WhatsApp Dominasi Chat Lintas-Platform, BBM Coba Menyaingi

Kecanggihan sistem operasi menjadikan chatting makin mudah dilakukan dengan aplikasi. WhatsApp menjadi penguasa untuk chat lintas-platform.

oleh Bayu Galih diperbarui 28 Sep 2013, 09:09 WIB
Perangkat komunikasi mobile memang menjadikan orang dengan mudah terhubung, kapan pun dan di mana pun. Begitu pula dengan online chattting. Jika sebelumnya layanan chatting mengandalkan platform berbasis web, canggihnya sistem operasi menjadikan pengguna bisa chatting dengan mudah melalui aplikasi.

BlackBerry memang menjadi salah satu contoh aplikasi chatting yang berhasil. Dirilis pada awal 2006, dilansir dari Guardian, aplikasi chatting ini tercatat memiliki 70 juga pengguna pada periode Agustus 2011.

Sayangnya, BBM hanya terbatas sebagai aplikasi antar-perangkat BlackBerry. Tentu saja popularitas BBM ikut memudar seiring menurunnya pengguna BlackBerry, yang kalah bersaing dengan iPhone atau smartphone berbasis Android.

Tak hanya itu, munculnya sejumlah aplikasi yang memungkinkan penggunanya untuk chatting lintas perangkat juga ikut andil memudarkan popularitas BlackBerry.

WhatsApp Paling Pesat


Sulit untuk mencari tahu aplikasi mana yang pertama kali menghadirkan layanan chatting lintas platform dan lintas perangkat. Tapi tak sulit untuk menyebut, aplikasi mana yang sukses dalam menyediakan layanan chatting lintas platform: WhatsApp.

Hadir dengan nama WhatsApp Messenger, mengutip Forbes, aplikasi ini dibuat pada tahun 2009 oleh dua veteran Yahoo, Brian Acton dan Jan Koum yang juga merangkap sebagai CEO. Setelah membuat WhatsApp Messenger, keduanya lalu membuat perusahaan yang berbasis di Santa Clara, California, Amerika Serikat. 
 
Layanan chat ini memiliki fitur yang sama seperti BBM. WhatsApp Messenger menyediakan layanan chat individu ataupun grup. Selain itu, pengguna juga bisa mengirim teks, gambar, video, audio, dan pesan media seperti lokasi pengguna melalui aplikasi pemetaan Google Maps.

Tapi keistimewaan WhatsApp terletak pada luasnya platform yang dijangkau. WhatsApp hadir di Android, iOS, Windows Phone, bahkan BlackBerry OS. Tak hanya itu, pengguna ponsel fitur berbasis Symbian pun bisa mengakses aplikasi chatting tanpa iklan ini. Selain itu, layanan ini berbasis nomor telepon, sehingga memudahkan banyak pengguna untuk saling terhubung,

Keunggulan ini menjadikan pengguna WhatsApp meningkat pesat. Mengutip The Verge, pada 6 Agustus 2013, WhatsApp mengaku memiliki pengguna aktif sebanyak 300 juta. Malahan ada juga 325 juta foto yang di-share via WhatsApp tiap hari.

Tak heran jika WhatsApp memikat sejumlah raksasa teknologi untuk memiliknya. Mengutip TechCrunch, Facebook disebut tertarik untuk membeli WhatsApp. Dilansir Digital Trends, Google bahkan disebut menyiapkan dana hingga US$ 1 miliar untuk menguasai aplikasi itu. 

Sebagai layanan dengan idealisme untuk hadir tanpa iklan, tentu valuasi itu dianggap besar. Apalagi selama ini WhatsApp juga hanya menjadi aplikasi berbayar di iOS, dan gratis untuk platform lain. Valuasi ini tentu saja lebih melihat kepada luasnya pengguna. Meski demikian, Digital Trends menyebut WhatsApp menghasilkan pendapatan US$ 100 juta tiap tahun. Angka yang bisa menjadi alasan menariknya WhatsApp bagi perusahaan teknologi yang meminatinya.

Foto dok. Liputan6.com


Tapi aplikasi chatting lintas platform tak hanya WhatsApp. Sejumlah perusahaan Asia, terutama Jepang dan Korea Selatan, juga merilis aplikasi chat. Kemudian muncullah aplikasi seperti Line, We Chat, atau Kakao Talk.

Cara berbagai aplikasi itu mendapatkan uang atau monetasi pun terbilang unik. Line misalnya, yang menghadirkan fitur stiker bergambar dengan beragam karakter khas. Toko stiker pun dibuat, sehingga pengguna bisa memakai stiker agar pembicaraan tak membosankan. Tak hanya stiker, Line juga membuat variasi dengan menghadirkan game menarik yang terintegrasi dengan layanan chatting miliknya.

BBM Ikut Lintas Platform

Kehadiran iPhone dan Android memang mengancam keberadaan perangkat BlackBerry, dan tentunya BlackBerry Messenger. Kabar terakhir menyebut perusahaan asal Kanada itu memprediksi kerugian hingga US$ 1 miliar. Ini menyebabkan BlackBerry mempertimbangkan untuk tak lagi terjun ke bisnis penjualan perangkat.

Karena itu bukanlah sebuah kejutan ketika BlackBerry mengumumkan kehadiran BBM akan menjadi aplikasi lintas platform. Mengutip The Verge, ide untuk menghadirkan BBM sebagai aplikasi lintas platform sebenarnya sudah disuarakan oleh eks Co-CEO Jim Balsillie sebelum mundur di Januari 2012.

Secara resmi BlackBerry baru memutuskan BBM jadi lintas platform di 2013. Mengapa?

Menurut Jan Dawson, Kepala Analis Telekomunikasi di Ovum, setelah melihat penggunanya semakin turun, BlackBerry mulai 'ikhlas' untuk melepas BBM. "Kalau mereka menunggu terlalu lama, maka itu (BBM) tak lagi punya nilai," ucap Dawson, dilansir dari The Verge.

Bahkan Wall Street Journal memberitakan kalau BlackBerry Messenger dipertimbangkan sebagai unit bisnis terpisah, dan menjadi perusahaan baru bernama BBM Inc. Sejumlah eksekutif BlackBerry juga disebut sudah ditempatkan di BBM Inc. Sayangnya belum jelas mengenai keberadaan BBM Inc.

Foto dok. Liputan6.com


Hingga saat ini kehadiran BBM di Android dan iOS juga masih tanda tanya. Awalnya BlackBerry berjanji akan merilis BBM untuk Android dan iOS pada 21 September 2013. Tapi hingga kini tak jua tampak 'batang hidung' BBM di Google Play Store atau Apple App Store.

BlackBerry memang menarik rencana kehadiran BBM di Android dan iOS. Penyebabnya, ada 1,1 juta tambahan pengguna baru dari aplikasi tak resmi yang bocor di internet sebelum waktunya. Ini menjadikan hambatan bagi kinerja server BlackBerry.

Nah, dari evolusinya terlihat kalau aplikasi chatting sudah memiliki perjalanan yang sangat panjang. Tapi hingga saat ini tetap masih sulit memprediksi akan seperti apa bentuk aplikasi chatting di masa depan.

Jika melihat tren perangkat yang dikenakan atau wearable devices seperti kacamata pintar Google Glass atau produk smartwatch seperti Galaxy Gear dan mungkin iWatch, bisa jadi chatting akan lebih semakin membuat penggunanya terasa dekat. Iya? Tidak? Bisa jadi! (gal)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya