Remaja Jerawatan Sebelum Diberi Obat Baiknya Diperiksa Mentalnya

Jerawat yang tumbuh saat remaja bisa membuat depresi dan bahkan bunuh diri. Obat resep dokter ternyata bisa memberikan efek negatif terhadap

oleh Melly Febrida diperbarui 05 Feb 2014, 16:00 WIB
Jerawat yang tumbuh saat remaja bisa membuat depresi dan bahkan bunuh diri. Obat resep dokter ternyata salah satu yang bisa memengaruhi psikologi remaja. Karena itu, sebelum memberikan obat sebaiknya kesehatan mental remaja diperiksa dahulu.

Peneliti di University of Queensland mengembangkan pedoman baru bagi psikiater dan spesialis kulit untuk meresepkan obat jerawat yang aman agar remaja tak depresi dan bunuh diri.

Studi ini menawarkan pedoman bagi profesional kesehatan di Australia ketika meresepkan dan mengobati pasien jerawat dengan obat Roaccutane.

Psikiater Remaja di UQ Centre for Clinical Research Child Dr James Scott mengatakan, pedoman ini bisa mengurangi dokter menggunakan obat yang mengandung bahan aktif isotretinoin saat mengobati jerawat pada remaja.

Isotretinoin memberikan banyak efek samping, seperti meningkatnya sensitivitas terhadap sinar matahari, masalah kecemasan, hingga gangguan kehamilan serta janin.

"Jerawat bisa merusak psikologis remaja, membebani mereka dengan perasaan malu, frustasi, dan marah," kata Dr Scott.

Dr Scott menjelaskan, rekomandasi akan memandu dokter saat meresepkan dan memantau obat yang aman.

"Jika jerawat remaja sangat mempengaruhi kualitas hidup mereka, pengobatan seperti Roaccutane harus dipertimbangkan, terlepas dari keparahan kondisi mereka, " kata Dr Scott.

"Namun, siapa saja yang melakukan pengobatan Roaccutane sebaiknya dipantau hati-hati selama pengobatan dan setelah pengobatan berhenti," katanya.

Peneliti menyarankan, remaja sebaiknya diskrining masalah kesehatan mental sebelum memulai pengobatan.

"Setiap ada gejala kesehatan mental harus diidentifikasi, jika perlu dokter harus bekerja dengan para praktisioner umum remaja atau praktisi kesehatan mental," kata Dr Scott seperti dikutip Medicalxpress, Rabu (5/2/2014).

Selain itu, harus ada komunikasi antara orangtua/wali, pasien, dan petugas kesehatan untuk memastikan masalah bisa dikelola dengan aman.

"Komunikasi dan kesadaran terhadap risiko dari semua pihak yang terlubat merupakan kunci mencegah hasil yang tragis," kata Dr Scott.

(Mel/Abd)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya