Pembagian daging kurban di Masjid Istiqlal, Jakarta, berlangsung ricuh. Beberapa orang diduga tewas. Sementara beberapa lainnya mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sebanyak 7 orang tertangkap tangan saat tengah mengantre. Ada apa gerangan?
Ketujuh orang itu diketahui masuk dalam antrean pengambilan daging sebanyak 2 kali. Padahal setiap warga hanya diberi satu kali kesempatan saja untuk mengambil daging. Di antara ketujuh orang yang ditangkap polisi itu adalah Imam, pemuda 17 tahun.
"Iya saya ngambil lagi. Dua kali. Itu yang satu punya temen," kata Imam saat diinterogasi polisi di lokasi, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2013).
"Ngantri dari jam 05.00 WIB. Tadi baris bener. Baru ini ikut tahun ini," imbuhnya.
Imam mengaku, daging kurban yang diambilnya akan digunakan untuk keperluan pribadi. Tak ada niat untuk menjualnya kembali. "Ini enggak dijual. Buat nyate. Buat masak," ujarnya.
Begitu pun dengan Ratim (58). Dia nekat mengantre daging kurban sebanyak 2 kali demi kebutuhan hidupnya. Padahal sebenarnya dia mengaku ketakutan. Panitia mendapati bekas tinta biru di jari kelingking Ratim, tanda dia telah mengambil daging. Padahal Ratim telah mempersiapkan diri untuk mengakali soal tinta ini. Namun belum sempat membersihkan bekas tinta, dia sudah tertangkap basah.
"Takut sih. Tapi yah, ini belum sempet ngambil lagi. Saya beli sendiri autannya buat bersihin jari," tutur Ratim.
Lain halnya dengan Munawar (45) yang mengaku datang dari pukul 05.00 WIB untuk mengantre daging kurban. Ia berkilah bungkusan daging pertama yang ia peroleh dirampas oleh seseorang yang tidak ia kenal. Maka, ia pun nekat mengantre kembali.
"Saya terus terang ngambil dua kali karena dagingnya dibawa orang. Ada yang nawar mau beli, terus ditarik terus dibawa kabur. Emosi enggak dapat, jadi saya antre lagi. Tadi ada orang bersihin pake autan, jadi saya ikutan," ujar warga Jatinegara itu sambil menunduk lesu.
Selain para pria, perempuan juga tak mau kalah menguji keberuntungan dengan mengantre daging 2 kali. Meski sudah tertangkap basah, namun keduanya menolak jika dicap berbuat curang. Tinta biru yang menempel pada jari mereka diklaim sebagai bekas pengambilan daging di tempat lain pada Selasa kemarin.
"Kemarin ngambil juga di Cut Nyak Dien. Saya kira di sini enggak pakai tinta," ujar Aang (32).
Setali dua uang dengan Aang, Yeni (30) pun memiliki alasan di balik warna biru pada jarinya. Saat digotong ke pos polisi, dia terus mengatakan warna biru jarinya karena obat sariawan anaknya.
"Belum ngantre. Demi Allah, bukan ngantre. Ini obat biru. Belum ngambil daging," ucapnya.
Keempatnya kini dibawa ke Polsek Sawah Besar. Sementara 3 lainnya masih menunggu di Pos Polisi Masjid Istiqlal. (Ndy)
Ketujuh orang itu diketahui masuk dalam antrean pengambilan daging sebanyak 2 kali. Padahal setiap warga hanya diberi satu kali kesempatan saja untuk mengambil daging. Di antara ketujuh orang yang ditangkap polisi itu adalah Imam, pemuda 17 tahun.
"Iya saya ngambil lagi. Dua kali. Itu yang satu punya temen," kata Imam saat diinterogasi polisi di lokasi, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2013).
"Ngantri dari jam 05.00 WIB. Tadi baris bener. Baru ini ikut tahun ini," imbuhnya.
Imam mengaku, daging kurban yang diambilnya akan digunakan untuk keperluan pribadi. Tak ada niat untuk menjualnya kembali. "Ini enggak dijual. Buat nyate. Buat masak," ujarnya.
Begitu pun dengan Ratim (58). Dia nekat mengantre daging kurban sebanyak 2 kali demi kebutuhan hidupnya. Padahal sebenarnya dia mengaku ketakutan. Panitia mendapati bekas tinta biru di jari kelingking Ratim, tanda dia telah mengambil daging. Padahal Ratim telah mempersiapkan diri untuk mengakali soal tinta ini. Namun belum sempat membersihkan bekas tinta, dia sudah tertangkap basah.
"Takut sih. Tapi yah, ini belum sempet ngambil lagi. Saya beli sendiri autannya buat bersihin jari," tutur Ratim.
Lain halnya dengan Munawar (45) yang mengaku datang dari pukul 05.00 WIB untuk mengantre daging kurban. Ia berkilah bungkusan daging pertama yang ia peroleh dirampas oleh seseorang yang tidak ia kenal. Maka, ia pun nekat mengantre kembali.
"Saya terus terang ngambil dua kali karena dagingnya dibawa orang. Ada yang nawar mau beli, terus ditarik terus dibawa kabur. Emosi enggak dapat, jadi saya antre lagi. Tadi ada orang bersihin pake autan, jadi saya ikutan," ujar warga Jatinegara itu sambil menunduk lesu.
Selain para pria, perempuan juga tak mau kalah menguji keberuntungan dengan mengantre daging 2 kali. Meski sudah tertangkap basah, namun keduanya menolak jika dicap berbuat curang. Tinta biru yang menempel pada jari mereka diklaim sebagai bekas pengambilan daging di tempat lain pada Selasa kemarin.
"Kemarin ngambil juga di Cut Nyak Dien. Saya kira di sini enggak pakai tinta," ujar Aang (32).
Setali dua uang dengan Aang, Yeni (30) pun memiliki alasan di balik warna biru pada jarinya. Saat digotong ke pos polisi, dia terus mengatakan warna biru jarinya karena obat sariawan anaknya.
"Belum ngantre. Demi Allah, bukan ngantre. Ini obat biru. Belum ngambil daging," ucapnya.
Keempatnya kini dibawa ke Polsek Sawah Besar. Sementara 3 lainnya masih menunggu di Pos Polisi Masjid Istiqlal. (Ndy)