Liputan6.com, Jakarta - Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) TNI Angkatan Darat buka suara terkait insiden ledakan mortir yang menewaskan tiga pemulung. TNI memastikan peluru mortir 81 komando tidak meledak di area latihan prajurit.
"Itu terjadi di Kampung Ciparang, bukan di Pusdikif. Di rumah penduduk, bukan di tempatnya Pusdikif. Di rumah penduduk," kata Komandan Pusat Pendidikan Infanteri, Brigadir Jenderal Zaipul Rahman, kepada wartawan, Kamis (9/7/2026).
Advertisement
Zaipul menyebut area latihan tidak hanya dipakai oleh para prajurit tapi juga unsur lembaga lainnya. Menurut dia, tiap latihan digelar sesuai ketentuan yang berlaku.
Biasanya, petugas akan memberi tanda berupa sirine agar masyarakat setempat tak masuk ke area latihan serta berkoordinasi dengan unsur pemerintahan terkait hingga di tingkat RT.
"Memberikan sirene selama lima kali supaya masyarakat tidak masuk daerah latihan," tegas dia.
"Terus mendatangi RT RW supaya masyarakat di sekitar tempat latihan Cipatat itu tidak masuk ke daerah latihan," lanjut dia.
Selanjutnya, setelah latihan rampung, prajurit akan melakukan penyisiran untuk mengecek kembali amunisi yang meledak dan tidak. Amunisi yang tak meledak akan dilakukan disposal.
"Kita berikan tulisan dilarang masuk daerah latihan, dilarang keras. Kita kasih plang semua itu, plang-plang pengamanan. Kemudian sebelum latihan penembakan, kita kasih sirene selama lima kali. Sudah kita laksanakan itu SOP-nya," kata dia.
Sebelumnya, tiga pemulung yakni Ade (21), Suhri (40), dan Rodiana (40) meninggal dunia akibat ledakan tersebut.
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, para korban memang sering memunguti peluru bekas latihan prajurit Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) meski sudah dilarang.
Reporter: Merdeka.com/Azzura Galaxia