10 Perbedaan SPMB dan PPDB yang Wajib Diketahui Calon Siswa

Simak perbedaan SPMB dan PPDB yang berlaku mulai tahun ajaran 2025/2026. Pelajari perubahan jalur domisili, kuota prestasi, dan mekanisme seleksi terbaru di sin

oleh Mabruri Pudyas SalimDiterbitkan 05 Juni 2026, 13:29 WIB
Banner Grafis Bocoran PPDB 2025 Diubah Jadi SPMB (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Mulai tahun ajaran 2025/2026, sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) resmi digantikan oleh Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan transformasi kebijakan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 3 Tahun 2025 untuk menjamin proses penerimaan yang lebih transparan dan adil.

Banyak orang tua dan calon siswa yang mungkin masih merasa bingung dengan transisi sistem ini. Padahal, perbedaan SPMB dan PPDB mencakup aspek yang sangat fundamental, mulai dari filosofi seleksi, jalur penerimaan, hingga mekanisme penanganan bagi siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri.

Artikel ini akan mengupas tuntas 10 perbedaan utama antara SPMB dan PPDB agar Anda lebih siap menghadapi proses pendaftaran tahun 2026. Jadi simak perbedaan di antara keduanya secara detail, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (5/6/2026).

1. Nama dan Filosofi Dasar

Seleksi Penerimaan Murid Baru atau SPMB telah resmi dibuka bagi calon murid baru di wilayah Jakarta untuk tahun ajaran 2025/2026. (www.spmb.jakarta.go.id)

PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) selama ini berorientasi pada aspek administratif dan zonasi geografis. Sebaliknya, SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) hadir dengan filosofi yang lebih inklusif dan berorientasi pada potensi, minat, serta bakat calon murid. Penggunaan istilah "murid" dalam SPMB pun dipilih untuk memberikan kesan yang lebih dekat dan inklusif bagi seluruh peserta didik.

2. Jalur Penerimaan (Konsep & Istilah)

Siswi didampingi orangtuanya mengisi formulir Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Rabu (15/6). PPDB jalur pemegang Kartu Menuju Sehat (KMS) diminati siswa untuk mendapatkan sekolah favorit. (Liputan6.com/Boy Harjanto)

Jika pada PPDB kita mengenal istilah "zonasi", dalam SPMB istilah tersebut resmi diganti menjadi "jalur domisili". Perubahan ini menekankan pada pendekatan wilayah administratif atau rayon, bukan sekadar hitung-hitungan jarak kilometer. Selain itu, jalur mutasi dalam SPMB diperluas untuk mengakomodasi anak guru yang mendaftar di sekolah tempat orang tuanya mengajar, yang sebelumnya tidak diatur secara eksplisit dalam PPDB.

3. Definisi Domisili vs Zonasi

Ilustrasi siswa-siswi sekolah mengikuti upacara bendera.

Dalam sistem PPDB, zonasi sangat bergantung pada jarak rumah ke sekolah sebagai prioritas utama. Di sisi lain, jalur domisili pada SPMB lebih menekankan pada kesesuaian wilayah administratif yang ditetapkan pemerintah daerah. Pendekatan rayon ini dirancang untuk memastikan pemerataan layanan pendidikan di satuan pendidikan terdekat sesuai dengan kewenangan wilayah masing-masing daerah.

4. Kuota Jalur untuk SD

Sejumlah siswa berbaris mengikuti upacara Hari Kesaktian Pancasila, di Halaman Monumen Pancasila Sakti, Jakarta, Minggu (1/10). Sejumlah pelajar mulai dari SD hingga SMA terpilih turut memeriahkan upacara ini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), baik sistem PPDB maupun SPMB tidak memberlakukan jalur prestasi. Kuota untuk SD tetap mengedepankan domisili paling sedikit 70%, afirmasi paling sedikit 15%, dan mutasi paling banyak 5%.

5. Kuota Jalur untuk SMP (Perubahan Signifikan)

Siswa SMP. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Terdapat perubahan kuota yang mencolok pada jenjang SMP. Kuota jalur domisili diturunkan dari minimal 50% (pada PPDB) menjadi minimal 40% (pada SPMB). Sebaliknya, kuota jalur afirmasi naik menjadi minimal 20% dan jalur prestasi kini diwajibkan minimal 25%, yang sebelumnya hanya mengandalkan sisa kuota.

6. Kuota Jalur untuk SMA

Ilustrasi siswa, pelajar, murid SMA, anak sekolah. (Photo by Ed Us on Unsplash)

Pergeseran drastis terjadi pada jenjang SMA. Kuota jalur domisili turun menjadi minimal 30%. Sebagai gantinya, pemerintah meningkatkan keberpihakan pada siswa kurang mampu dan berprestasi dengan menetapkan kuota jalur afirmasi minimal 30% dan jalur prestasi minimal 30%.

7. Bidang Prestasi yang Diakui

Infografis Kemendikdasmen Resmi Ganti PPDB dengan SPMB. (Liputan6.com/Abdillah) 

SPMB lebih mendetail dalam mengklasifikasikan prestasi. Prestasi akademik mencakup sains, teknologi, riset, dan inovasi, sementara non-akademik meliputi seni, budaya, bahasa, dan olahraga. Yang menarik, SPMB menambahkan bidang kepemimpinan (seperti pengurus OSIS atau Pramuka) sebagai komponen prestasi yang dapat dipertimbangkan sekolah.

8. Sasaran Jalur Mutasi

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq memantau langsung pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 di dua sekolah, yakni SMK Negeri 7 Semarang dan SMA Negeri 11 Semarang pada Selasa (17/6/2025).

Jalur mutasi pada PPDB biasanya hanya terbatas pada perpindahan tugas orang tua ke luar daerah. Pada SPMB, sasaran jalur mutasi diperluas dengan memasukkan anak guru yang ingin mendaftar di sekolah tempat orang tuanya bertugas, memberikan kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan akses pendidikan di lingkungan kerja orang tuanya.

9. Penanganan Siswa Tidak Tertampung

Pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jakarta 2025. (Dok. spmb.jakarta.go.id )

Salah satu terobosan besar SPMB adalah jaminan bagi siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri. Jika dalam PPDB siswa hanya diarahkan ke sekolah lain yang masih memiliki kuota, dalam SPMB, pemerintah daerah akan mengarahkan siswa ke sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang ditanggung oleh pemerintah daerah untuk jenjang tertentu.

10. Target Jenjang Pendidikan

Seleksi Penerimaan Murid Baru atau SPMB tahun 2025 telah resmi dibuka bagi calon siswa wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat. (www.spmb.bekasikota.go.id)

SPMB berlaku untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Namun, penting untuk diingat bahwa istilah "SPMB" juga kerap digunakan untuk Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru di perguruan tinggi. Pastikan Anda tidak tertukar antara SPMB untuk sekolah (TK-SMA) dengan SNPMB untuk kuliah.

Pertanyaan Seputar Perbedaan SPMB dan PPDB

Q1: Apakah SPMB sepenuhnya menggantikan PPDB?

A: Ya, mulai tahun ajaran 2025/2026, SPMB resmi menggantikan PPDB untuk jenjang TK hingga SMA/SMK.

Q2: Apakah sistem zonasi dihapus total?

A: Istilah "zonasi" diganti dengan "domisili" dengan pendekatan wilayah administratif (rayon), bukan lagi sekadar jarak tempuh.

Q3: Apa keuntungan utama SPMB?

A: SPMB memberikan peluang lebih besar melalui kuota afirmasi dan prestasi yang lebih tinggi, serta adanya jaminan biaya sekolah swasta bagi siswa yang tidak tertampung di negeri.

Q4: Apakah anak guru otomatis diterima di sekolah tempat orang tua mengajar?

A: Tidak otomatis, namun mereka masuk dalam sasaran jalur mutasi dengan kuota maksimal 5%.

Q5: Apakah ada tes masuk dalam SPMB?

A: Tidak ada tes calistung untuk SD. Untuk SMP dan SMA, sekolah dapat menggunakan rapor, portofolio prestasi, atau tes potensi akademik sesuai kebijakan daerah.

Q6: Apakah SPMB berlaku untuk sekolah swasta?

A: Sekolah swasta dapat mengikuti SPMB secara sukarela, namun tidak wajib.

Q7: Apakah istilah SPMB sama dengan SNPMB kuliah?

A: Tidak sama. SPMB untuk sekolah (TK-SMA), sedangkan SNPMB untuk seleksi masuk perguruan tinggi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya