Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Senin, (18/5/2026). Kenaikan harga perak Antam ini berbeda dengan harga emas Antam dan perak dunia yang melemah.
Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam naik Rp 250 menjadi Rp 49.650. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam ditetapkan Rp 49.400.
Advertisement
Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,995%. Harga perak batangan 250 gram dipatok Rp 12.937.500 dan perak batangan 500 gram dipatok Rp 24.950.000.
Sementara itu, mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia merosot 1,41% menjadi USD 74,70.
Harga perak dunia diperdagangkan di bawah USD 77 per ounce pada Senin pekan ini setelah anjlok lebih dari 13% selama dua sesi sebelumnya. Hal ini karena semakin banyak tanda-tanda guncangan harga energi yang dipicu oleh Timur Tengah meluas ke tren inflasi yang lebih luas memperkuat ekspektasi kebijakan bank sentral yang lebih ketat.
Logam mulia ini juga menghadapi tekanan dari dolar AS yang lebih kuat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah setelah data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan mendorong investor untuk mengesampingkan kemungkinan pemotongan suku bunga Federal Reserve tahun ini, sekaligus meningkatkan spekulasi para pembuat kebijakan masih dapat menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Analis UBS menurunkan tajam perkiraan permintaan investasi perak setahun penuh mereka menjadi 300 juta ounce dari lebih dari 400 juta ounce, dengan alasan permintaan industri yang lebih lemah dan peningkatan pasokan tambang. Bank tersebut juga memproyeksikan defisit pasar perak global akan menyempit secara signifikan menjadi sekitar 60–70 juta ounce, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sekitar 300 juta ounce.
Harga Emas Dunia
Sebelumnya, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas dunia dan logam mulia akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan ini, dengan peluang penguatan maupun pelemahan yang dipengaruhi sejumlah sentimen global.
Menurut Ibrahim, harga emas dunia pada Sabtu pagi pekan lalu ditutup di level USD 4.538 per troy ounce, sementara harga logam mulia berada di Rp 2.769.000 per gram. Ia memperkirakan pergerakan emas dunia dalam waktu dekat akan berada dalam rentang support hingga resistance yang cukup lebar.
“Apabila melemah, support pertama itu di USD 4.444 per troy ounce, ulangi USD 4.444 per troy ounce. Kemudian untuk logam mulianya kemungkinan besar turun Rp 20.000, di Rp 2.749.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).
Di sisi lain, Ibrahim juga melihat peluang penguatan harga emas masih terbuka. Jika sentimen pasar mendukung, harga emas berpotensi naik ke area USD 4.639 hingga mendekati USD 4.800 per troy ounce, sementara harga logam mulia domestik bisa bergerak menuju Rp 2.880.000 per gram.
Ia menjelaskan, arah pergerakan emas akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik Timur Tengah, termasuk situasi di Selat Hormuz, dinamika perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat.
Permintaan Emas
Selain itu, Ibrahim menilai permintaan emas dari bank sentral global dan investor ritel masih menjadi faktor penopang penting, terutama ketika harga mengalami koreksi.
“Sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat bahwa ini kesempatan terbaik bagi masyarakat untuk melakukan mengoleksi logam mulia sebagai investasi.” jelasnya.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan masih berlanjut juga berpotensi menahan penurunan harga logam mulia di pasar domestik, sehingga pergerakan emas pekan depan diperkirakan tetap dinamis dengan peluang naik maupun turun yang sama-sama terbuka.