Liputan6.com, Jakarta - Reli harga Bitcoin diperkirakan akan semakin sulit terjadi tanpa masuknya dana besar dari investor institusi. Perusahaan analisis blockchain CryptoQuant memperkirakan aset kripto terbesar di dunia itu membutuhkan tambahan modal lebih dari US$ 1 triliun atau sekitar Rp 17.991 triliun (asumsi kurs Rp 17.991 per dolar AS) untuk memicu kenaikan harga besar berikutnya.
Mengutip laman CoinMarketCap, Senin (6/7/2026), CryptoQuant menilai kemampuan Bitcoin untuk mencetak kenaikan harga dengan dukungan arus modal yang relatif kecil terus menurun dalam satu dekade terakhir.
Advertisement
Laporan tersebut menunjukkan setiap siklus pasar bullish membutuhkan dana yang jauh lebih besar dibandingkan periode sebelumnya untuk menghasilkan kenaikan harga yang sebanding.
Pada 2011, arus modal bersih sekitar US$ 2,8 miliar atau sekitar Rp 50,375 triliun mampu mendorong harga Bitcoin melonjak hingga 55.000%.
Empat tahun kemudian, pada 2015, Bitcoin membutuhkan arus dana sekitar US$ 69 miliar atau sekitar Rp 1.241 triliun untuk menghasilkan kenaikan sekitar 10.000%.
Sementara pada siklus yang dimulai pada 2022, arus modal bersih telah mencapai sekitar US$ 697 miliar atau sekitar Rp 12.539 triliun, tetapi hanya menghasilkan kenaikan harga sekitar 689%.
Struktur Pasar Bitcoin Berubah
CryptoQuant menilai penurunan efisiensi modal tersebut menunjukkan struktur pasar Bitcoin telah berubah secara fundamental. Dibandingkan beberapa tahun lalu, harga Bitcoin kini tidak lagi mudah terdorong naik hanya oleh tambahan likuiditas dalam jumlah kecil.
Menurut perusahaan tersebut, peluang memperoleh keuntungan besar dari gelombang spekulasi investor ritel mulai berkurang. Pertumbuhan Bitcoin pada fase berikutnya akan lebih bergantung pada masuknya investor dengan dana yang jauh lebih besar.
Chief Executive Officer (CEO) CryptoQuant, Ki Young Ju, mengatakan Bitcoin perlu bertransformasi dari aset yang didorong investor ritel dan perdagangan ETF spot menjadi aset makro utama yang dimiliki institusi keuangan berskala besar.
"Lonjakan besar berikutnya hanya mungkin terjadi jika adopsi investor institusi dalam skala besar mampu menyerap lebih dari US$ 1 triliun modal baru," jelas dia.
Ki menambahkan, kondisi pasar saat ini belum mendukung masuknya dana sebesar itu.
Ia menunjuk arus dana keluar bersih dari ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir, serta penutupan kinerja Bitcoin yang cenderung melemah pada paruh pertama tahun ini, sebagai indikasi bahwa minat investor institusi masih relatif terbatas.
Lambat dan Bertahap
CryptoQuant menilai perubahan tersebut menjadi sinyal penting bagi investor. Jika sebelumnya Bitcoin mampu memberikan keuntungan sangat besar dengan tambahan modal yang relatif kecil, kondisi tersebut kini dinilai mulai berakhir.
Reli harga berikutnya diperkirakan akan berlangsung lebih lambat dan bertahap. Kenaikan tersebut juga diyakini lebih bergantung pada keputusan investasi dari dana pensiun, sovereign wealth fund, serta perusahaan-perusahaan besar yang mengalokasikan dana ke Bitcoin, dibandingkan investor ritel.
Bagi investor individu, kondisi ini berarti ekspektasi terhadap lonjakan harga yang sangat cepat perlu disesuaikan dengan dinamika pasar saat ini.
CryptoQuant menyimpulkan bahwa menurunnya efisiensi modal merupakan konsekuensi alami dari semakin matangnya pasar Bitcoin. Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan baru.
Tanpa aliran dana baru yang besar dan berkelanjutan dari investor institusi, reli besar Bitcoin diperkirakan masih akan sulit terwujud.
Dalam beberapa bulan ke depan, pasar akan menguji apakah Bitcoin mampu menarik minat investor bermodal besar untuk membuka babak baru dalam perjalanan harga aset kripto terbesar di dunia tersebut.