Bursa Saham China Tergelincir Setelah Sentuh Rekor dalam 11 Tahun

Indeks acuan di bursa saham China lesu setelah mencetak level tertinggi dalam 11 tahun. Pertemuan Presiden Donald Trump dan Xi Jinping membayangi.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 12 Mei 2026, 16:15 WIB
Bursa saham China melemah pada perdagangan saham Selasa, (12/5/2026) setelah menyentuh level tertinggi dalam 11 tahun.(AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham China melemah pada perdagangan saham Selasa, (12/5/2026) setelah menyentuh level tertinggi dalam 11 tahun. Koreksi bursa saham China itu seiring investor merealisasikan keuntungan.

Mengutip tradingeconomics.com, indeks Shanghai turun 0,25% menjadi 4.214 pada Selasa, 12 Mei 2026. Indeks Shenzhen terpangkas 0,47% menjadi 15.825. Dua indeks acuan melemah dari level tertinggi seiring investor merealisasikan keuntungan jelang pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Pelaku pasar berharap pembicaraan dua pemimpin negara itu akan memutuskan untuk mempertahankan gencatan senjata perdagangan AS-China yang rapuh. Kedua pemimpin juga diharapkan membahas konflik Iran dan Taiwan.Adapun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan tiba di China pada Rabu malam.

Selain pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping, sentimen semakin tertekan oleh memudarnya harapan kemajuan dalam pembicaraan perdamaian Amerika Serikat-Iran. Hal ini karena Donald Trump menuturkan, gencatan senjata berada dalam kondisi kritis setelah penolakan Teheran terhadap proposal yang didukung Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri konflik.

Saham-saham yang mengalami penurunan antara lain saham Foxconn Industrial Internet yang merosot 2,2%, Contemporary Amperex Technology melemah 3,33%, Weichai Power terpangkas 2,48% dan saham Sungrow Power Supply susut 2,91%.

Koreksi indeks saham acuan di China terjadi setelah menyentuh level tertinggi dalam 11 tahun. Indeks acuan Shanghai naik ke level tertinggi 11 tahun pada 4.225,02 pada Senin, 11 Mei 2026. Indeks Shenzhen Component melonjak 2,16% dan ChiNext yang didominasi saham teknologi di Shenzhen menguat 3,5%.

 

Kapitalisasi Pasar Saham di China

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Kapitalisasi pasar saham di bursa Shanghai, Shenzhen dan Beijing pun mencapai 3,56 triliun yuan atau setara USD 520 miliar. Jumlah itu setara Rp 9.106 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.510). Kapitalisasi pasar gabungan itu naik hampir 16% dari hari perdagangan sebelumnya.

Perusahaan semikonduktor yang tercatat di bursa saham memicu reli pada Senin pekan ini. Rata-rata kenaikan harga saham mencapai 5,01%.

Manager of the Integrated Circuit Hybrid Fund Yinua Fund, Fang Jian menuturkan, kinerja kuat perusahaan teknologi China mungkin baru saja dimulai. Lonjakan kecerdasan buatan dan lokalisasi semikonduktor akan menghasilkan peluang investasi yang sangat besar pada 2026 karena produsen chip akan melihat tahun pesanan yang besar.

Pada konferensi pers Senin pekan ini, Head of China Global Markets UBS, Thomas Fang menuturkan, angka ekonomi China yang kuat selama beberapa bulan terakhir termasuk ekspor dan produksi industri telah memberikan kepercayaan lebih kepada investor global. Ia menambahkan, China akan kembali memasuki siklus inflasi pada kuartal ketiga.

 

Kata Analis

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Sementara itu, China Equity Strategist UBS Securities, Meng Lei meningkatkan perkiraan untuk tingkat pertumbuhan profitabilitas perusahaan saham kelas A tahun menjadi 11 persen, naik dari 8 persen pada akhir tahun lalu. “Ini akan menjadi salah satu pendorong utama bagi kenaikan harga saham kelas A sepanjang 2026,” ujar Meng.

Sentimen pasar juga meningkat karena Kementerian Luar Negeri mengumumkan Presiden AS Donald Trump akan melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari ke China mulai Rabu pekan ini.

“Kunjungan itu yang akan berlangsung sesuai jadwal akan secara langsung meningkatkan selera risiko di pasar saham,” ujar Chief Strategist Eastmoney Securities, Chen Guo.

Chen menuturkan, kepercayaan pasar secara keseluruhan akan menguat. Perusahaan berorientasi ekspor akan mendapatkan manfaat dengan mengantisipasi sedikit pelonggaran ketegangan tarif.  “Jika investasi dilakukan secara bertahap, potensi pemulihan yang didorong oleh sentimen pasar dapat terlihat pada perusahaan-perusahaan yang mengkhususkan diri dalam produk siklikal, peralatan listrik dan mesin,” kata Chen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya