Liputan6.com, Jakarta - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi membawa kabar baik bagi konsumen bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan menekan harga minyak dunia, yang pada akhirnya dapat membuka ruang bagi penurunan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax.
Ekonom energi dari Core Indonesia, Muhammad Ishak Razak, mengatakan perdamaian kedua negara tersebut memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi Indonesia, terutama melalui stabilitas sektor energi dan kondisi makroekonomi nasional.
Advertisement
Menurut dia, berakhirnya ketegangan membuat premi risiko geopolitik pada jalur distribusi energi menurun. Dampaknya, biaya asuransi dan logistik pengiriman minyak mentah menggunakan kapal tanker menjadi lebih murah sehingga harga minyak dunia langsung terkoreksi setelah pengumuman kesepakatan tersebut.
“Penurunan harga minyak sangat menguntungkan bagi Indonesia karena kita masih berstatus sebagai net importir minyak,” kata Ishak kepada Liputan6.com, Sabtu (20/6/2026).
Ia menjelaskan, harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah, sekaligus membantu meredam tekanan inflasi. Selain itu, biaya impor yang menurun juga berpotensi memperbaiki neraca perdagangan dan mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Jika kondisi tersebut dibarengi dengan membaiknya sentimen terhadap ekonomi domestik, penguatan rupiah berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Dari sisi harga BBM, Ishak menilai, dampak penurunan harga minyak global tidak serta-merta dirasakan dalam waktu dekat. Pasalnya, penetapan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax menggunakan mekanisme rata-rata harga minyak dan kurs pada periode sebelumnya.
Bantu Jaga Daya Beli
Dia menuturkan, formula yang digunakan mengacu pada harga Mean of Platts Singapore (MOPS) dan nilai tukar dalam rentang perhitungan bulanan periode tanggal 25 hingga 24. Karena itu, penurunan harga minyak mentah yang terjadi sepanjang Juni baru akan tercermin pada siklus penyesuaian harga Juli.
Dengan asumsi harga minyak dunia bertahan di kisaran US$ 78 per barel dan nilai tukar rupiah tetap stabil, Pertamina memiliki peluang untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi pada periode mendatang.
“Pertamax berpotensi turun dari Rp 16.250 menjadi sekitar Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per liter pada siklus penetapan berikutnya,” ujar Ishak.
Ia menambahkan, penurunan harga masih bisa berlanjut apabila harga minyak global terus melemah dan rupiah menguat. Kondisi tersebut dinilai dapat membantu menjaga daya beli masyarakat di tengah normalisasi harga energi dunia.