Prediksi Harga Bitcoin Sepanjang 2026

Simak prediksi harga Bitcoin sepanjang 2026, akan naik atau turun?

oleh Septian DenyDiterbitkan 25 Juni 2026, 10:00 WIB
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) diperkirakan masih memiliki peluang kenaikan signifikan hingga akhir 2026. Optimisme tersebut didorong oleh siklus halving, meningkatnya adopsi institusi, serta sejumlah faktor makroekonomi yang dinilai mendukung aset kripto terbesar di dunia tersebut.

Sejumlah analis memperkirakan Bitcoin berpotensi melampaui rekor harga tertinggi lagi. Meski demikian, volatilitas jangka pendek masih menjadi karakteristik utama pasar kripto yang perlu diperhatikan investor.

Siklus Halving Jadi Pendorong Utama

Dikutip dari Coinmarketcap, Kamis (25/6/2026), pergerakan harga Bitcoin selama ini memiliki keterkaitan erat dengan siklus halving yang terjadi setiap empat tahun sekali. Halving merupakan mekanisme yang memangkas imbalan (block reward) bagi penambang Bitcoin hingga 50%.

Halving berlangsung pada April 2024, yang menurunkan reward dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC per blok. Secara historis, periode 12 hingga 18 bulan setelah halving sering kali menjadi fase kenaikan harga yang signifikan.

Pada halving 2012, harga Bitcoin melonjak dari sekitar US$ 12 menjadi lebih dari US$ 1.100 pada 2013. Setelah halving 2016, Bitcoin naik dari kisaran US$ 650 menjadi hampir US$ 19.700 pada 2017. Sementara pasca-halving 2020, harga BTC melesat dari sekitar US$ 8.500 hingga mencapai rekor US$ 69.000 pada 2021.

Meski persentase kenaikannya terus menurun seiring bertambah besarnya kapitalisasi pasar Bitcoin, pola historis tersebut masih menjadi dasar optimisme bahwa siklus pasca-halving 2024 dapat membawa BTC mencetak rekor baru.

Berkurangnya pasokan Bitcoin baru yang masuk ke pasar juga menciptakan efek kelangkaan (supply shock), terutama apabila permintaan tetap kuat atau bahkan meningkat.

 

ETF Bitcoin Dorong Masuknya Dana Institusi

Ilustrasi bitcoin (Foto: Unsplash/Aleksi Raisa)

Faktor penting lain yang menopang prospek Bitcoin adalah meningkatnya partisipasi investor institusi.

Persetujuan Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat menjadi titik balik bagi akses institusi terhadap aset kripto. Produk investasi tersebut berhasil menarik aliran dana miliaran dolar hanya dalam beberapa bulan pertama peluncurannya.

Ke depan, arus dana institusi diperkirakan terus meningkat seiring semakin banyak penasihat investasi yang memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio klien, meningkatnya alokasi perusahaan publik ke aset digital, hingga kemungkinan masuknya dana pensiun, sovereign wealth fund, dan lembaga keuangan besar lainnya.

Adopsi institusi dinilai dapat mengurangi volatilitas harga sekaligus menciptakan fondasi permintaan yang lebih kuat.

 

Dukungan Faktor Makroekonomi

Ilustrasi Bitcoin. (Foto: Unsplash/Thought Catalog)

Selain faktor internal pasar kripto, kondisi ekonomi global juga dipandang berpotensi mendukung kenaikan Bitcoin.

Bitcoin sering disebut sebagai "emas digital" karena dianggap mampu menjadi alternatif penyimpan nilai ketika terjadi ketidakpastian ekonomi.

Beberapa faktor yang dapat menjadi katalis positif antara lain:

  • Potensi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) yang membuat aset berisiko menjadi lebih menarik.
  • Pelemahan dolar AS yang biasanya berkorelasi positif dengan kenaikan harga aset alternatif.
  • Tingginya utang global yang dapat mendorong kebijakan moneter lebih longgar dan meningkatkan minat terhadap aset yang memiliki pasokan terbatas seperti Bitcoin.

Di sisi regulasi, sejumlah perkembangan juga mulai memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital. Amerika Serikat dan Uni Eropa terus menyusun kerangka regulasi yang lebih jelas sehingga berpotensi meningkatkan kepercayaan investor.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya