Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia kembali menghadapi perhatian besar menjelang pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada Selasa, 12 Mei 2026 waktu Amerika Serikat (AS).
Pelaku pasar saat ini mencermati potensi perubahan komposisi saham Indonesia di indeks MSCI, sekaligus risiko penurunan status Indonesia dari kategori emerging market dalam evaluasi mendatang.
Advertisement
Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan keluar dari indeks MSCI. Sementara itu, saham baru dipastikan belum dapat masuk karena masih terkena pembekuan.
Kondisi tersebut membuat sentimen pasar semakin sensitif, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengakui isu potensi penurunan status Indonesia masih menjadi perhatian pelaku pasar. Meski demikian, regulator berharap Indonesia tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai emerging market.
“Itu nanti bulan Juni, moga-moga enggak ya,” kata Friderica di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Perempuan yang akrab disapa Kiki itu mengatakan berbagai reformasi pasar modal yang dilakukan regulator menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor global. Salah satu aspek yang disoroti adalah peningkatan kualitas keterbukaan informasi dan integritas emiten.
“Misalnya, kita lihat secara granularitas data, keterbukaan informasi itu mungkin salah satu yang terbaik lah untuk hal keterbukaan integritas yang kita sampaikan. Jadi, moga-moga ini juga menjadi konsideran supaya Indonesia tetap di emerging market,” ujarnya.
Danantara Optimistis
Di sisi lain, Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Pandu Sjahrir, menilai tekanan terhadap IHSG saat ini bukan semata-mata dipicu sentimen MSCI.
Menurut dia, pelemahan rupiah justru menjadi faktor yang lebih dominan memengaruhi pergerakan pasar saham domestik.
“Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI saja, (pergerakan IHSG) hari ini, lebih banyak faktor rupiah dan lain-lain,” kata Pandu di Jakarta.
Pandu mengaku optimistis terhadap perkembangan pasar modal Indonesia dan implementasi kebijakan yang dilakukan otoritas bursa.
“Ya kita tunggu saja besok. Seharusnya semua (syarat dan catatan MSCI) sudah dimasukkan juga. Saya sudah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan,” ungkapnya.
Ia berharap hasil pengumuman MSCI dapat memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.
“Insya Allah besok (hasil pengumuman) baik,” ujar Pandu.
Tidak Bereaksi Berlebihan
Sementara itu, OJK meminta investor tidak bereaksi berlebihan terhadap hasil evaluasi MSCI. Friderica menilai tekanan pasar jangka pendek merupakan bagian dari proses reformasi untuk memperkuat fundamental pasar modal Indonesia.
“Tadi saya udah sampaikan, segala kemungkinan bisa terjadi. Jadi kita harus mengantisipasi. Jadi saya malah minta tolong sama teman-teman media bahwa ini mungkin bisa menjadi short term pain tapi insya Allah menjadi long term gain,” katanya.
Ia menegaskan pembenahan pasar memang dapat menimbulkan ketidaknyamanan sementara, namun diperlukan agar pasar modal Indonesia menjadi lebih sehat dan kredibel.
“Jadi, jangan orang terus jadi dibikin panik dan lain-lain. Ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan,” ujar Friderica.