Pemkot Bekasi Studi ke China, Tiru Olah Sampah jadi Listrik

Pemkot Bekasi studi tiru ke China untuk mempelajari teknologi pengolahan sampah menjadi listrik sebagai persiapan pembangunan PSEL.

oleh Nurul HudaDiterbitkan 26 Juni 2026, 17:25 WIB
Rombongan Pemerintah Kota Bekasi mengunjungi fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Wangneng Environment di Huzhou, China, untuk mempelajari teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik sebagai bagian dari persiapan proyek PSEL Kota Bekasi.

Liputan6.com, Jakarta - Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) milik Wangneng Environment di Huzhou, China menjadi tujuan kunjungan kerja dalam rangka studi tiru pengolahan sampah menjadi listrik Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Jawa Barat dalam rangka studi tiru konversi sampah jadi energi Listrik.

Dipimpin oleh Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono dan Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi, rombongan yang terdiri dari jajaran Komisi II, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, serta perwakilan tokoh masyarakat Bantargebang bertolak ke China hari ini, Jumat (26/6/2026).

"Kunjungan dilakukan dalam rangka mempelajari secara langsung teknologi pengolahan sampah yang akan diterapkan pada proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi," ujar Kepala DLH Kota Bekasi Kiswatiningsih menjelang keberangkatan di Bekasi, melansir Antara, Jumat (26/6/2026).

Kehadiran unsur pemerintah, legislatif dan masyarakat, dalam satu kunjungan ini merupakan bentuk keterbukaan, informasi sekaligus upaya membangun pemahaman bersama terhadap proyek strategis yang akan menjadi salah satu solusi jangka panjang pengelolaan sampah di Kota Bekasi.

Bekasi Siapkan Bantargebang Jadi Kawasan Hijau

Menurut Kiswatiningsih, kunjungan ini dilakukan agar para pemangku kepentingan dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi waste to energy beroperasi, mulai dari proses penerimaan sampah, pengolahan, pengendalian emisi, hingga pemanfaatan menjadi energi listrik.

"Kami ingin seluruh proses pembangunan PSEL berjalan secara transparan dan dipahami bersama oleh seluruh pihak. Dengan melihat secara langsung, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai manfaat, standar operasional serta aspek lingkungan yang diterapkan," ucap dia.

Kiswatiningsih mengatakan, kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari tahapan persiapan menjelang pembangunan fisik PSEL Kota Bekasi yang saat ini terus dipercepat dan seluruh biaya kegiatan ditanggung Wangneng Environment selaku Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) yang telah ditetapkan dalam Proyek PSEL Kota Bekasi.

"Pembiayaan kunjungan sepenuhnya ditanggung oleh Wangneng sebagai BUPP sehingga tidak membebani keuangan daerah," jelas dia.

Sementara itu, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan pembangunan PSEL bukan sekadar menghadirkan fasilitas pengolahan sampah modern tetapi menjadi bagian dari transformasi besar kawasan Bantargebang.

Selama puluhan tahun kawasan tersebut dikenal sebagai lokasi pembuangan sampah terbesar di Indonesia. Ke depan Pemkot Bekasi ingin mengubah stigma tersebut menjadi kawasan yang identik dengan inovasi lingkungan dan ekonomi hijau.

"Kami ingin mengubah stigma masyarakat terhadap Bantargebang. Tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat pembuangan sampah, tetapi menjadi pusat inovasi lingkungan hidup yang mampu mengubah sampah menjadi energi, membuka peluang ekonomi bar,u dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar," ucap Tri.

Pemkot Bekasi Kembangkan Ekonomi Sirkular

Tri mengatakan, Pemkot Bekasi juga tengah mendorong pengembangan industri turunan berbasis ekonomi sirkular, termasuk pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah menjadi energi.

Selain mendukung pengurangan timbunan sampah, pengembangan industri berbasis FABA diharapkan mampu menghasilkan berbagai produk konstruksi bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong tumbuhnya kawasan industri hijau yang terintegrasi di Bantargebang.

"Kami membayangkan Bantargebang ke depan berkembang menjadi kawasan ekonomi lingkungan. Ada PSEL yang menghasilkan energi listrik, ada industri pengolahan FABA yang menghasilkan produk bernilai ekonomi, ada aktivitas riset dan inovasi lingkungan, sehingga manfaatnya tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar," terang Tri.

Dia melanjutkan, Pemkot Bekasi berharap melalui pembangunan PSEL dan pengembangan industri pendukungnya, Bantargebang dapat menjadi contoh transformasi kawasan lingkungan yang berhasil mengubah tantangan menjadi peluang pembangunan berkelanjutan.

"Dulu orang mengenal Bantargebang karena gunungan sampahnya. Ke depan, kami ingin Bantargebang dikenal sebagai simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan modern, tempat lahirnya energi bersih, inovasi teknologi dan pusat pertumbuhan ekonomi hijau di Kota Bekasi," kata dia.

Pihaknya menargetkan tahapan groundbreaking Program PSEL dapat dilaksanakan pada awal Juli 2026 dan direncanakan peresmian oleh Presiden Prabowo Subianto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya