Emiten JECC Tebar Dividen Rp 40 per Saham, Simak Jadwal Lengkapnya

Berikut jadwal lengkap pembagian dividen PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) untuk tahun buku 2025.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 30 Juni 2026, 14:04 WIB
Papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) akan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 30,24 miliar. Dividen yang dibagikan perseroan kepada pemegang saham setara Rp 40 per saham.

Perseroan membagikan dividen sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Juni 2026. Demikian mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa (30/6/2026).

Dividen yang dibagikan dengan mempertimbangkan data keuangan per 31 Desember 2025 antara lain laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 115,37 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 76,16 miliar, dan total ekuitas sebesar Rp 917,12 miliar.

Berikut jadwal pembagian dividen tahun buku 2025:

Tanggal efektif pada 24 Juni 2026

Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 2 Juli 2026

Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 3 Juli 2026

Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 6 Juli 2026

Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 7 Juli 2026

Tanggal daftar pemegang saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 6 Juli 2026, waktu 16:00

Tanggal pembayaran dividen pada 24 Juli 2026

Berdasarkan data RTI, saat dipantau pukul 13.54 WIB, saham JECC naik 1,52% menjadi Rp 670 per saham. Harga saham JECC dibuka naik 10 poin menjadi Rp 670 per saham. Saham JECC berada di level tertinggi Rp 675 dan terendah Rp 640 per saham. Total frekuensi perdagangan 70 kali dengan volume perdagangan saham 958 saham. Nilai transaksi Rp 63,3 juta.

Penutupan IHSG 29 Juni 2026

Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan hingga penutupan perdagangan saham, Senin, (29/6/2026). Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah mayoritas sektor saham memerah dan transaksi harian di bawah Rp 10 triliun.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup turun 1,28% menjadi 5.820,79. Indeks saham LQ45 merosot 1,84% menjadi 573. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 5.942,77 dan level terendah 5.800,28. Sebanyak 489 saham melemah sehingga bebani IHSG. 214 saham menguat dan 149 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.230.113 kali dengan volume perdagangan saham 15 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.840.

Mayoritas sektor saham tertekan kecuali sektor saham properti naik 0,71%. Sementara itu, sektor saham infrastruktur melemah 1,58%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham basic merosot 1,42%, sektor saham keuangan tergelincir 1,14%.

Selain itu, sektor saham energi turun 0,48%, sektor saham industri melemah 0,31%, sektor saham consumer nonsiklikal terpangkas 0,75%, sektor saham consumer siklikal tergelincir 0,80%. Lalu sektor saham kesehatan merosot 0,37%, sektor saham teknologi susut 0,35%, sektor saham transportasi turun 0,90%.

 

Kata Analis

Karyawan memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG ditutup terkoreksi 1,28% meskipun sempat menguat pada perdagangan pagi tadi. Ia menilai, dari sisi teknikal, pergerakan IHSG masih berada di dalam downtrend channel. Dari sisi sentimen, pihaknya memperkirakan sejumlah faktor. Pertama, investor masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, di mana saat ini terjadi gencatan senjata dengan pergerakan harga minyak mentah yang masih berada pada level area US$ 70 per barel.

"Investor juga masih mencermati akan rilis data-data makro Amerika Serikat (AS) pada pekan ini dan juga mencermati akan sinyal kebijakan suku bunga The Fed,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.

Ia memperkirakan, masih terjadi foreign outflow pada IHSG dengan kecenderungan nilai tukar rupiah yang masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat di level 17.880.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya