Liputan6.com, Jakarta - Minabe, Wakayama, kota di pesisir Samudra Pasifik Jepang, merupakan rumah bagi plum, bahan baku utama umeboshi maupun umeshu. Hanya berjarak sekitar 10 menit dari Grand Mercure Wakayama Minabe Resort & Spa, saya bersama rombongan Accor Group tiba di salah satu kebun sekaligus pabrik umeshu (anggur buah plum), Arimoto.
Yohei Arimoto, generasi ketiga pemilik Arimoto, menyambut kami dengan tangan terbuka. Setelah perkenalan singkat, diselingi candaan, kami diajak ke kebun plum yang berada di belakang pabrik. Kebun itu mayoritas ditanami varietas Nanko, jenis plum terpopuler di Minabe yang unggul karena memiliki kulit buah yang lembut.
Advertisement
"Banyak alasan yang membuat nanko sangat istimewa. Pertama karena nanko sangat mudah dibudidayakan. Kedua, cocok untuk pembuatan umeboshi karena sangat berhubungan dengan asam dan rasa. Untuk umeboshi, kulitnya sangat lembut sehingga nanko akan menjadi umeboshi yang lembut," ia menerangkan, ditemui di Minabe, pada April 2026.
Kebun miliknya tak luas, hanya sekitar 700 pohon plum. Butuh 2--5 tahun pohon tersebut mulai bisa dipanen dan terus produktif hingga usia sekitar 30--50 tahun.
Sebagai produsen umeshu, tantangan yang dihadapinya dimulai sejak dari kebun. Perubahan iklim membuat pembudidayaan plum lebih menantang dari sebelumnya.
"Karena suhu menghangat, temperatur berubah, sekarang sangat sulit untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk menyemprotkan pestisida, melakukan penyerbukan. Ditambah sejumlah serangga datang dari negara lain dan mereka memakan pohon dan buahnya," ungkapnya.
Bahan Utama Umeshu
Berpatokan pada kebiasaan, plum biasanya mulai dipanen pada Juni dan mulai diolah pada Agustus hingga Oktober. Pada bulan tersebut, matahari cukup terik sehingga ume (plum) bisa dijemur dan dikeringkan hingga menyusut kadar airnya.
Setelah menjadi kisut, ume bisa diolah menjadi umeboshi dengan merendamnya di dalam larutan garam. Sementara, pabriknya mengolah plum kering dengan merendamnya di dalam larutan gula dan soju, kemudian difermentasi beberapa bulan hingga beberapa tahun untuk menjadi wine.
"Kami saat ini memproduksi empat jenis umeshu," kata Yohei.
Pertama disebut Plumity Black, difermentasi antara 2--4 tahun untuk menghasilkan rasa yang pekat, kaya, dengan rasa buah yang bertahan lama. "Black ini berbahan dasar soju, ditambah ume dan gula batu," katanya.
Ada juga Plumity White yang dibuat dari plum varietas Nanko tetapi difermentasi lebih singkat dan berbahan dasar sake. Dua lainnya adalah Plumity Green yang menggunakan plum varietas Suiko serta Plumity Pink yang menggunakan plum varietas Tsuyu Akane dengan direndam dalam sake untuk menghasilkan cita rasa seperti apel dan stroberi.
Jadi Upeti di Zaman Edo
Tapi, untuk yang tidak minum alkohol seperti saya, mereka menyodorkan versi sirupnya yang sangat manis untuk dicicipi. Karena kadar manisnya pekat, Anda sebaiknya mencampurnya di dalam air dan ditambah es batu, segar di hari yang panas.
Sembari menikmati minuman, Yohei bercerita tentang sejarah plum di Minabe yang ternyata berusia 400 tahun, sejak zaman Edo. Pohon plum ditanam di wilayah itu karena kondisi tanahnya yang tandus dan berkerikil tidak memungkinkan untuk menanam padi.
Karena banyak yang menanam plum, warga menjadikannya sebagai upeti bagi Shogun atau penguasa di Jepang zaman dulu, menggantikan beras. Menurut Yohei, kini ada sekitar 1.200 petani plum di wilayah Minabe, Wakayama.
Mengutip laman minabe-kanko.jp, berdasarkan data 2016, hasil panen ume di Wakayama mencapai 70 ribu ton per tahun, mencakup lebih dari 60 persen plum di Jepang. Sebanyak 34 ribu ton ume dipanen di Kota Minabe, atau sekitar 30 persen dari hasil panen plum nasional.
Sementara, varietas ume Nanko baru dikembangkan pada 1950, diinisiasi oleh Koperasi Pertanian Kami-Minabe. Katsutaro Takenaka, seorang guru di departemen hortikultura SMA Minabe (disingkat Nanko), diangkat sebagai ketua penelitian.
Jadi Menu Wajib di Resor
Saat itu, tidak kurang dari 114 jenis ume yang dibudidayakan di wilayah tersebut, dan dibutuhkan waktu lima tahun untuk memilih varietas terunggul. Nama 'Nanko-Ume' diberikan untuk menghormati upaya para siswa dari SMA Minabe yang berkontribusi besar dalam pemilihan dan penelitian pohon induknya.
Kini, umeboshi dari Minabe selalu tersedia di restoran Grand Mercure Wakayama Minabe Resort & Spa. Bagi Anda penyuka asam, umeboshi wajib dicicipi.
Sementara, resor dimaksud terletak di perbukitan di sepanjang Pantai Senri, menawarkan pemandangan Samudra Pasifik di satu sisi dan Pegunungan Kii di sisi lainnya, menciptakan suasana menginap yang damai dan dekat dengan alam. Resor ini mengusung konsep all-inclusive, dengan tamu dapat menikmati sarapan, makan malam, minuman, dan camilan di lounge, serta akses ke fasilitas pemandian air panas.
Restoran utama, Le Sensorial, menyajikan sarapan dan makan malam prasmanan dengan pilihan hidangan Jepang dan Barat. Menu disiapkan menggunakan bahan segar dari wilayah Kishu, sehingga tamu dapat merasakan cita rasa lokal Minabe.