Liputan6.com, Paris - Sedikitnya 40 orang tewas tenggelam di Prancis saat berenang di kawasan tanpa pengawasan untuk mencari kesegaran di tengah gelombang panas yang melanda negara itu dan sejumlah wilayah lain di Eropa.
Dalam keterangannya usai rapat krisis pada Selasa (23/6/2026), Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengatakan sebagian besar korban jiwa sejak Kamis lalu merupakan anak muda.
Advertisement
"Mereka adalah korban pertama dari krisis yang sedang kita hadapi," ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera.
Lecornu menyebut rentetan kematian tersebut sebagai "tragedi yang memilukan" di tengah gelombang panas yang mendorong suhu di sejumlah wilayah Prancis melampaui 40 derajat Celsius.
Menurut badan prakiraan cuaca Meteo-France, suhu di Les Herbiers, wilayah barat daya Prancis, mencapai 43 derajat Celsius pada Selasa.
Menteri Olahraga Marina Ferrari mengatakan kepada radio France Inter bahwa berenang di lokasi yang tidak diizinkan selama gelombang panas bukanlah sesuatu yang boleh dianggap remeh.
Otoritas setempat menyatakan gelombang panas kemungkinan menjadi penyebab kematian dua anak berusia dua dan empat tahun yang ditemukan tidak sadarkan diri di dalam mobil di luar rumah mereka di Carpentras, wilayah tenggara Prancis.
Di Bordeaux, tiga orang berusia 80 hingga 95 tahun juga meninggal dunia akibat masalah kesehatan yang berkaitan dengan panas ekstrem
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan akan membawa risiko kesehatan serius bagi masyarakat di Eropa.
"Bagi ribuan orang di seluruh Eropa, suhu ekstrem tanpa tindakan pencegahan dapat dengan cepat menjadi persoalan hidup dan mati," kata Mary Friel, pejabat senior kebijakan iklim IFRC, dalam konferensi pers di Jenewa.
"IFRC mendesak masyarakat untuk menganggap serius gelombang panas ini dan memperhatikan mereka yang paling berisiko demi menyelamatkan nyawa."
Hari Terpanas Sejak 1947
Meteo-France menyatakan Selasa menjadi hari terpanas yang pernah dialami Prancis sejak pencatatan meteorologi dimulai pada 1947.
Di sejumlah wilayah, suhu menembus 40 derajat Celsius dan memecahkan rekor di berbagai kota, termasuk Bordeaux dan Poitiers. Gelombang panas tersebut membebani jaringan listrik dan layanan publik.
Berdasarkan data sementara Meteo-France, indikator suhu nasional mencapai 29,8 derajat Celsius. Angka itu merupakan rata-rata suhu siang dan malam yang dihimpun dari 30 stasiun pengamatan di seluruh negeri.
Badan meteorologi nasional menetapkan status siaga merah gelombang panas di 54 wilayah. Di negara yang penggunaan pendingin udaranya tidak meluas, sejumlah sekolah menutup kegiatan lebih awal atau menyesuaikan jadwal belajar untuk melindungi para siswa.
Dampak cuaca ekstrem dirasakan pula sejumlah destinasi wisata. Museum Louvre di Paris, museum yang paling banyak dikunjungi di dunia, akan menutup operasional dua jam lebih awal, yakni pukul 16.00 waktu setempat, mulai Rabu hingga Sabtu.
Manajemen Louvre menyatakan suhu ekstrem membuat kondisi bagi pengunjung maupun pekerja menjadi sulit selama jam-jam terpanas. Menurut mereka, panas cenderung mencapai puncaknya pada penghujung hari dan semakin terasa akibat tingginya jumlah pengunjung.
Pengelola Menara Eiffel juga menutup lokasi wisata tersebut lebih awal pada Selasa, yakni pukul 16.00 waktu setempat.
Meteo-France memperkirakan suhu ekstrem masih akan berlanjut pada Kamis.
"Kamis akan kembali menjadi hari yang sangat panas, dengan suhu tetap berada pada tingkat yang sama tinggi. Pada Jumat, penurunan suhu secara bertahap diperkirakan mulai terjadi dari pesisir Atlantik," kata lembaga tersebut.
Eropa Dilanda Panas Ekstrem
Di wilayah Eropa lainnya, Kantor Meteorologi Inggris (Met Office) pada Senin (22/6) memperingatkan bahwa gelombang panas selama empat hari dapat mendorong suhu melampaui 39 derajat Celsius di sejumlah wilayah negara itu. Angka tersebut jauh melampaui rekor suhu bulan Juni sebesar 35,6 derajat Celsius yang tercatat pada 1957 dan 1976.
Beberapa pekan sebelumnya, Inggris mencatat suhu tertinggi yang pernah terjadi pada bulan Mei.
"Suhu 36 derajat akan terasa sangat tidak nyaman," kata ilmuwan data Lewis Jennings kepada Reuters di London.
Para peramal cuaca memperkirakan suhu akan berada 5 hingga 10 derajat Celsius di atas normal, dengan wilayah utara mengalami anomali yang lebih besar.
Puluhan sekolah di Inggris mengumumkan penutupan lebih awal pada Selasa dan akan tetap ditutup selama dua hari berikutnya.
Spanyol juga mengalami panas ekstrem. Kota San Sebastian di wilayah utara yang biasanya lebih sejuk diperkirakan mencapai suhu 40 derajat Celsius, lebih dari dua kali lipat rata-rata historis kota tersebut untuk 22 Juni, menurut Reuters Climate Monitor.
Di Italia, Kementerian Kesehatan mengeluarkan peringatan tingkat tertinggi untuk 15 kota, sementara otoritas setempat mengambil langkah untuk membatasi aktivitas kerja di sejumlah sektor.
Reuters Climate Monitor menunjukkan bahwa Eropa merupakan benua yang paling jauh menyimpang dari norma historisnya pada Senin.
Panas ekstrem ini dipicu oleh pola cuaca "Omega block", yang dinamai berdasarkan kemiripannya dengan bentuk huruf Yunani Omega. Sistem tersebut menjebak massa udara panas di atas benua Eropa, sementara udara yang lebih dingin berada di kedua sisinya.
"Sistem ini menarik udara hangat dari Afrika Utara, dari wilayah Sahara, dan itulah sebabnya kita mengalami panas yang sangat intens ini. Pergerakannya sangat lambat sehingga hampir tidak ada angin atau hembusan udara yang dapat memberikan kelegaan," kata Clair Barnes, peneliti cuaca ekstrem dan iklim di Imperial College London, kepada Reuters.
Menurut Barnes, gelombang panas dan badai semakin diperparah oleh perubahan iklim yang mendorong suhu menjadi lebih tinggi serta meningkatkan intensitas curah hujan.