Selat Hormuz Dibuka, Pasar Minyak Global Masih Dibayangi Krisis Pasokan

Analis menilai, pembukaan Selat Hormuz menjadi tahap awal untuk pasokan minyak karena perlu tahapan agar kembali pulih.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 21 Juni 2026, 06:52 WIB
Sebuah perahu motor kecil melewati kapal-kapal yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Kamis, 11 Juni 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Pembukaan kembali Selat Hormuz setelah Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan pekan ini belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran di pasar energi global. Meski harga minyak sempat turun tajam, sejumlah analis menilai, risiko kenaikan harga minyak masih membayangi akibat menipisnya cadangan minyak dunia.

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, mengatakan pasar seolah menganggap krisis telah berakhir, padahal proses normalisasi pasokan masih membutuhkan waktu panjang.

“Semua orang berpikir masalah ini sudah selesai. Padahal masih ada tantangan logistik besar untuk kembali ke kondisi semula,” katanya seperti dilansir dari CNN, Minggu (21/6/2026).

Dia menuturkan, pembukaan Selat Hormuz hanya menjadi langkah awal. Jalur pelayaran masih perlu dibersihkan, kapal tanker harus kembali beroperasi, dan produksi minyak perlu ditingkatkan sebelum pasokan dapat kembali normal. Proses tersebut diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.

“Pasar sudah melompat tujuh langkah lebih jauh dari kondisi yang sebenarnya,” ujarnya.

Selama hampir empat bulan konflik berlangsung, pasokan minyak dari Timur Tengah terganggu dan menyebabkan hilangnya sekitar 1,15 miliar barel minyak dari pasar global, menurut data Kpler.

Kondisi tersebut menggerus cadangan minyak dunia. Stok minyak global dilaporkan telah menyusut sekitar 190 juta barel dalam beberapa bulan terakhir, sementara cadangan strategis negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) berada pada level terendah sejak 1990.

Harga minyak Brent yang sempat menyentuh US$ 126,41 per barel saat konflik memuncak kini turun ke bawah US$ 80 per barel setelah tercapainya kesepakatan antara Iran dan AS. Namun, sejumlah pelaku pasar menilai penurunan harga tersebut terlalu cepat dibanding kondisi fundamental yang masih rapuh.

Analis Kpler, Matt Smith, juga memperkirakan harga energi masih berpotensi naik dalam beberapa bulan mendatang karena pasar tetap bergantung pada cadangan yang terus menyusut.

 

 

Bantalan Pasokan

Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Secara matematis, bahkan jika produksi global meningkat hampir 5 juta barel per hari di atas kebutuhan pasar seperti proyeksi IEA, dunia masih membutuhkan sekitar satu tahun untuk menggantikan 1,15 miliar barel pasokan yang hilang selama konflik.

“Hal itu belum terlihat sekarang karena pasar masih optimistis terhadap kesepakatan yang tercapai. Namun pada akhirnya kekuatan pasar akan kembali berlaku,” ujarnya.

Analis Macquarie Group, Vikas Dwivedi, menilai cadangan minyak memang telah menyusut, tetapi pasar masih memiliki bantalan pasokan yang cukup. Sebagai contoh, stok bensin Amerika Serikat saat ini hanya sekitar 5% lebih rendah dibanding tahun lalu, sementara stok solar berada 12,4% di bawah rata-rata lima tahun terakhir.

“Kita memiliki bantalan yang besar, dan sekarang bantalan itu sudah banyak terpakai,” ucapnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya