Liputan6.com, Jakarta - Meningkatnya tren belanja daring (online) mulai berdampak ke pedagang seragam sekolah konvensional di Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Momentum tahun ajaran baru yang biasanya menjadi ladang rezeki, kini tak lagi seramai dulu.
Liyanto, salah satu pedagang di kawasan Kebondalem, Purwokerto mengakui adanya kenaikan omzet sekitar 50 persen menjelang tahun ajaran baru dibanding hari biasa. Namun, angka ini jauh menurun jika dibandingkan beberapa tahun lalu.
Advertisement
"Kondisinya jauh berbeda. Sekarang masyarakat lebih memilih belanja online. Dulu, seminggu sebelum sekolah masuk, toko sudah penuh sesak. Sekarang tidak lagi," kata Liyanto seperti dikutip dari Antara, Senin (6/7/2026).
Menghadapi situasi ini, Liyanto yang sudah berjualan sejak 1995 mulai memutar otak. Ia memperluas dagangannya dengan menjual Alat Tulis Kantor (ATK) dan mencoba masuk ke pasar daring. Meski begitu, langkah tersebut belum mampu menandingi dominasi toko online. Akibat penjualan yang melambat, ia terpaksa mengurangi stok barang yang biasa didatangkan dari Solo dan Bandung.
Selain persaingan digital, aturan sekolah yang melonggarkan pembelian seragam turut memengaruhi pasar. "Kini, sekolah umumnya hanya mewajibkan pembelian seragam batik dan olahraga di sekolah, sisanya orang tua dibebaskan membeli sendiri," tambah Liyanto yang menjual satu setel seragam mulai dari Rp100 ribu ini.
Meski demikian, pasar fisik belum sepenuhnya mati. Endang, warga Karanglewas, memilih tetap membeli langsung ke toko demi memastikan kualitas dan ukuran baju anaknya yang masuk SMP. "Kalau beli online tidak bisa dicoba, kadang kebesaran atau kekecilan," ujarnya.
Respons Pemerintah Daerah
Merespons fenomena ini, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, menyebut masyarakat saat ini memang lebih menyukai pakaian siap pakai karena lebih praktis dan murah.
Namun, DPKUKM mengaku belum memiliki data pasti mengenai dampak tren digital ini terhadap konveksi lokal. Oleh karena itu, pihaknya berencana melakukan riset khusus untuk memantau fluktuasi omzet pelaku UMKM tekstil setiap tahun ajaran baru.
"Kami akan memantau dan meneliti kendala apa saja yang dihadapi pelaku UMKM konveksi saat ini. Selama ini, para pelaku usaha memang jarang melaporkan dinamika pesanan mereka," pungkas Gatot.