Harga Telur dan Ayam Turun Dapat Diserap untuk Program MBG

Kementerian Perdagangan buka potensi harga produk pangan dan komoditas yang turun dapat diserap untuk program bantuan pangan.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 08 Juni 2026, 17:30 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kementerian Perdagangan, Senin, (8/6/2026). (Foto: Liputan6.com/Maulandy R)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso menuturkan, produk dan komoditas pangan yang mengalami penurunan harga dapat digeser untuk program bantuan pangan. Mendag mencontohkan telur ayam, yang sempat dialihkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) ketika harga di tingkat peternak jatuh. 

"Telur sempat harganya turun kita langsung berkoordinasi dengan MBG. Sehingga telur yang harganya di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi) bisa diserap ya di SPPG di daerah setempat," ujar dia di Kantor Kementerian Perdagangan, Senin, (8/6/2026).

"Tidak hanya telur, kebutuhan pokok yang nanti turun misalnya ayam. Ayam kalau harga turun juga bisa diserap MBG," dia menambahkan. 

Pergeseran produk untuk bantuan pangan ini seiring produk minyak goreng MinyaKita tidak akan lagi disalurkan untuk program bantuan pangan.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah berkoordinasi dengan pihak produsen minyak goreng, hingga Perum Bulog dan ID Food untuk kemudian mendistribusikan MinyaKita ke pasar rakyat.  

"Jadi sekarang tidak ada lagi MinyaKita untuk bantuan pangan. Semua akan didistribusikan ke pasar rakyat. Sehingga masyarakat mudah untuk mendapatkan minyak kita," tutur dia.

Mendag juga menegaskan, MinyaKita bukan termasuk sebagai produk minyak goreng subsidi. Adapun itu merupakan produk hasil kewajiban pasokan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO), sebagai syarat pelaku usaha agar bisa mendapatkan jatah ekspor. 

"MinyaKita itu minyak DMO, Domestic Market Obligation. Ketika perusahaan mau ekspor maka harus DMO dulu, harus menyediakan MinyaKita," ujar dia. 

Harga MinyaKita Bakal Naik

Produk MinyaKita. (Foto: Bapanas)

Pada awal Juni 2026, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan akan ada kenaikan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng Minyakita. Besaran kenaikan HET Minyakita akan ditetapkan sekitar dua minggu lagi.

Setelah dia dan jajaran terkait rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, disepakati akan ada penyesuaian HET Minyakita. Namun, angka pasti kenaikannya belum ditentukan.

"Jadi hari ini kita menyepakati akan menaikkan harga eceran tertinggi untuk Minyakita, memang harganya belum disepakati dan kapan akan ditentukan untuk penetapannya," kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Kemendag, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Kenaikan Harga Minyak Sawit

Seorang pekerja mengangkut cangkang sawit di atas rakit di sebuah perkebunan sawit di Sampoiniet, provinsi Aceh (7/3/2021). Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang memiliki produksi terbesar di Kabupaten Aceh . (AFP Photo/Chaideer Mahyuddin)

Diketahui, saat ini HET Minyakita sebesar Rp 15.700 per liter. Budi menilai, angka HET itu belum memberikan ruang yang cukup karena adanya kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

"Karena kita ingin melihat lagi perkembangan harga CPO. Memang harga CPO naik kemarin rata-rata Rp 15.445, tapi kemarin sempat turun lagi menjadi Rp 14.000 sekian, dan kemarin harga TBS (tandan buah segar sawit) juga sempat turun, tapi sekarang sudah mulai naik lagi," jelas dia.

Penetapan harga baru HET Minyakita akan mengacu pada harga CPO setelah stabil nantinya. "Jadi kita akan melihat harganya stabil, setelah itu baru ditetapkan berapa angka untuk kenaikan harga eceran tertinggi untuk Minyakita," ucapnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya