Pertamina Soccer School Gembleng Bibit Muda Sepakbola

Pertamina melihat potensi yang besar dari remaja-remaja Indonesia peminat sepak bola untuk memajukan dunia sepak bola di Indonesia.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 November 2013, 00:01 WIB

Sepak bola merupakan olahraga yang paling digemari di seluruh dunia. Pertandingan sekelas Piala Dunia, Liga Champion dan Piala Eropa, tidak pernah sepi penonton. Tidak sedikit pemain sepak bola dunia yang sukses meniti karir di bidang lain setelah sukses di dunia sepak bola. Namun, tidaklah mudah meniti karir di dunia sepak bola, seperti halnya tidak mudah suatu klub sepak bola mendapatkan bibit unggul.

PT Pertamina (Persero) melihat potensi yang besar dari remaja-remaja Indonesia peminat sepak bola untuk memajukan dunia sepak bola di Indonesia. Hal ini diwujudkan dengan pembentukan Pertamina Soccer School (PSS) yang secara resmi beroperasi pada September 2012 lalu.

Direktur Pertamina Soccer School, Hadi Rahmaddani mengatakan, "Visi PSS adalah menjadi sekolah sepakbola yang melahirkan pesepakbola muda yang tangguh dan berkarakter serta menjadi kebanggaan bangsa,” kata Hadi.

PSS berambisi menjaring seluruh pemain muda berbakat di seluruh Tanah Air. Hal ini tidak berlebihan, mengingat PSS telah menjangkau enam wilayah di Indonesia kendati usia baru menginjak tahun kedua. Keenam daerah tersebut yakni Palembang, Malang, Balikpapan, Kalimantan, Makassar, dan Papua.

Keseriusan Pertamina dalam mengembangkan PSS diwujudkan dengan mengangkat Pelatih AC Milan Soccer School, Mauro Ardizzone sebagai Direktur Teknik PSS. Hadi juga berencana menggandeng pemain-pemain sepakbola profesional untuk menjadi motivator dari PSS. PSS menyediakan berbagai fasilitas bagi para siswa yang berhasil lolos ujian masuk PSS dari berbagai daerah. Mulai dari asrama, fasilitas olah raga, pendidikan formal hingga uang saku, disediakan Pertamina bagi para siswa PSS.

Untuk bisa mendapatkan beasiswa PSS, anak-anak berusia antara 15-17 tahun ini perlu melalui beberapa tahap uji. Official PSS, Alfian Yuliandi mengatakan, beberapa tahapan test harus dilalui untuk melihat bakat dan kemampuan para siswa di bidang sepakbola.

"Proses seleksi mencakup tes fisik, keterampilan, psikologi, dan kesehatan. Kami mengirimkan beberapa tim ahli yang berangkat ke tiap daerah untuk mencari bibit-bibit potensial ini. Jika berhasil direkrut, mereka akan dikontrak 3 tahun, namun tetap ada evaluasi. Apabila tidak ada peningkatan performa, peserta bisa gugur," jelas Alfian.

Alfian juga memaparkan, para siswa digembleng dengan berbagai latihan disiplin agar kelak menjadi pemain profesional yang dapat mengharumkan nama bangsa. "Mereka rata-rata bangun jam 5.00 untuk ibadah, dilanjutkan dengan sarapan pagi sekitar jam 5.30. Jam 6.00 mereka sudah home schooling. Latihan dijadwalkan setiap hari, pagi atau sore. Di akhir pekan diadakan pertandingan U-16 Liga Pertamina. Setiap hari mereka latihan minimal 2 sampai 3 jam," papar Alfian.

Jadwal yang relatif padat tersebut ternyata tidak menyurutkan semangat para siswa untuk mengembangkan bakatnya di PSS. Letih berlatih diakui melanda para siswa, namun, semangat para siswa untuk menggapai impian menjadi pesepakbola tangguh, terlalu besar untuk dikalahkan oleh rasa letih.

Julius Josel Omkarsba (15), pemain bek kiri, mengungkapkan demi mimpinya di dunia sepak bola, ia ingin sebanyak-banyaknya menyerap ilmu dan mengasah kemampuan di PSS. "Mimpi saya bisa bermain di Eropa. Mengharumkan nama bangsa dan membuat orang tua bangga," kata Josel, peserta yang berasal dari Sorong. (Advertorial/Igw)

Baca Juga:

Melestarikan Maleo Sebagai Wujud Kecintaan pada Budaya

Menuai Rezeki dari Mangrove

Tak Sangka Bisa Kuliah

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya