MSCI Pertahankan Status Indonesia, Investor Harus Cermati Hal Ini

MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 19 Juni 2026, 10:48 WIB
Ilustrasi layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan. MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market memang meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi penurunan status menjadi Frontier Market. Namun, menurut Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata, investor tidak seharusnya hanya berfokus pada status klasifikasi tersebut.

Liza menilai laporan terbaru MSCI justru memberikan pesan yang lebih penting mengenai persepsi investor global terhadap kualitas pasar modal Indonesia. Risiko yang lebih besar saat ini bukanlah kehilangan status Pasar Berkembang, melainkan meningkatnya premi risiko yang dibebankan investor asing terhadap Indonesia.

"Dampak yang lebih realistis, investor asing mungkin tetao memiliki saham lebih rendah risiko yang lebih besar dari laporan ini bukanlah penurunan klasifikasi, tetapi premi risiko yang lebih tinggi yang diberikan kepada Indonesia," kata Liza dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, temuan MSCI memberikan alasan tambahan bagi investor global untuk tetap berhati-hati meskipun valuasi saham Indonesia dinilai semakin menarik.

"Laporan ini memberikan wawasan berharga tentang mengapa investor asing mungkin terus berhati-hati terhadap Indonesia meskipun valuasi semakin menarik," ujarnya.

Sorotan MSCI

Dalam laporan tersebut, MSCI secara khusus menyoroti sejumlah isu seperti transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, hingga dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi di pasar.

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan kondisi pasar sepanjang tahun ini. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell hampir Rp 80 triliun di pasar saham Indonesia.

"Temuan MSCI memberikan pembenaran tambahan bagi investor global untuk berpendapat bahwa 'Indonesia mungkin murah, tetapi transparansi dan kualitas penemuan harga tetap menjadi perhatian.' Narasi ini konsisten dengan perkembangan pasar terkini bahwa investor asing telah mencatat penjualan bersih hampir Rp 80 triliun sepanjang tahun ini," ujarnya.

Penurunan Rating Aliran Informasi Jadi Sorotan

Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liza mengungkapkan bahwa salah satu poin penting dalam tinjauan MSCI adalah penurunan penilaian Indonesia pada aspek Information Flow atau Aliran Informasi dari sebelumnya "+" menjadi "-".

Penurunan tersebut dikaitkan dengan kekhawatiran mengenai transparansi kepemilikan, kualitas saham yang beredar bebas di publik (free float), serta praktik perdagangan yang dinilai berpotensi memengaruhi proses price discovery atau pembentukan harga yang wajar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa status Indonesia sebagai Emerging Market masih relatif aman untuk saat ini.

"Namun, laporan ini berfungsi sebagai peringatan bahwa tata kelola pasar dan kualitas penemuan harga semakin mendapat pengawasan ketat dari investor global," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya