Parlemen Uni Eropa Diskusikan Piala Dunia 2022 Dengan FIFA

Parlemen Uni Eropa memanggil Presiden FIFA, Sepp Blatter. Uni Eropa ingin membahas soal kontraktor untuk Piala Dunia 2014.

oleh Liputan6Diterbitkan 23 November 2013, 04:19 WIB

Piala Dunia 2022 yang akan dilangsungkan di Qatar mendapat masalah ketika ada sebuah laporan jika kontraktor yang membangun sarana dan prasarana di sana memperlakukan pekerjanya bagaikan budak. Pekerja yang membangun stadion diperlakukan secara tidak manusiawi dengan tidak mendapat bayaran, sanitasi buruk, dan penyitaan passport agar tidak dapat pergi dari Qatar.

FIFA pun dianggap bertanggung jawab atas pemberangusan hak asasi pekerja tersebut. FIFA pun membela diri dengan mengatakan apabila para perusahaan kontraktorlah yang harus bertanggung jawab, dan banyak perusahaan asal Eropa yang ambil bagian dalam pembangunan di Qatar.

Konfederasi Serikat Dagang Internasional (ITUC) pun ikut berkomentar atas masalah tersebut. ITUC mengatakan apabila bukan tidak mungkin akan ada 4000 pekerja yang akan tewas karena perlakuan tidak manusiawi dalam proyek persiapan Piala Dunia 2022.

Bukan hanya ITUC, seperti yang diberitakan ESPN, Jumat (22/11/2013, masalah di Qatar pun membuat Parlemen Uni Eropa ikut angkat bicara. Parlemen Uni Eropa meminta FIFA untuk mengirim pesan yang jelas dan kuat kepada panitia di Qatar untuk segera mengatasi masalah tersebut. Apabila FIFA lamban menyelesaikan masalah tersebut, maka FIFA dan Piala Dunia akan dianggap sebagai pembantu perbudakan modern. Parlemen Uni Eropa pun berharap dapat bertemu dengan FIFA guna membicarakan masalah tersebut.

Sementara itu pihak Pemerintah Qatar mencoba memberi tanggapan terhadap permintaan Parlemen Uni Eropa. Pemerintah FIFA meminta waktu kepada Parlemen FIFA untuk menunggu hasil investigasi yang dilakukan pihak independen sebelum memasuki tahap selanjutnya.(Gan)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya