Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Rabu, (22/7/2026). Analis menilai sikap wait and see pelaku pasar menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) untuk memutuskan BI Rate atau suku bunga acuan mempengaruhi rupiah.
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 42 poin atau 0,13% menjadi 17.930 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.888 per dolar AS.
Advertisement
"Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran 17.850-17.975 per dolar AS seiring pelaku pasar menantikan hasil keputusan kebijakan moneter tersebut,” ujar Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardeda dikutip dari Antara.
Kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2026 menjadi penyesuaian pertama setelah bunga acuan berada pada level 4,75% sejak September 2025. Namun, rupiah masih terus melemah hingga sempat menembus level 18 ribu per dolar AS pada awal Juni.
Melalui RDG BI Mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps. Sejak keputusan tersebut, rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level 18 ribu per dolar AS.
Pada RDG Bulanan 18 Juni 2026, BI juga melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dengan kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Selanjutnya, BI dijadwalkan kembali menggelar RDG Bulanan pada 21-22 Juli 2026.
"Kami memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen,” ujar dia.
Sentimen lain berasal dari ketegangan geopolitik yang sempat menunjukkan tanda-tanda mereda setelah sejumlah negara mediator mengusulkan gencatan senjata. Sejumlah negara mediator mengusulkan gencatan senjata sementara, sementara AS menyatakan kesediaan untuk mempertimbangkan usulan tersebut, sehingga meningkatkan harapan akan de-eskalasi konflik
Namun, perbaikan sentimen tersebut hanya berlangsung sementara mengingat ketegangan kembali meningkat menyusul ancaman kelompok Houthi di Yaman memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
“Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, sehingga mendorong harga minyak mentah Brent naik 2,01 persen menjadi 91,01 dolar AS per barel,” ujar Josua.
Rupiah Hari Ini Melambung ke 17.888 per Dolar AS, Analis Ungkap Pemicunya
Sebelumnya, nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa sore, (21/7/2026). Penguatan rupiah terhadap dolar AS itu seiring meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia seiring defisit yang terkendali.
Mengutip Antara, kurs rupiah naik 60 poin atau 0,33% menjadi 17.888 per dolar AS dari sebelumnya 17.948 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat di level Rp 17.909 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.976 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
"Rupiah ditutup menguat cukup besar terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah melaporkan defisit APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) sebesar 0,76 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) hingga Juni serta mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah batas 3 persen dari PDB,” ujar dia.
Kinerja APBN
Tercatat, pendapatan negara terhimpun sebesar Rp 1.459,4 triliun atau 46,3% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun.
Kinerja pendapatan negara ditopang oleh peningkatan aktivitas ekonomi, pengawasan dan tata kelola pajak dan bea cukai, serta peningkatan layanan kementerian/lembaga (K/L) dan badan layanan umum (BLU).
Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp 1.187,8 triliun atau 44,1% dari target Rp 2.693,7 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak terkumpul sebesar Rp 1.035,7 triliun (43,9 % dari target Rp 2.357,7 triliun) serta kepabeanan dan cukai Rp 152 triliun (45,2% dari target Rp 336 triliun).
Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 271 triliun atau 59% dari target Rp 459,2 triliun.
Di sisi lain, belanja negara terealisasi sebesar Rp 1.656 triliun atau 43,1% dari target Rp 3.842,7 triliun, tumbuh sebesar 17,8% (yoy).