Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (8/7/2026) mengatakan nota kesepahaman dengan Iran untuk mengakhiri konflik telah "berakhir". Ia juga menyatakan tidak ingin lagi berurusan dengan Iran dan menyebut para pemimpin Iran sebagai "orang-orang sakit".
Kesepakatan gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan tersebut semula dimaksudkan untuk membuka ruang perundingan selama 60 hari demi mencapai kesepakatan permanen. Namun, pembicaraan tidak langsung di Qatar pekan lalu berakhir tanpa tanda-tanda kemajuan.
Advertisement
"Saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka; mereka sampah," kata Trump dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, saat ditanya apakah gencatan senjata tersebut benar-benar telah karam seperti dilaporkan CNA.
"Mereka sampah, mereka orang-orang sakit yang dipimpin oleh orang-orang sakit. Mereka kejam dan brutal. Jika punya senjata nuklir, mereka pasti akan menggunakannya. Bagi saya, ini sudah berakhir," lanjutnya.
Trump menjelaskan bahwa ia akan tetap berbicara dengan pengusaha yang kini menjadi negosiator, Steve Witkoff, serta menantunya, Jared Kushner, yang selama ini menangani komunikasi dengan Teheran. Namun, ia menegaskan keputusan untuk kembali ke meja perundingan kini sepenuhnya berada di tangan Iran.
"Terus terang, saya tidak ingin membuang waktu dengan mereka. Saya membiarkan para negosiator hebat kami terus berbicara jika mereka mau, tetapi saya tidak melihat ada gunanya. Mereka pembohong," ujar Trump yang saat itu berbicara di samping Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte.
Trump menuduh Iran berulang kali menyampaikan keterangan yang menyimpang dari isi kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani kedua belah pihak pada 17 Juni lalu.
"Semua orang sudah sepakat: tidak ada senjata nuklir. Kami membuat kesepakatan. Tapi begitu keluar, mereka justru berseloroh di depan pers dan bilang kami tidak pernah membicarakan hal itu. Ada yang tidak beres dengan mereka; mereka gila," cetus Trump.
Sebelum pernyataan keras ini keluar, AS telah melancarkan serangan militer baru terhadap Iran dan mencabut lisensi perdagangan minyak Teheran, menyusul insiden ditembaknya tiga kapal tanker di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa lebih dari 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menjadi sasaran serangan. Langkah ini diklaim sebagai upaya memaksa Iran menanggung konsekuensi berat atas pelanggaran gencatan senjata di jalur pelayaran internasional.
Merespons hal itu, IRGC mengaku telah menargetkan sejumlah fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan. Sementara itu, Markas Pusat Khatam al-Anbiya selaku komando gabungan tertinggi militer Iran mengecam serangan AS sebagai "tindakan agresi terang-terangan" dan mengancam akan memberikan balasan yang menghancurkan.
Di sektor ekonomi, ketegangan ini langsung memicu pembatalan relaksasi sanksi. Padahal, Kementerian Keuangan AS baru saja menerbitkan lisensi umum pada 22 Juni yang mengizinkan Iran menjual minyak mentah dan petrokimia hingga 21 Agustus. Dengan dicabutnya lisensi tersebut pada Selasa kemarin, Washington kini hanya memberi waktu hingga 17 Juli bagi Iran untuk menghentikan seluruh transaksi (wind-down period).
Akibatnya, harga minyak dunia langsung melonjak lebih dari 5 persen. Minyak mentah acuan Brent naik 5,3 persen menjadi US$ 78,09 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 5,4 persen ke posisi US$ 74,23 per barel.
"Perkembangan terbaru ini secara efektif membuat masa depan proses negosiasi 60 hari menjadi tidak menentu," ungkap Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB.
Menurutnya, harga minyak yang mendekati US$ 80 per barel jauh lebih sesuai dengan fundamental pasar saat ini ketimbang bertahan di level US$ 70.