Liputan6.com, Jakarta - Mantan Presiden Bank Dunia David Malpass mengungkapkan sederet kritik kepada China. Negara ini disebut harus berhenti menimbun pangan dan pupuk guna meredakan krisis pasokan global yang dipicu Perang Iran. China juga harus menanggalkan status sebagai negara berkembang dan naik menjadi negara kaya.
David yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan AS untuk Urusan Internasional di bawah Presiden AS Donald Trump dari 2017 hingga 2019, menyampaikan hal tersebut menjelang pertemuan puncak Trump-Xi di Beijing.
Advertisement
“Mereka memiliki cadangan bahan pangan dan pupuk terbesar di dunia. Mereka bisa berhenti menambah cadangan mereka,” jelas dia melansir BBC, Selasa (12/5/2026).
Komentarnya muncul ketika negara-negara di seluruh dunia berlomba mengamankan pasokan pupuk menjelang musim tanam musim semi, sementara penutupan Selat Hormuz sangat mengganggu pengiriman.
China telah menghentikan ekspor beberapa jenis pupuk sejak Maret dengan alasan untuk melindungi pasokan dalam negeri. Langkah ini menambah pembatasan yang telah diterapkan secara bertahap sejak 2021.
Tahun lalu, China menyumbang sekitar 25% dari produksi pupuk global, dengan total ekspor mencapai lebih dari USD 13 miliar (£9,6 miliar).
Malpass, yang memimpin Bank Dunia dari 2019 hingga 2023, juga menilai jika klaim Beijing sebagai negara berkembang sudah tidak lagi dapat dipercaya. “Mereka menampilkan diri sebagai negara berkembang padahal mereka adalah ekonomi terbesar kedua di dunia dan dalam banyak hal sudah kaya,” katanya.
“Namun mereka masih berpura-pura sebagai negara berkembang di WTO dan Bank Dunia, dan mereka sebenarnya bisa menghentikan itu,” tambah Malpass.
Minta China Bantu Buka Hormuz
Mengenai gencatan senjata Iran, yang disebut Trump berada dalam kondisi “sangat kritis” , Malpass mengatakan bahwa dunia seharusnya bersatu mendukung Amerika Serikat dan menuntut penyelesaian konflik.
“Anda tidak bisa membiarkan negara pembangkang memiliki plutonium, dan Anda tidak bisa memblokir Selat Hormuz,” katanya.
Malpass berharap China akan membantu mencari penyelesaian atas kebuntuan di Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa kelancaran pergerakan kapal merupakan kepentingan ekonomi bagi negara tersebut.
Dia menegaskan China sejatinya mendapat keuntungan dari jalur pelayaran yang terbuka di seluruh dunia. “Mereka mengoperasikan jalur pelayaran, memiliki kontainer, dan meraup keuntungan besar dari perdagangan dengan seluruh dunia. Jadi, mereka akan menjadi pihak yang sangat dirugikan jika Iran dalam beberapa cara menguasai Selat Hormuz,” katanya.
Respons China
China pun merespons pernyataan Malpass. “China berkomitmen menjaga stabilitas pasar pangan dan pupuk global,” kata Liu Pengyu, Juru Bicara Kedutaan Besar China.
Dia menolak China disalahkan atas kondisi yang terjadi. “Akar penyebab gangguan saat ini pada rantai pasokan pangan dan pupuk global sudah sangat jelas; kesalahan ini tidak bisa dialihkan kepada China,” tegas dia.
Menanggapi komentar Malpass mengenai status China sebagai negara berkembang, Liu mengatakan bahwa China secara universal diakui sebagai negara berkembang terbesar di dunia, sebuah status yang didasarkan pada banyak bukti faktual. “Mempertahankan statusnya sebagai negara berkembang adalah hak sah China,” tambahnya.