Liputan6.com, Jakarta - Video yang memperlihatkan letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau (GAK) dengan semburan api besar pada malam hari viral di berbagai media sosial. Rekaman berdurasi sekitar 10 detik itu memicu kekhawatiran masyarakat, terlebih setelah status Gunung Anak Krakatau dinaikkan menjadi Level III (Siaga).
Dalam video tersebut terlihat suasana malam dari atas kapal. Sejumlah penumpang merekam langit gelap yang dipenuhi kepulan asap, disertai pijaran lava berwarna kemerahan dan kilatan cahaya di sekitar kawah.
Advertisement
Namun, Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi memastikan video yang beredar bukan merupakan kondisi terkini Gunung Anak Krakatau.
"Video yang beredar itu hoaks atau bukan menggambarkan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini. Aktivitas erupsi yang terjadi sekarang tidak seperti yang terlihat dalam video tersebut," kata Andi saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Andi, hasil pemantauan menunjukkan erupsi terakhir Gunung Anak Krakatau terjadi pada Jumat (3/7/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Hingga Sabtu siang, belum ada lagi aktivitas erupsi yang teramati.
"Pada Jumat kemarin hanya tercatat satu kali erupsi sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah itu hingga hari ini belum ada lagi erupsi yang teramati," jelasnya.
Meski demikian, Andi menegaskan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Karena itu, masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta tetap mematuhi rekomendasi pemerintah dengan tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Polda Lampung Minta Warga Tak Mudah Percaya Video Viral
Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi maupun video yang belum jelas sumbernya, khususnya terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Masyarakat kami minta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya. Pastikan setiap informasi diperoleh dari instansi resmi yang berwenang agar tidak menimbulkan keresahan," ujar Yuni.
Ia juga meminta masyarakat tidak ikut menyebarluaskan video atau informasi yang belum terverifikasi.
"Apabila memperoleh informasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau, lakukan pengecekan terlebih dahulu melalui kanal resmi Badan Geologi, BMKG, BPBD, maupun pemerintah. Jangan sampai informasi yang belum benar justru menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat," bebernya.
Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Kamis (2/7/2026) pukul 16.30 WIB.
Peningkatan status dilakukan setelah terjadi lonjakan aktivitas vulkanik yang ditandai meningkatnya gempa vulkanik dangkal, emisi gas sulfur dioksida (SO₂), deformasi tubuh gunung, hingga terjadinya erupsi.
Seiring status Siaga, masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau serta selalu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah.