Liputan6.com, Jakarta - Pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali menandai dimulainya fase implementasi sistem pengolahan sampah modern di Indonesia setelah melalui berbagai tahapan teknis, investasi, dan seleksi teknologi.
Menurut Chief Executive Officer (CEO) PT Daya Energi Bersih Nusantara (Danera) Fadli Rahman, pembangunan PSEL tidak hanya berfokus pada pembangkit listrik, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Advertisement
"Kami ingin memastikan sampah residu yang selama ini menjadi beban lingkungan dapat diolah secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat nyata melalui penyediaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," ujar Fadli di Jakarta, melansir Antara, Sabtu (11/7/2026).
Dia menjelaskan, fasilitas WtE akan dibangun di kawasan Pedungan, Denpasar Selatan, dengan kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari atau setara sekitar 500 truk pengangkut sampah per hari.
"Fasilitas itu ditargetkan rampung dan mulai beroperasi secara bertahap pada semester I-2028. Proses pengembangan proyek telah dimulai sejak terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 pada Oktober 2025," kata Fadli.
Teknologi yang Digunakan
Fadli menjelaskan, PSEL Bali menggunakan teknologi moving grate incinerator yang telah diterapkan pada sekitar 75-80 persen fasilitas WtE di dunia.
"Teknologi tersebut mengacu pada standar emisi European Industrial Emissions Directive (EU IED) yang lebih ketat dibandingkan insinerator generasi lama," ucap dia.
Menurut Fadli, dalam prosesnya, sampah campuran akan dikeringkan selama lima hingga tujuh hari untuk menurunkan kadar air, kemudian dibakar pada suhu di atas 850 derajat Celsius guna mengurai senyawa berbahaya.
"Panas hasil pembakaran menghasilkan uap bertekanan tinggi yang menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik yang disalurkan ke jaringan PLN. Residu dari proses tersebut juga dimanfaatkan kembali," kata dia.
"Air lindi diolah menjadi air bersih, sedangkan bottom ash dimanfaatkan sebagai bahan baku batako dan material konstruksi. Dengan teknologi tersebut, emisi per ton sampah diklaim dapat ditekan hingga 80 persen dibandingkan sampah yang ditumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA)," sambung Fadli.
Mampu Kurangi Risiko Kesehatan
Menurut Fadli, selain mengurangi beban lingkungan, PSEL Bali diproyeksikan mampu mengolah sekitar 44 persen dari total timbulan sampah di Pulau Bali serta mengurangi risiko kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar TPA.
"Proyek tersebut juga diperkirakan membuka hingga 1.200 lapangan kerja hijau dengan mengutamakan tenaga kerja lokal. Sementara dari sisi energi, fasilitas itu ditargetkan menghasilkan listrik yang setara dengan kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga setiap tahun," papar dia.
Fadli menjelaskan, listrik yang dihasilkan akan diserap oleh PLN melalui Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang dengan tarif mengacu pada Perpres Nomor 109 Tahun 2025 sebesar 0,20 dolar Amerika Serikat (AS) per kilowatt-jam (kWh).
"Skema diharapkan meningkatkan kelayakan pembiayaan proyek sehingga lebih menarik bagi investor. Lebih lanjut, pembangunan PSEL juga melibatkan mitra teknologi internasional yang dipilih melalui proses seleksi teknologi," jelas Fadli.
Adapun sebelumnya, pemerintah meresmikan pembangunan fasilitas WtE tahap pertama di Bali pada awal pekan ini. Peresmian tersebut sekaligus menandai dimulainya pengembangan proyek PSEL di tiga wilayah, yakni Denpasar Raya, Kota Bekasi, dan Kota Bogor.
Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional berdasarkan Perpres Nomor 109 Tahun 2025 dan berada di bawah koordinasi PT Daya Energi Bersih Nusantara (Danera) yang dibentuk oleh Danantara Indonesia.
Bali menjadi lokasi pertama yang memulai pembangunan fisik dengan nilai investasi sekitar Rp 3 triliun atau setara 170,4 juta dolar AS. Pulau tersebut dipilih karena menghadapi persoalan sampah yang semakin mendesak seiring terbatasnya kapasitas tempat pemrosesan akhir.