Mantan PM Qatar: Israel Berusaha Seret AS Perangi Iran Sejak Puluhan Tahun Lalu

Israel dinilai sedang mengubah tatanan Timur Tengah melalui perang, sementara negara-negara Teluk tidak bisa terus bergantung pada AS.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 13 Mei 2026, 07:00 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu saat memberikan pidato di hadapan Kongres Amerika Serikat (AS) pada Rabu (24/7/2024). (Dok. AP Photo/Julia Nikhinson)

Liputan6.com, Doha - Mantan Perdana Menteri Qatar mengatakan bahwa perang terhadap Iran merupakan bagian dari upaya Israel selama puluhan tahun untuk membentuk ulang kawasan Timur Tengah dengan kekerasan. Ia menilai sebuah aliansi pertahanan negara-negara Teluk, layaknya NATO, harus segera dibentuk.  

Hamad bin Jassim Al Thani, yang juga mantan menteri luar negeri Qatar, menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara panjang di program Al Muqabala milik Al Jazeera.

"Kita sedang menyaksikan restrukturisasi besar-besaran di kawasan ini," kata Sheikh Hamad.

Ia mengatakan bahwa kelompok garis keras Israel, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, telah berusaha mendorong Amerika Serikat (AS) untuk berperang melawan Iran terkait program nuklirnya sejak era pemerintahan Presiden Bill Clinton pada 1990-an.

Diplomat senior itu menuturkan pula bahwa pemerintahan-pemerintahan AS sebelumnya enggan melancarkan perang skala penuh, termasuk pada masa pemerintahan pertama Donald Trump.

Namun, kata dia, Netanyahu akhirnya berhasil menjual sebuah "ilusi" kepada Washington.

"Ia meyakinkan pemerintah AS bahwa perang akan berlangsung singkat dan cepat, serta bahwa rezim Iran akan runtuh hanya dalam hitungan minggu," ujarnya, seraya menyinggung operasi AS yang berhasil menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. 

Israel Raya

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, saat bertemu di Ruang Oval, Gedung Putih, Selasa (4/2/2025). (Dok. AP Photo/Evan Vucci)

"Kekuatan sejati AS selalu terletak pada kemampuannya untuk menghindari penggunaan kekuatan militer, bukan pada pengerahan kekuatan itu," tambah Sheikh Hamad.

Ia menuturkan bahwa Netanyahu adalah pihak yang paling diuntungkan dari perang melawan Iran. Menurutnya, pemimpin Israel itu menggunakan perang untuk membentuk ulang kawasan sekaligus mempromosikan visi "Israel Raya" dengan wilayah yang diperluas.

Sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari, Iran merespons dengan menyerang negara-negara di kawasan Teluk, termasuk Qatar. Serangan tersebut menargetkan pangkalan militer AS, serta infrastruktur energi dan fasilitas sipil.

Sheikh Hamad mengecam serangan Iran terhadap infrastruktur energi, industri, dan fasilitas sipil di kawasan Teluk. Ia menegaskan bahwa negara-negara Teluk secara terbuka menentang konflik tersebut.

Namun, meskipun ada kemarahan atas serangan Iran, kedekatan geografis Iran membuat hidup berdampingan tetap diperlukan. Karena itu, dialog antara negara-negara Teluk dan Iran harus dilakukan.

Perpecahan di kawasan Teluk, tegas Sheikh Hamad, merupakan ancaman yang lebih besar dibanding Iran, Israel, ataupun pangkalan militer asing di kawasan tersebut.

Untuk mengatasinya, ia mengatakan bahwa sebuah "NATO Teluk" perlu dibentuk. Aliansi itu, ungkapnya, harus terdiri dari negara-negara Teluk yang memiliki keselarasan strategis dengan Arab Saudi sebagai tulang punggungnya.

Ia menerangkan bahwa meskipun pangkalan militer AS di kawasan tersebut telah memberikan efek penangkal selama beberapa dekade, fokus Washington yang kini beralih ke Asia dan China membuat negara-negara Teluk tidak bisa terus bergantung tanpa batas pada payung keamanan AS.

Sebaliknya, sebut Sheikh Hamad, negara-negara Teluk perlu mengembangkan kemitraan strategis dengan kekuatan lain seperti Turki, Pakistan, dan Mesir.

Dalam bagian lain wawancara, Sheikh Hamad mengecam perang genosida Israel di Gaza. Ia mengatakan bahwa intelijen menunjukkan Israel sedang merencanakan pengosongan wilayah tersebut dengan mendorong warga Palestina meninggalkan Gaza.

Pembahasan mengenai pelucutan senjata Hamas, ujarnya, harus disertai prospek politik menuju negara Palestina yang merdeka.

Sheikh Hamad turut memuji Arab Saudi karena tidak menormalisasi hubungan dengan Israel kecuali ada peta jalan menuju Negara Palestina merdeka. Menurutnya, sikap tersebut telah mengganggu perhitungan Netanyahu. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya