Indonesia Belajar Integrasi Ekosistem Olahraga dari Amerika Serikat

Komite Olimpiade Indonesia mempelajari transformasi integrasi ekosistem olahraga di beberapa kota besar di Amerika Serikat.

oleh ThomasDiterbitkan 08 Juli 2026, 07:51 WIB
NOC Indonesia saat berkunjung ke beberapa kota di Amerika Serikat

Liputan6.com, Jakarta - Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) memanfaatkan keikutsertaan dalam International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat sebagai momentum untuk mempelajari berbagai praktik terbaik dalam membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan. Penguatan pembinaan atlet sejak usia dini, tata kelola organisasi, pendanaan olahraga, sport marketing, hingga peran perguruan tinggi menjadi fokus utama yang dipelajari selama program berlangsung.

Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari menilai Amerika Serikat layak menjadi salah satu referensi dalam pengembangan olahraga nasional. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di dunia, Amerika Serikat mampu mempertahankan dominasinya di papan atas klasemen Olimpiade melalui sistem pembinaan yang terintegrasi.

“Indonesia bangsa besar dengan 280 juta penduduk dan merupakan negara dengan populasi terbesar keempat setelah AS. Kita punya potensi, dan melalui IVLP, kami dapat melihat bagaimana AS membangun jalur pembinaan atlet dari scouting, usia muda, remaja, hingga elite, yang ditopang oleh ekosistem olahraga dan industri yang sudah sangat berkembang dan kuat. Semua sektor, mulai dari kampus, pengelolaan organisasi, pendanaan, industri, sport marketing, anti-doping, sport science, hingga entrepreneurship menjadi pilar-pilar ekosistem olahraga AS,” kata Okto, sapaan Raja Sapta, Selasa (7/6).

Program IVLP diikuti Okto bersama sembilan delegasi NOC Indonesia, yakni Bendahara Tommy Hermawan Lo, anggota Komite Eksekutif Josephine Tampubolon, Krisna Bayu, dan Greysia Polii, Wakil Sekretaris Jenderal Cresida Mariska, Direktur Tim Indonesia Richard Sam Bera, Safeguarding Officer Tabitha Charmaine Sumendap, Project Strategist Tara Talitha, serta Konsultan Media dan Public Relations Brigitha Sesilya. Program berlangsung pada 18-29 Juni 2026.

Selama mengikuti program tersebut, delegasi Indonesia mempelajari bagaimana prestasi olahraga dibangun melalui kolaborasi berbagai sektor yang saling terhubung. Menurut Okto, pendekatan seperti itu menjadi pelajaran penting yang dapat diterapkan di Indonesia.

“AS membangun olahraga sebagai ekosistem yang berjenjang, termasuk keterlibatan kampus sebagai talent pipeline atlet nasional melalui NCAA. Konsep pembinaan ini juga dapat diadopsi di Indonesia. Apalagi Bapak Presiden Prabowo memiliki misi untuk memajukan dunia olahraga, dan memberi sinyal positif untuk pembinaan pelatnas jangka panjang. Apa yang kami dapat dari IVLP, akan kami laporkan langsung kepada Bapak Menpora Erick Thohir, sehingga konsep yang baik dan relevan dapat dikaji, diadaptasikan, dan diimplemantasikan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik olahraga Indonesia,” kata Okto.

Lanjut Baca:

Dalam rangkaian IVLP, delegasi NOC Indonesia mengunjungi empat kota, yakni Chicago, Indianapolis, Colorado Springs, dan Los Angeles. Di Chicago, delegasi turut menghadiri penyelenggaraan perdana Indonesian American Games yang diinisiasi diaspora Indonesia. Sementara di Indianapolis, rombongan berdiskusi dengan Kepala Pelatih Renang Indiana University Ray Looze, mengunjungi Indiana University beserta fasilitas olahraganya, serta berdialog dengan Indiana Sports Corp mengenai penyelenggaraan dan pengembangan event olahraga. Perjalanan kemudian berlanjut ke Colorado Springs yang dikenal sebagai Olympic City. Di sana, delegasi melakukan diskusi dengan United States Olympic & Paralympic Committee (USOPC), United States Anti-Doping Agency (USADA), serta mengunjungi U.S. Olympic & Paralympic Museum. Salah satu pembelajaran yang menjadi perhatian adalah model pendanaan olahraga yang diterapkan Team USA. “Dari USOPC, kami mendapat banyak masukan positif, salah satunya model pendanaan yang ditopang oleh berbagai sumber, mulai dari sponsorships, broadcasting rights, licensing, donations, hingga commercial partnerships, hingga private fundraising melalui foundation untuk menarik dukungan dari high-net-worth individuals, filantropis, dan komunitas bisnis sehingga mampu menciptakan fondasi financial sustainability yang kuat dalam mendukung Team USA,” ujar Okto. Program kemudian ditutup di Los Angeles melalui kunjungan ke Universitas California Los Angeles (UCLA) yang akan digunakan sebagai athletes village pada Olimpiade Los Angeles 2028.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya