Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan meminta masyarakat ikut memilah sampah dari rumah. Langkah ini bisa jadi bagian reformasi pengelolaan sampah nasional.
Zulfkili mengatakan, ada target masalah sampah rampung pada 2029. Namun, cara itu tak hanya bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah, meskipun ada proyek pengolahan sampah jadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE).
Advertisement
"Pemerintah sedang melakukan reformasi besar dalam pengelolaan sampah melalui pembangunan fasilitas waste to energy," ujar Zulkifli saat Apel Siaga Jaga Jakarta Pilah Sampah di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, mengutip keterangan resmi, Minggu (21/6/2026).
Dalam waktu dekat 3 lokasi PSEL akan dilaksanakan groundbreaking, kemudian menyusul 12 lokasi yang sedang diproses oleh Danantara untuk masuk fase pemilihan mitra dengan target beroperasi pada 2028.
"Namun itu saja tidak cukup. Reformasi ini harus berjalan paralel dengan gerakan masyarakat memilah sampah dari rumah. Sampah organik bisa menjadi pupuk, sampah anorganik bisa didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi," imbuh Zulkifli.
Dia menerangkan, sekitar 80 persen persoalan sampah bisa selesai pada 2029 mendatang. Cara itu bisa dilakukan berbarengan melalui percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah, pengelolaan kawasan terkelola, serta gerakan pemilahan sampah rumah tangga.
"Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan pemerintah sendirian. Jika pemerintah membangun teknologinya dan masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah, kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan produktif," tutur dia.
Sampah Jakarta Jadi Sorotan Presiden
Sebelumnya, Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menandatangani nota kesepahaman (MoU) percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy). Kesepakatan ini disebut sebagai langkah konkret menjawab kondisi darurat sampah di ibu kota.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan persoalan sampah di Jakarta sudah lama menjadi perhatian serius, termasuk Presiden Prabowo Subianto.
“Penanganannya harus cepat, terkoordinasi, dan terintegrasi dari hulu ke hilir. Jakarta ini bahkan mendapat perhatian khusus dari Presiden,” ujar Zulkifli di Kemenko Bidang Pangan, Senin (4/6/2026).
Timbunan Sampah Setara Gedung
Ia memaparkan, timbunan sampah Jakarta saat ini mencapai sekitar 9.000 ton per hari. Sebanyak 87% di antaranya masih bergantung pada sistem open dumping, terutama di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang kapasitasnya telah terlampaui.
“Kalau dilihat, ketinggian timbunan di Bantar Gebang itu sudah seperti gedung belasan lantai,” katanya.
Ubah Sampah Jadi Listrik
Melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, pemerintah mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik (PSEL) di berbagai daerah. Untuk Jakarta, dua lokasi yang diusulkan berada di Bantar Gebang dan Kamal Muara.
Penandatanganan MoU dengan Danantara, lanjut Zulkifli, menjadi simbol komitmen bersama untuk mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi. Ia menargetkan dalam dua tahun ke depan, dampak penumpukan sampah yang selama ini dirasakan warga bisa mulai teratasi.
“Ini bukan sekadar tanda tangan, tapi kontrak dengan jutaan warga Jakarta. Sampah yang menumpuk dan berbau itu akan diubah menjadi listrik yang bermanfaat,” ujarnya.