat hasilnya, ia baru mengerti. Manuel berkata mereka pengertian untuk satu sama lain adalah kunci yang merekatkan mereka.

 

Makna dari Lukisan Mural

Kiri Atas Mural Kolaborasi Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Vitalii menjelaskan bahwa mereka ingin membuat sistem yang setara untuk ketiga negara ini. “Karena itu, kami membentuk mural ini bagaikan suatu konstruksi yang rapuh. Jika ada salah satu bagian yang jatuh, semuanya akan runtuh,” tuturnya. Menurutnya, bagi mereka hal itu adalah gambaran konkret dari gagasan tentang sistem keberadaan bersama.

Bagian dari mural yang berbentuk gletser yang memiliki bagian es kecil mencair adalah akibat dari sinar matahari. “Hal ini juga menunjukkan perubahan iklim global, dan ini bukan hanya masalah satu negara tapi masalah semua orang,” imbuhnya.

Dalam muralnya, Muna membubuhkan kaligrafi Arab yang berbentuk seperti ombak. “Tulisan Arab itu Al-Mizan, artinya keseimbangan,” ujar Muna. Ia menjelaskan bahwa anak kecil di bagian kanan bawah mural tersebut adalah anaknya dan merepresentasikan orang-orang yang sedang bertahan.

“Kostumnya bukan sekedar atribut, tapi juga jubah pelindung (hoodie kuning), makanya ia mengenakan yang unik-unik seperti celana jeans,” jelasnya. Dalam lukisan tersebut juga terdapat karakter bulat-bulat gemas yang Muna katakan sebagai representasi emosi manusia. Ada marah, senang, dan sedih.

Muna juga menjelaskan tentang representasi dari ketiga seniman tersebut di luar gaya gambar mereka. “Kami masing-masing memberikan rumah adat. Saya menambahkan rumah adat Aceh di bagian atas kanan karena saya dari Aceh, di tengah ada rumah khas Ukraina oleh Vitalii, dan yang kiri atas itu rumah khas Austria oleh Manuel.”

Manuel menambahkan waha mereka berusaha untuk bisa merepresentasikan secara visual keanekaragaman kita dan gambaran tentang kerapuhan planet kita yang harus kita jaga dan cintai sepenuh hati.

 

Pentingnya Seni untuk Melihat Perubahan Global

Bagian Tengah Mural Kolaborasi Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Bagian Kanan Atas Mural Kolaborasi Kamis (30/7/2026) (Dok: Liputan6/Nasywa Fakhirah)

Menurut Manuel, melukis, bernyanyi atau berdansa bersama mengajarkan kita tentang hidup bersama, menghormati satu sama lain dan melihat kekuatan masing-masing. “Pada akhirnya, ini menggambarkan kehidupan dan kehidupan bersama itu sendiri. Menurutku inilah bentuknya yang paling murni dan apa yang seharusnya dilakukan seluruh dunia bersama-sama.”

Vitalii juga menambahkan bahwa kita sebaiknya tidak memikul tanggung jawab yang besar atas karya tersebut. “Ini adalah cara yang bagus untuk memulai diskusi, mencari solusi, dan menjadikannya wadah dialog. Pertukaran budaya ini mengajarkan saya banyak hal.”

Sebagai penutup Muna berkata seni itu bisa menghubungkan orang-orang dan tempat untuk menyuarakan apapun yang diinginkan. “Tidak semua orang bisa menyuarakan apa yang dirasa secara verbal. Media seni ini bisa menjadi tempat untuk menyampaikan suara hati. Kita bisa berkreasi apapun.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya