Perjalanan Ayatullah Ali Khamenei Berakhir di Mashhad

Pemakaman Ali Khamenei berlangsung di tengah berlanjutnya saling serang antara AS dan Iran pada hari kedua.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 09 Juli 2026, 19:27 WIB
Para pelayat berkumpul di jalan menjelang pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang tewas, bersama sejumlah anggota keluarganya, di kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, Iran, pada 9 Juli 2026. (Dok. Atta Kenare/AFP)

Liputan6.com, Teheran - Kerumunan besar memadati kota suci Mashhad, Iran timur, saat negara itu bersiap memakamkan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.

Pemakaman Khamenei di kota kelahirannya pada Kamis (9/7/2026) digelar setelah sepekan rangkaian prosesi besar, unjuk rasa, dan upacara berkabung di berbagai wilayah Iran, termasuk satu hari khusus untuk negara tetangga, Irak.

Khamenei, gugur bersama empat anggota keluarga dekatnya dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menghantam kompleks kediaman resminya di Teheran pada 28 Februari. Insiden fatal ini menjadi penanda hari pertama pecahnya perang terbuka di kawasan tersebut.

Rekaman yang dibagikan kantor berita resmi Iran, IRNA, menunjukkan jenazah Khamenei tiba di Bandara Internasional Mashhad pada Kamis, setelah sebelumnya diarak dalam prosesi besar-besaran di kota suci Najaf dan Karbala, Irak.

Mengutip publikasi dari media Iran (ISNA), militer Iran mengerahkan armada jet tempurnya untuk mengamankan ruang udara di atas kota suci wilayah timur laut tersebut. Setidaknya dua jet tempur jenis MiG-29 dilaporkan terbang rendah mengitari jalur rute udara di sekitar kompleks Makam Imam Reza untuk memastikan keamanan penuh.

Kelompok paramiliter Irak, Popular Mobilisation Forces (PMF) atau Hashd al-Shaabi, mengatakan pada Rabu (8/7) bahwa lebih dari 2,3 juta orang mengikuti prosesi pemakaman Khamenei di Najaf saja.

Sebelum diterbangkan ke Irak, kelima peti jenazah—termasuk milik empat anggota keluarga dekat Khamenei yang ikut gugur bersamanya—terlebih dahulu diarak berdampingan dalam satu prosesi akbar melewati Teheran dan Qom, pusat keagamaan syiah di Iran.

Kantor berita Tasnim dan stasiun televisi Press TV melaporkan jutaan pelayat menghadiri prosesi pemakaman di Teheran. Para pejabat Iran menyebut prosesi itu sebagai "pertemuan publik terbesar dalam sejarah modern negara tersebut".

Di Mashhad, massa mulai bergerak sejak Kamis pagi. Mereka mengibarkan bendera Iran, membawa foto Khamenei, serta mengangkat plakat berisi slogan-slogan revolusioner.

Para pelayat juga meneriakkan slogan yang menuntut pembalasan terhadap Presiden AS Donald Trump atas perannya dalam pembunuhan itu.

"Saya bersumpah demi darah pemimpin tertinggi, Trump, kami akan membunuhmu," teriak mereka.

Sejumlah perempuan juga terlihat mengangkat plakat bertuliskan "Bunuh Trump".

Pemimpin tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, tampak tidak hadir dalam rangkaian prosesi tersebut. Ia belum muncul di depan publik sejak mengambil alih jabatan beberapa hari setelah ayahnya dibunuh.

Para pejabat mengatakan Mojtaba terluka dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya. Namun, seberapa parah luka yang dialaminya masih belum jelas.

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa upacara pemakaman Khamenei di Mashhad diundur menjadi pukul 14.30 waktu setempat atau 18.00 WIB. Penundaan itu terjadi karena jumlah massa yang lebih besar dari perkiraan memperlambat prosesi pemakaman di Irak.

Melaporkan dari Teheran, jurnalis Al Jazeera mengatakan para pejabat Iran telah mengonfirmasi bahwa serangan AS pada malam sebelumnya terhadap jalur kereta Teheran-Mashhad tidak menunda upacara pemakaman, meski jalur tersebut kini tidak dapat beroperasi.

Mohammad Mohammadi Golpayegani, yang memimpin kantor Khamenei semasa hidupnya, mengatakan Khamenei telah berwasiat agar dimakamkan di Mashhad, dekat makam Imam Reza, keturunan langsung Nabi Muhammad.

Dengan dimakamkannya Khamenei di Mashhad, kota ini secara historis resmi menutup siklus hidup sang pemimpin tertinggi: tempat di mana ia dilahirkan, dibesarkan, dan akhirnya beristirahat untuk selamanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya