Liputan6.com, Jakarta - Harga emas diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai prospek logam mulia masih positif setelah berhasil bertahan di area support penting. Selain didukung sinyal teknikal yang mengarah ke tren bullish, harga emas juga ditopang oleh meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Geraldo, pada grafik satu jam (H1), harga emas mampu bertahan di atas level support US$ 4.025. Area tersebut dinilai menjadi titik krusial karena berhasil meredam tekanan jual sekaligus memicu kembali aksi beli dari pelaku pasar.
Advertisement
Bertahannya harga di atas level tersebut menunjukkan bahwa pembeli mulai mendominasi pergerakan pasar. Kondisi ini juga diperkuat dengan terbentuknya pola higher low, yakni titik terendah terbaru berada lebih tinggi dibandingkan titik terendah sebelumnya. Dalam analisis teknikal, pola tersebut sering menjadi sinyal awal menguatnya tren kenaikan.
"Selama harga mampu bertahan di atas level support US$ 4.025, peluang penguatan masih cukup besar. Area tersebut menjadi level penting yang perlu diperhatikan trader sebagai penentu arah pergerakan berikutnya," ujar Geraldo dalam analisisnya.
Ia memperkirakan harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area resistance pertama di level US$ 4.115.
Sisi Teknikal
Geraldo mengatakan, apabila harga emas berhasil menembus level resistance US$ 4.115 dengan didukung peningkatan volume transaksi, peluang penguatan akan semakin besar.
Dalam skenario tersebut, target kenaikan berikutnya diperkirakan berada di kisaran US$ 4.168, yang menjadi area resistance lanjutan dalam jangka pendek.
Dari sisi teknikal, sinyal positif juga terlihat pada indikator Moving Average (MA) 21 dan MA 34. Kedua indikator tersebut kini mulai berfungsi sebagai dynamic support, yang berpotensi menahan laju koreksi apabila harga kembali melemah.
Selain itu, indikator Stochastic juga memberikan konfirmasi terhadap peluang penguatan. Setelah sempat berada di area oversold atau jenuh jual, indikator tersebut kini berbalik naik dan membentuk pola bullish crossover.
Kondisi ini menunjukkan momentum beli mulai meningkat sehingga membuka peluang harga emas bergerak lebih tinggi dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.
Sentimen Fundamental
Tak hanya didukung analisis teknikal, prospek harga emas juga diperkuat sejumlah sentimen fundamental.
Salah satunya adalah meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven ketika pasar menghadapi ketidakpastian ekonomi global maupun risiko geopolitik. Dalam kondisi tersebut, investor biasanya mengalihkan sebagian portofolionya ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas.
Selain itu, arah pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) juga menjadi faktor yang patut dicermati. Pelemahan dolar AS umumnya memberikan ruang bagi harga emas untuk menguat, terutama jika pasar mulai memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar, termasuk membuka peluang penurunan suku bunga.
Sentimen positif lainnya datang dari potensi penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield). Ketika imbal hasil obligasi melemah, biaya peluang untuk memiliki emas menjadi lebih rendah sehingga daya tarik logam mulia cenderung meningkat.
Meski demikian, Geraldo mengingatkan investor tetap mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, seperti inflasi, pasar tenaga kerja, serta aktivitas sektor manufaktur dan jasa. Data-data tersebut akan memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed sekaligus menjadi penentu arah dolar AS dan harga emas dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures masih mempertahankan proyeksi bullish untuk harga emas selama mampu bertahan di atas level US$ 4.025. Jika resistance US$ 4.115 berhasil ditembus, peluang kenaikan menuju 4.168 dinilai semakin terbuka.