Liputan6.com, Jakarta - Ada banyak daya tarik film Children of Heaven karya sineas peraih dua Piala Citra Hanung Bramantyo. Salah satunya, sejumlah karakter pendukung di sekolah tempat Ali (Jared Ali) menimba ilmu. Di sana, ada kepala sekolah tegas bernama Slamet, diperankan Muhadkly Acho. Slamet mencuri perhatian karena menggunakan pantun di berbagai situasi termasuk saat marah. “Burung gagak terbang tinggi, kenapa terlambat lagi?” ucap Slamet dengan nada tinggi kala memergoki Ali telat ke sekolah, seperti tampak pada trailer Children of Heaven.
Syuting Children of Heaven bagi Muhadkly Acho, seperti magang tipis-tipis ke Hanung Bramantyo. Ini bukan kali pertama ia berkolaborasi dengan Hanung Bramantyo. Sebelumnya, mereka bekerja sama dalam Surga Yang Tak Dirindukan 2 pada 2017. “Waktu itu aku belajar bagaimana dia mentransformasikan kisah yang bisa dibilang dramatis banget, tapi tidak menjadi terlalu serius sehingga enak ditonton karena ada elemen komedinya,” kata Muhadly Acho kepada Showbiz Liputan6.com di Setiabudi, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Advertisement
Children of Heaven berlatar di Jawa Tengah. Namun pemainnya tak harus dari Jawa. Hanung Bramantyo mengonsep di dekade 1980-an, banyak perantau mengadu nasib ke Jawa termasuk Slamet yang ditugaskan negara ke sana. Ia sudah bertahun-tahun membaur dengan warga lokal.
“Sehingga terdengar Slamet berusaha mengikuti dialeknya. Sementara, warga lokal paham dia bukan asli sini,” imbuhnya. Laporan khas Showbiz Liputan6.com merangkum 6 fakta Muhadkly Acho membintangi film Children of Heaven. Selamat menyimak.
1. Magang Tipis-Tipis ke Hanung Bramantyo
Tak heran jika Muhadkly Acho merasa kayak magang tipis-tipis selama syuting Children of Heaven. Pertama, ia bukan sutradara yang lahir dari sekolah film. Jadi, butuh memperkaya perbendaharaan ilmu dalam membuat film dengan jadi aktor.
Dengan begitu, Muhadkly Acho punya kesempatan melihat sutradara lain melakukan tugas bikin treatment dan mengarahkan pemain. Itu jadi perbendaharaan baru yang memperkaya pengetahuan Muhadkly Acho untuk memproduksi film berikutnya.
“Momen paling mahal itu, langsung terjun sama orang-orang yang punya pengalaman dan portofolio yang jauh lebih bagus dari aku. Mas Hanung salah satu yang bisa menjadi tempatku mencari dan mendapatkan itu semua,” ujar Muhadkly Acho.