4 Perusahaan Antre IPO, Sektor Saham Ini Mendominasi

BEI telah memproses IPO tujuh perusahaan dengan dana dihimpun Rp 2,16 triliun hingga 17 Juli 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 Juli 2026, 20:23 WIB
Papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat empat perusahaan masih dalam proses penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Dari empat perusahaan itu, sektor saham perawatan kesehatan mendominasi.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin menuturkan, hingga 17 Juli 2026 telah tercatat tujuh perusahaan yang mencatatkan saham di BEI. Dana dihimpun dari BEI mencapai Rp 2,16 triliun.

"Hingga saat ini, terdapat empat perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Saidu, Jumat (17/7/2026).

Berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/pojk.04/2017 antara lain dua perusahaan aset skala kecil atau aset di bawah Rp 50 miliar. Kemudian dua perusahaan aset skala besar atau aset di atas Rp 250 miliar.

Sedangkan dilihat dari sektornya, masing-masing satu perusahaan dari sektor basic materials dan consumer nonsiklikal. Kemudian dua perusahaan dari perusahaan perawatan kesehatan.

Selain itu, BEI juga mencatat 114 emisi dari 62 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) hingga saat ini. Dana dihimpun Rp 103,86 triliun.

"Sampai dengan 17 Juli 2026 terdapat 11 emisi dari 9 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” ujar Saidu.

Sektor penerbit EBUS itu antara lain masing-masing satu perusahaan dari sektor basic materials dan sektor consumer nonsiklikal, lima perusahaan dari sektor energi. Kemudian masing-masing dua perusahaan dari sektor keuangan dan infrastruktur.

BEI juga mencatat hingga 17 Juli 2026, terdapat 15 perusahaan tercatat atau emiten yang telah menerbitkan rights issue. Total nilai rights issue Rp 10,69 triliun. Saidu mengatakan, masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue di BEI dari sektor properti.

BEI: BSA Jadi Emiten Perdana yang IPO pada 2026

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya, di tengah dinamika dan ketidakpastian pasar modal yang sempat diwarnai gonjang-ganjing, PT BSA Logistik Indonesia Tbk (WBSA) justru membuka tahun 2026 dengan langkah berani. Perseroan resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia sebagai emiten pertama tahun ini.

“Saya mengucapkan selamat atas pencatatan perdana saham PT BSA Logistik Indonesia TBK yang resmi. Ini menarik nih, menjadi perusahaan pencatatan yang pertama di 2026,” kata Direktur PT Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna, dalam Pencatatan Perdana Saham PT BSA Logistik Indonesia Tbk, di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Menurutnya, momentum ini menjadi sinyal penting bahwa minat perusahaan untuk melantai di bursa tetap terjaga, sekaligus menunjukkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia di tengah kondisi yang fluktuatif.

 

Keandalan Jaringan Distribusi

Layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nyoman mengatakan pencatatan perdana ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi awal perjalanan BSA Logistik di arena publik dengan berbagai tuntutan dari regulator dan investor.

“Hari ini kita menjadi saksi PT BSA Logistik Indonesia TBK memulai perjalanannya memasuki apa yang kita maksudkan sebagai public arena, arena publik dengan multiple stakeholder,” ujarnya.

Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor logistik, BSA Logistik menghadapi tantangan bisnis yang sangat operasional, sensitif terhadap waktu, dan bergantung pada kualitas layanan.

BEI menilai, keandalan jaringan distribusi, efisiensi operasional, serta ketepatan waktu pengiriman menjadi faktor krusial yang harus dijaga. Keterlambatan dalam pengiriman tidak hanya berdampak pada biaya, tetapi juga dapat menggerus kepercayaan pelanggan.

“Oleh karena itu, perseroan diharapkan menjaga keandalan jaringan distribusi, mengoptimalkan efisiensi perusahaan, dan memastikan on-time delivery dan kualitas layanan,” ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya