Perusahaan Tambang Enggan Pakai B50, Bahlil Bakal Lakukan Hal Ini

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan supaya perusahaan-perusahaan termasuk tambang memakai produk dalam negeri termasuk B50.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 09 Juli 2026, 17:49 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat Peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi peringatan tegas kepada perusahaan-perusahaan tambang agar mendukung penggunaan biodiesel B50. Bahkan, ia mengaku siap meninjau kembali Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan yang tidak mau menggunakan bahan bakar tersebut.

Dia menuturkan, seluruh pelaku usaha harus ikut menyukseskan program strategis pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional melalui penggunaan produk dalam negeri.

"Saya sudah bilang kalau kalian (pengusaha) enggakpakai B50 RKAB-nya saya tinjau. Jadi, supaya tidak ada alasan-alasan. Jadi harus kita pakai produk dalam negeri. Jangan asing-asing terus. Jadi mereka sudah komit Bapak Presiden," kata Bahlil saat Peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).

Ia menegaskan, penggunaan B50 merupakan bentuk keberpihakan terhadap produk nasional sekaligus upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Awalnya Pengusaha Keberatan karena Harga Bahlil mengungkapkan pada tahap awal implementasi, tidak semua pelaku usaha antusias menggunakan B50. Sejumlah perusahaan, khususnya di sektor pertambangan, sempat menolak karena menganggap harga biodiesel tersebut lebih mahal dibandingkan bahan bakar yang biasa digunakan. 

Namun, setelah dilakukan berbagai pembahasan dan sosialisasi, menurut Bahlil, perusahaan-perusahaan besar akhirnya menyatakan komitmennya untuk menggunakan B50. Ia mengatakan dukungan dunia usaha menjadi faktor penting agar implementasi B50 dapat berjalan optimal di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, industri, transportasi, hingga pelayaran.

"Awalnya pengusaha-pengusaha ini pemakai-pemakai ini gak mau pakai karena harganya katanya mahal. Sekarang kita sudah bicara pengusaha-pengusaha tertentu di pertambangan," ujarnya.

B50 Diklaim Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat Peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Bahlil menilai penggunaan B50 bukan hanya berdampak terhadap sektor energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang luas. Implementasi B50 disebut mampu menghapus impor solar yang sebelumnya mencapai sekitar 3-4 juta kiloliter per tahun.

Selain itu, program tersebut diperkirakan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun, meningkatkan kebutuhan crude palm oil (CPO) dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, serta menekan emisi gas rumah kaca.

"Penyelamatan devisa kurang lebih sekitar Rp 133 triliun, Bapak Presiden dari program B40. Nah, dengan implementasi B50 itu ternyata Bapak Presiden Rp 170 triliun. Jadi, dari B40 ke B50 kita bisa menahan devisa kita Rp 170 triliun. Jadi, ini semakin impor kita berkurang," pungkasnya.

 

Prabowo Dijadwalkan Luncurkan BBM B50 Hari Ini

Presiden Prabowo Subianto saat Peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) baru jenis B50 pada hari ini, Kamis (9/7/2026). Momentum ini menjadi tonggak sejarah baru dalam proses transisi energi bersih di tanah air.

Kepala Negara disebut akan meresmikan peluncuran BBM B50 tersebut di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat.

B50 merupakan produk biosolar dengan peningkatan kandungan minyak sawit yang dicampur menggunakan perbandingan 50:50 dengan solar murni. Melalui inovasi ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor solar diharapkan bisa ditekan secara signifikan.

Saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan di Kabupaten Gorontalo bulan lalu, Prabowo menegaskan bahwa B50 menjadi pilar penting menuju swasembada energi nasional.

Dengan memanfaatkan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku utama biodiesel, Indonesia ditargetkan mampu memutus rantai ketergantungan pasokan solar dari luar negeri.

"Bulan Juli ini, berapa hari lagi kita akan launching B50. B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, saudara-saudara sekalian," ujar Prabowo.

Penggunaan B50 diproyeksikan memberikan penghematan devisa yang masif sekaligus memperkuat fondasi kemandirian energi nasional.

"Dan kita akan menghemat banyak sekali. Saya perkirakan tiga tahun lagi, maksimal empat tahun lagi kita akan swasembada energi. Kita tidak mau impor apa pun untuk BBM kita, untuk energi kita, saudara-saudara sekalian," ia menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya