PM Inggris Mundur, Trump: Energi dan Imigrasi Masalah Utamanya

Respons Trump atas pengunduran diri Starmer turut menyoroti hubungan Inggris dan AS.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 23 Juni 2026, 10:00 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 3 Maret 2026.(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer setelah pemimpin Partai Buruh itu mengumumkan rencana pengunduran dirinya pada Senin (22/6/2026). Trump menilai Starmer telah "sangat merugikan dirinya sendiri" melalui kebijakan energi dan imigrasi.

"Saya rasa dia pria yang menyenangkan," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, seperti dilaporkan BBC.

Namun, Trump kemudian menuding Starmer keliru mengelola kebijakan energi Inggris karena tidak memanfaatkan cadangan minyak di Laut Utara dan lebih memilih pengembangan energi angin.

"Inggris membeli sebagian besar energinya. Anda tahu dari mana? Norwegia. Anda tahu dari mana mereka mendapatkan minyaknya? Laut Utara," ujar Trump.

"Inggris memiliki potensi minyak dan gas yang lebih besar di Laut Utara, tetapi mereka tidak mau mengeksploitasinya karena alasan lingkungan." 

Meski menyebut Starmer sebagai "semacam teman saya", Trump menilai pemimpin Inggris tersebut tidak cukup mendukung AS dalam sejumlah isu penting, termasuk NATO dan konflik dengan Iran. Sebelumnya, Trump juga sempat memprediksi kepergian Starmer melalui unggahan di Truth Social. 

Ketegangan antara keduanya juga muncul terkait penggunaan pangkalan militer Inggris di Siprus. Trump mengaku kecewa karena Inggris dinilai terlalu lama memberikan persetujuan atas permintaan AS untuk menggunakan Pangkalan Udara RAF Akrotiri di Siprus dalam serangan terhadap target-target Iran.

"Dia mengatakan kami tidak bisa menggunakan pulau itu untuk mendarat. Itu yang pertama kalinya," kata Trump.

Menurut Trump, Starmer pada akhirnya memberikan izin, tetapi respons awal tersebut merupakan "langkah yang buruk" yang telah merugikan posisi politiknya.

"Saya mendoakan yang terbaik untuknya," ujar Trump. "Namun dia memiliki dua masalah besar, yaitu energi dan imigrasi. Selain itu ada juga persoalan kejahatan. Tetapi energi dan imigrasi adalah masalah utamanya. Dia benar-benar telah merugikan dirinya sendiri dengan sangat buruk."

Pada Senin, Starmer mengumumkan akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh, tetapi tetap menjabat sebagai perdana menteri selama proses transisi berlangsung secara tertib.

Keputusan itu diambil setelah berbulan-bulan menghadapi tekanan dari anggota parlemen Partai Buruh, yang semakin meningkat menyusul hasil buruk partai tersebut dalam sejumlah pemilihan lokal dan regional sehingga melemahkan posisi politik Starmer di dalam negeri. 

Andy Burnham, politikus senior Partai Buruh yang sebelumnya menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester dan kini kembali duduk di Parlemen, disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Starmer sebagai pemimpin Partai Buruh. 

Jika terpilih, Burnham berpotensi menjadi perdana menteri ketujuh Inggris dalam kurun waktu satu dekade.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya