Liputan6.com, Jakarta - PT Prodia Diagnostic Line Tbk atau Proline, perusahaan bergerak di bidang pembuatan dan pengolahan alat kesehatan terkait diagnose medis akan menggelar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).
Mengutip prospektus perseroan di e-ipo, ditulis Jumat, (19/6/2026), Proline akan menawarkan maksimal 522,90 juta saham ke publik dengan nilai nominal Rp 50 per saham. Jumlah saham yang dilepas ke publik itu setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO. Perseroan menawarkan harga Rp 100-Rp 120 per saham. Dengan demikian, dana yang diperoleh dari IPO maksimal Rp 62,74 miliar.
Advertisement
Selain itu, perseroan juga mengadalam program alokasi saham pegawai atau employee stock allocation (ESA) dengan jumlah saham maksimal 36,60 juta saham. Jumlah saham untuk program ESA setara 7% dari saham yang ditawarkan ke publik.
Perseroan akan memakai dana IPO antara lain sebesar Rp 35,66 miliar untuk pelunasan pokok fasilitas kredit kepada PT Bank Central Asia Tbk dan pelunasan pokok fasilitas kredit kepada PT Bank Pan Indonesia Tbk. Kemudian sekitar 28,92% dipakai untuk belanja modal. "Sisanya sekitar 8,51% akan digunakan untuk modal kerja perseroan," demikian seperti dikutip.
Apabila dana yang diperoleh dari IPO ini tidak dipergunakan langsung, Perseroan hanya dapat menempatkan dana atas nama Perseroan dalam instrumen keuangan yang aman, likuid dan tidak mengalami fluktuasi harga.
Hingga 2025, perseroan mencatat pendapatan Rp 74,37 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 58,65 miliar. Sedangkan laba tahun berjalan naik menjadi Rp 16,98 miliar hingga 2025 dari 2024 sebesar Rp 9,99 miliar. Liabilitas turun menjadi Rp 111,36 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 117,89 miliar. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp 83,06 miliar hingga 2025 dari 2024 sebesar Rp 66,18 miliar. Aset perseroan naik menjadi Rp 194,42 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 184,07 miliar. Perseroan telah menunjuk PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam rangka IPO.
Jadwal IPO
- Masa Penawaran Awal: 18– 23 Juni 2026
- Tanggal Efektif Pernyataan Pendaftaran dari Otoritas Jasa Keuangan : 29 Juni 2026
- Masa Penawaran Umum: 1 – 7 Juli 2026
- Tanggal Penjatahan : 7 Juli 2026
- Tanggal Distribusi Saham secara Elektronik: 8 Juli 2026
- Tanggal Pencatatan Saham di Bursa Efek Indonesia: 9 Juli 2026
Penutupan IHSG pada 17 Juni 2026
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih di zona merah meski tekanan berkurang pada perdagangan saham, Kamis, (18/6/2026). Pergerakan IHSG ini di tengah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75% dan transaksi harian saham di bawah Rp 20 triliun.
Mengutip data RTI, IHSG ditutup turun 0,78% menjadi 6.172,34. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,33% menjadi 616,92. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menuturkan, dampak kenaikan BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% ke saham, efeknya lebih campuran. Di satu sisi, stabilisasi rupiah bisa menurunkan risk premium Indonesia dan menjadi sentimen positif bagi asing. Namun, ia menilai, kenaikan bunga menekan valuasi saham, menaikkan cost of fund atau biaya pendanaan, dan berpotensi memperlambat konsumsi serta investasi.
"Jadi, menurut kami ini lebih tepat disebut sebagai obat stabilisasi daripada solusi penuh. BI bisa membeli waktu dan meredam tekanan rupiah, tetapi inflow asing yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan dari fiskal yang kredibel, belanja pemerintah yang lebih efisien, komunikasi kebijakan yang lebih jelas, serta regulasi yang lebih predictable. Tanpa itu, kenaikan BI Rate hanya akan menjadi painkiller jangka pendek,” ujar dia.
Sektor Saham
Pada sesi kedua, IHSG berada di level tertinggi 6.197,17 dan terendah 6.073,72. Sebanyak 419 saham melemah sehingga bebani IHSG. 258 saham menguat dan 137 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.833.593 dan total volume perdagangan saham 25,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 18 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.839.
Mayoritas sektor saham memerah. Sektor saham infrastruktur turun 1,96%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham keuangan turun 1,32%, sektor saham kesehatan terpangkas 1,07%.
Lalu sektor saham industri melemah 0,16%, sektor saham consumer nonsiklikal terperosok 0,12%, sektor saham properti susut 0,64%. Sementara itu, sektor saham energi naik 0,12%, sektor saham basic melonjak 2,49%, sektor saham consumer siklikal naik 0,47%. Lalu sektor saham teknologi menanjak 0,04% dan sektor saham transportasi bertambah 0,29%.