Liputan6.com, Teheran - Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru terhadap Iran pada Rabu (8/7/2026) dini hari waktu setempat, beberapa jam setelah tiga kapal komersial dihantam di Selat Hormuz. Serangan terbaru dalam rangkaian baku tembak itu mengancam kesepakatan sementara untuk mengakhiri pertempuran antara kedua negara.
Serangan terjadi di tengah rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.
Advertisement
Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan serangan dilancarkan untuk memberikan konsekuensi berat atas penargetan dan serangan terhadap pelayaran komersial yang diawaki warga sipil tak bersalah di perairan internasional.
Seorang pejabat AS, seperti dilaporkan Associated Press, mengatakan militer menargetkan sistem pertahanan udara, sistem pengawasan pantai, rudal permukaan-ke-udara, serta lokasi peluncuran rudal jelajah antikapal dan drone. Menurut pejabat itu, fasilitas pelabuhan Iran juga menjadi sasaran.
Pejabat AS lainnya mengatakan serangan itu kemungkinan berlangsung selama beberapa jam dan ditujukan untuk menghantam sekitar delapan kali lebih banyak target dibandingkan putaran serangan balasan sebelumnya pada akhir Juni. Menurut pejabat tersebut, Iran tidak mendengarkan sehingga AS "menaikkan volumenya".
Media pemerintah Iran melaporkan suara ledakan di Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan dalam unggahan di X bahwa serangan AS melanggar kesepakatan sementara.
Rentetan serangan Iran terhadap pelayaran dan balasan AS yang serupa terjadi pada akhir bulan lalu. Serangan terbaru ini juga menjadi sorotan karena berlangsung saat Presiden Donald Trump berada di Turki untuk menghadiri KTT NATO.
AS Cabut Izin Penjualan Minyak Iran
Beberapa jam setelah tiga kapal tanker dihantam proyektil, AS mencabut izin yang memperbolehkan penjualan minyak Iran sebagai bagian dari kesepakatan sementara untuk mengakhiri pertempuran antara AS dan Iran.
Serangan terbaru di jalur pelayaran bahan bakar itu merupakan yang terbanyak dalam satu hari sejak akhir April, menurut Organisasi Maritim Internasional PBB. Serangan tersebut mengancam menghambat lalu lintas di selat itu, ketika sejumlah negara berharap pelayaran normal dapat dipulihkan dan tekanan ekonomi global akibat perang bisa mereda.
Seorang pejabat AS mengatakan izin itu dicabut karena tindakan Iran di selat tersebut tidak dapat diterima dan harus dibalas dengan konsekuensi. Pejabat itu berbicara dengan syarat anonim untuk menjelaskan alasan di balik langkah tersebut.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam langkah AS itu. Dalam pernyataannya, kementerian tersebut menyebut langkah itu melanggar kesepakatan sementara dan mengatakan pemerintah AS bertanggung jawab atas konsekuensi dari pelanggaran komitmen ini.
Satu Kapal Tanker Terbakar
United Kingdom Maritime Trade Operations menyebutkan satu kapal tanker tengah berlayar di lepas pantai Oman ketika terkena serangan dan terbakar. Televisi pemerintah Iran mengatakan kapal tanker gas alam cair itu diserang setelah mengabaikan peringatan, tetapi tidak secara langsung mengklaim serangan tersebut.
"Dua kapal lainnya mengalami kerusakan, tetapi tidak ada korban luka. Keduanya tetap melanjutkan pelayaran," kata badan maritim Inggris tersebut.
Teheran, yang berulang kali menyatakan bahwa hanya rute yang disetujuinya melalui selat itu yang aman, diduga menyerang kapal-kapal lain yang menggunakan rute dekat pantai Oman.
Rincian lokasi yang diberikan badan Inggris tersebut menunjukkan ketiga serangan terjadi di lepas pantai Oman atau Uni Emirat Arab yang berdekatan. Hal itu membuat kapal-kapal tersebut kemungkinan sedang menggunakan rute dekat Oman.
Pada masa damai, seperlima dari seluruh perdagangan minyak dan gas alam melewati jalur tersebut.
Sanksi AS terhadap pembelian minyak Iran telah berlaku sejak Revolusi Iran 1979. Setelah AS dan Israel melancarkan perang, serta setelah selat itu ditutup, AS setidaknya dua kali mengizinkan penjualan sementara minyak Iran sebagai insentif menuju kesepakatan.
Sementara itu, pembicaraan antara Iran dan AS ditunda hingga pemakaman Ali Khamenei selesai.
Qatar: Pelanggaran Hukum Internasional
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari mengatakan kapal tanker Qatar Al Rekayyat menjadi sasaran dalam serangan yang tidak dapat diterima terhadap navigasi internasional dan keamanan energi global.
Dalam unggahan di X, ia mengatakan Qatar menilai Iran sepenuhnya bertanggung jawab secara hukum.
Joint Maritime Information Center, badan multinasional yang diawasi Angkatan Laut AS, pada Senin memberi tahu para operator pelayaran bahwa rute di sekitar Oman telah diperluas dan tetap tersedia bagi seluruh lalu lintas.
Kapal-kapal yang menuju utara melalui rute Iran harus mendaftar ke Teheran. Adapun kapal-kapal yang menuju selatan berkoordinasi dengan Oman dan AS.
Sebagai bagian dari kesepakatan sementara, Iran dan AS sepakat mengizinkan kapal-kapal melintas tanpa membayar biaya selama 60 hari. Namun, Teheran bersikeras harus mengendalikan rute kapal-kapal tersebut dan kemudian mengenakan biaya pelintasan. Langkah itu akan mengubah praktik yang telah berlaku selama puluhan tahun di perairan tersebut.
AS dan banyak negara Arab Teluk mengatakan mereka tidak akan menyetujui pungutan Iran atas pelintasan melalui selat itu.
Perusahaan data Kpler melaporkan sedikitnya 108 kapal melintasi selat tersebut pada akhir pekan lalu dengan menggunakan berbagai rute.