Studi Ungkap Baterai Mobil Listrik Ternyata Lebih Tahan Lama

Banyak calon pembeli mobil listrik masih dihantui kekhawatiran soal umur baterai. Tak sedikit yang menganggap komponen paling mahal di kendaraan listrik itu

oleh Arief AszhariDiterbitkan 09 Juli 2026, 16:07 WIB
Ilustrasi mobil listrik BYD tengah melakukan pengisian daya baterai.

Liputan6.com, Jakarta - Banyak calon pembeli mobil listrik masih dihantui kekhawatiran soal umur baterai. Tak sedikit yang menganggap komponen paling mahal di kendaraan listrik itu, akan cepat mengalami penurunan performa dan membutuhkan biaya penggantian yang sangat besar. Namun, temuan terbaru justru mematahkan anggapan tersebut.

Sejumlah riset menunjukkan baterai mobil listrik modern memiliki daya tahan yang jauh lebih lama dari perkiraan industri.

Laporan yang dikutip Digital Trends dari The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa baterai mobil listrik modern memiliki daya tahan jauh lebih baik dibandingkan perkiraan industri sebelumnya.

Sejumlah kendaraan bahkan masih mampu mempertahankan sebagian besar jarak tempuhnya meski telah digunakan hingga ratusan ribu mil. Temuan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik.

Salah satu contohnya datang dari Richard Symons, seorang dealer mobil listrik bekas asal Inggris. Tesla Model 3 miliknya yang telah berusia lima tahun sudah menempuh perjalanan sejauh 397.000 kilometer.

Meski demikian, mobil tersebut masih sanggup digunakan untuk perjalanan jarak jauh dengan baik. Kondisi itu sejalan dengan temuan para peneliti dan analis industri yang melihat laju penurunan kapasitas baterai pada generasi terbaru berlangsung jauh lebih lambat daripada perkiraan sebelumnya.

Perusahaan analitik baterai Recurrent memperkirakan rata-rata mobil listrik masih mampu mempertahankan hingga 95 persen jarak tempuh awalnya setelah lima tahun pemakaian.

Peningkatan ini didukung oleh perkembangan teknologi kimia baterai, sistem manajemen suhu yang lebih baik, serta perangkat lunak pengelola baterai yang semakin canggih untuk menjaga kesehatan sel dalam jangka panjang.

Data Recurrent juga menunjukkan bahwa sekitar satu dari 12 mobil listrik produksi 2011 hingga 2016 memerlukan penggantian baterai. Sebaliknya, pada kendaraan yang diproduksi mulai 2022, angkanya turun drastis menjadi hanya sekitar 0,3 persen.

Persepsi Konsumen Belum Berubah

Meski demikian, persepsi konsumen belum sepenuhnya berubah. Survei AutoPacific pada 2025 menunjukkan kekhawatiran terhadap mahalnya biaya penggantian baterai masih menjadi alasan utama banyak calon pembeli menunda beralih ke mobil listrik.

Jessica Caldwell, Head of Insights Edmunds, mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa banyak konsumen masih memandang baterai kendaraan listrik dengan keraguan meskipun data keandalannya terus membaik.

Di sisi lain, baterai mobil listrik tetap tidak sepenuhnya kebal terhadap penurunan performa. Laporan tersebut menyebut penggunaan pengisian daya cepat DC (DC fast charging) berdaya tinggi secara rutin dapat mempercepat degradasi baterai dibandingkan metode pengisian yang lebih lambat.

Berdasarkan data Geotab, baterai yang sering menerima pengisian cepat berdaya tinggi rata-rata masih memiliki kapasitas sekitar 89,7 persen setelah beberapa tahun, sedangkan kendaraan yang lebih jarang menggunakan fast charging mampu mempertahankan sekitar 94,9 persen kapasitas awalnya.

Kebiasaan mengisi daya hingga 100 persen secara terus-menerus, membiarkan baterai kosong terlalu lama, serta penggunaan di suhu ekstrem juga dapat memengaruhi kesehatan baterai dalam jangka panjang.

Selain itu, jika berbicara biaya penggantian baterai di luar masa garansi juga masih tergolong tinggi, berkisar antara US$ 5.000 hingga US$ 16.000 atau sekitar Rp 90 juta hingga Rp 288 juta.

Meski begitu, banyak produsen kini telah merancang paket baterai agar modul tertentu dapat diperbaiki tanpa harus mengganti seluruh unit, sehingga biaya perawatan bisa ditekan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya