Liputan6.com, Jakarta: TNI tengah mempertimbangkan untuk mengadakan gencatan senjata selama dua hari dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menurut Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, TNI bersedia mengadakan jeda konflik dengan GAM jika kelompok separatis itu berkomitmen membebaskan semua sandera serta tak mengulangi penculikan dan penyanderaan warga sipil.
"Kalau mereka [GAM] janji bahwa [penyanderaan warga sipil, termasuk Ferry Santoro] itu kasus terakhir ya, oke," kata Panglima TNI sebelum mengikuti rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/1).
Panglima menjelaskan, sebelum memutuskan menerima syarat dari GAM itu, TNI masih menunggu perkembangan. Sebab, TNI tidak mau GAM kembali menyandera warga sipil dan menjadikannya tameng untuk meminta gencatan senjata. TNI bersikeras penyanderaan Ferry Santoro adalah yang terakhir.
Sebelumnya Panglima TNI secara tegas menolak permintaan GAM untuk gencatan senjata selama dua hari sebagai salah satu syarat pembebasan juru kamera RCTI Ferry Santoro. Menurut Panglima TNI, syarat GAM dianggap sama saja dengan merendahkan martabat bangsa dan negara Indonesia [baca: TNI Menolak Permintaan GAM].(SID/Tim Liputan 6 SCTV)
"Kalau mereka [GAM] janji bahwa [penyanderaan warga sipil, termasuk Ferry Santoro] itu kasus terakhir ya, oke," kata Panglima TNI sebelum mengikuti rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/1).
Panglima menjelaskan, sebelum memutuskan menerima syarat dari GAM itu, TNI masih menunggu perkembangan. Sebab, TNI tidak mau GAM kembali menyandera warga sipil dan menjadikannya tameng untuk meminta gencatan senjata. TNI bersikeras penyanderaan Ferry Santoro adalah yang terakhir.
Sebelumnya Panglima TNI secara tegas menolak permintaan GAM untuk gencatan senjata selama dua hari sebagai salah satu syarat pembebasan juru kamera RCTI Ferry Santoro. Menurut Panglima TNI, syarat GAM dianggap sama saja dengan merendahkan martabat bangsa dan negara Indonesia [baca: TNI Menolak Permintaan GAM].(SID/Tim Liputan 6 SCTV)