Airlangga: 70% Perusahaan Asing Untung Berinvestasi di Indonesia

Pemerintah mengajak pelaku usaha China memperluas investasi di Indonesia setelah JETRO mencatat 70% perusahaan asing memperoleh keuntungan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 24 Juli 2026, 14:46 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Kunjungan Kehormatan Delegasi Bisnis RRT serta Dubes RI Untuk RRT. (Dok Kemenko Perekonomian)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan mayoritas perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia memperoleh keuntungan. Pernyataan itu disampaikan berdasarkan hasil survei Japan External Trade Organization (JETRO) yang menunjukkan prospek investasi di Indonesia masih sangat menjanjikan.

Hal tersebut disampaikan Airlangga saat menerima Kunjungan Kehormatan Delegasi Bisnis China bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk China. Dalam kesempatan itu, pemerintah kembali mengajak pelaku usaha Negeri Tirai Bambu untuk memperluas investasi, khususnya di sektor-sektor yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

"Laporan dari perusahaan agensi Jepang, JETRO, menyampaikan bahwa perusahaan asing yang investasi di Indonesia potensi mengalami atau mendapat keuntungan besarnya 70 persen. Jadi lebih banyak untung daripada yang tidak untung," jelas Airlangga dikutip dari laman Kemenko Perekonomian, Jumat (24/7/2026).

Menurut Airlangga, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui berbagai kebijakan, termasuk penyediaan insentif fiskal yang kompetitif bagi investor. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan arus investasi sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tengah persaingan global.

Hubungan ekonomi Indonesia dan China sendiri terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Kerja sama kedua negara tidak hanya mencakup perdagangan dan investasi, tetapi juga industri, ekonomi digital, teknologi, hingga pendidikan.

 

Nilai Perdagangan Indonesia-China US$ 154 Miliar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Kunjungan Kehormatan Delegasi Bisnis RRT serta Dubes RI Untuk RRT. (Dok Kemenko Perekonomian)

Airlangga menjelaskan, Indonesia dan China telah memiliki sejumlah perjanjian perdagangan yang menjadi fondasi hubungan ekonomi kedua negara, seperti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) yang berlaku sejak 2010 dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang efektif diterapkan pada 2022.

Nilai perdagangan bilateral juga terus meningkat. Berdasarkan data Indonesia, nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar US$ 154 miliar, sedangkan berdasarkan data China nilainya sekitar US$ 160 miliar. Sejumlah komoditas utama ekspor Indonesia ke China meliputi ferroalloy, nikel matte, lignit, batu bara, hingga minyak sawit.

Selain menjadi mitra dagang utama, China juga merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia. Untuk mendorong realisasi investasi yang lebih besar, pemerintah menawarkan berbagai insentif seperti tax holiday hingga 100%, tax allowance, investment allowance, serta super tax deduction bagi sektor-sektor tertentu.

"Kita terbuka untuk bekerja sama dengan partner global termasuk China, baik itu untuk trade investment maupun di sektor jasa maupun di sektor pendidikan. Dan saya mengundang bisnis pemusaha dari China untuk melanjutkan investasi di Indonesia terutama terhadap sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi," pungkas Airlangga.

 

Perluas Investasi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Kunjungan Kehormatan Delegasi Bisnis RRT serta Dubes RI Untuk RRT. (Dok Kemenko Perekonomian)

Pemerintah juga terus memperluas kerja sama Indonesia dan China di berbagai sektor strategis. Di bidang pendidikan, kolaborasi telah dilakukan dengan Tsinghua University melalui kegiatan riset dan seminar yang digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bali.

Sementara di sektor otomotif, pemerintah mendorong penguatan investasi produsen kendaraan listrik asal China, seperti BYD dan Chery, yang kini telah masuk dalam jajaran lima besar pangsa pasar otomotif di Indonesia.

Di sektor ekonomi digital, pemerintah juga membuka peluang investasi pada industri semikonduktor, pembangunan jaringan serat optik, pengembangan aplikasi digital, hingga pembangunan pusat data (data center) sebagai bagian dari percepatan transformasi ekonomi digital nasional.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan hubungan ekonomi Indonesia dan China diproyeksikan akan terus berkembang seiring semakin luasnya ruang kerja sama di berbagai sektor.

"Hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok ini terus menunjukkan perkembangan yang semakin kuat dan komprehensif. Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka peluang dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga pada sektor-sektor strategis seperti industri, pendidikan, ekonomi digital, dan teknologi," ujar Haryo Limanseto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya