Kondisi Terkini SDN Srengseng Sawah Usai Ancaman Bom

Personel Densus 88 Antiteror dan Tim Gegana masih melakukan pengamanan.

oleh Tim NewsDiterbitkan 13 Juli 2026, 13:47 WIB
Kendaraan teknis penjinak bom dan mobil Inafis Polres Metro Jakarta Selatan masih terparkir di halaman SDN 15 Srengseng Sawah usai adanya ancaman bom. (Foto: Merdeka.com/Nur Habibie).

Liputan6.com, Jakarta - Personel Densus 88 Antiteror Polri dan Tim Gegana masih berjaga di SDN 15 Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, usai sekolah tersebut menerima ancaman bom sejak pagi.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Senin (13/7/2026), kendaraan teknis penjinak bom dan mobil Inafis Polres Metro Jakarta Selatan masih terparkir di halaman SDN 15 Srengseng Sawah.

Meski demikian, sejauh ini polisi masih belum menemukan barang mencurigakan sejak tiba di SDN 15 Srengseng Sawah.

"Untuk sementara ini, dari untuk dari sementara ini belum ada, belum ada. Namun demikian, dari Gegana masih bekerja," kata Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi kepada wartawan.

"Kita tunggu saja untuk selanjutnya, ya. Mudah-mudahan kita berdoa tidak ada hal yang tidak diinginkan," sambungnya.

 

Polisi Kantongi Identitas Peneror

Sebelumnya, polisi telah mengantongi identitas pelaku teror di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 15 Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Pelaku mengirim pesan ancaman bom kepada guru sekolah tersebut pada Senin (13/7/2026) pagi.

"Dari identitasnya kita sudah kantongi, ya," kata Kapolsek Jagakarsa, Kompol Nurma Dewi kepada wartawan, Senin siang.

Dalam pesan yang dikirim melalui WhatsApp, pelaku menyebut telah menyiapkan 11 titik untuk dibom. Pelaku bahkan menyebut bom bisa meledak dalam waktu 10 menit.

"Jadi untuk terornya sendiri isinya yang jelas dia meneror, ya," ucap Nurma.

Nurma menjelaskan, laporan mengenai ancaman tersebut diterima sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu pihak sekolah tengah menggelar upacara pembukaan MPLS sehingga pesan yang masuk melalui WhatsApp baru diketahui setelah upacara selesai.

“Laporannya setengah delapan, tapi memang di WA itu orang lagi pada upacara. Sudah upacara baru lihat WA-nya, kita langsung datang, semuanya, camat dan lurah,” ujarnya.

Menurut dia, pesan ancaman itu dikirim secara pribadi melalui WhatsApp kepada guru kelas satu dan petugas tata usaha (TU) sekolah.

“Itu di-WA, dijapri guru kelas satu sama TU,” ucapnya.

 

 

Reporter: Nur Habibie

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya