Jelang Pengumuman MSCI, OJK dan Danantara Kompak Minta Pasar Tak Panik

OJK dan Danantara meminta investor tidak panik menjelang pengumuman rebalancing MSCI di tengah tekanan terhadap IHSG dan rupiah.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 12 Mei 2026, 10:25 WIB
Sebelumnya, sepanjang Senin (9/2/2026), pergerakan IHSG diwarnai penguatan 433 saham. Sementara, 252 saham melemah dan 136 lainnya stagnan. Tampak dalam foto, layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia kembali menghadapi perhatian besar menjelang pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada Selasa, 12 Mei 2026 waktu Amerika Serikat (AS).

Pelaku pasar saat ini mencermati potensi perubahan komposisi saham Indonesia di indeks MSCI, sekaligus risiko penurunan status Indonesia dari kategori emerging market dalam evaluasi mendatang.

Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan keluar dari indeks MSCI. Sementara itu, saham baru dipastikan belum dapat masuk karena masih terkena pembekuan.

Kondisi tersebut membuat sentimen pasar semakin sensitif, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengakui isu potensi penurunan status Indonesia masih menjadi perhatian pelaku pasar. Meski demikian, regulator berharap Indonesia tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai emerging market.

“Itu nanti bulan Juni, moga-moga enggak ya,” kata Friderica di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Perempuan yang akrab disapa Kiki itu mengatakan berbagai reformasi pasar modal yang dilakukan regulator menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor global. Salah satu aspek yang disoroti adalah peningkatan kualitas keterbukaan informasi dan integritas emiten.

“Misalnya, kita lihat secara granularitas data, keterbukaan informasi itu mungkin salah satu yang terbaik lah untuk hal keterbukaan integritas yang kita sampaikan. Jadi, moga-moga ini juga menjadi konsideran supaya Indonesia tetap di emerging market,” ujarnya.

 

Danantara Optimistis

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Pandu Sjahrir, menilai tekanan terhadap IHSG saat ini bukan semata-mata dipicu sentimen MSCI.

Menurut dia, pelemahan rupiah justru menjadi faktor yang lebih dominan memengaruhi pergerakan pasar saham domestik.

“Saya rasa bukan menyangkut soal MSCI saja, (pergerakan IHSG) hari ini, lebih banyak faktor rupiah dan lain-lain,” kata Pandu di Jakarta.

Pandu mengaku optimistis terhadap perkembangan pasar modal Indonesia dan implementasi kebijakan yang dilakukan otoritas bursa.

“Ya kita tunggu saja besok. Seharusnya semua (syarat dan catatan MSCI) sudah dimasukkan juga. Saya sudah lihat perkembangannya, bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan,” ungkapnya.

Ia berharap hasil pengumuman MSCI dapat memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.

“Insya Allah besok (hasil pengumuman) baik,” ujar Pandu.

 

Tidak Bereaksi Berlebihan

Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, OJK meminta investor tidak bereaksi berlebihan terhadap hasil evaluasi MSCI. Friderica menilai tekanan pasar jangka pendek merupakan bagian dari proses reformasi untuk memperkuat fundamental pasar modal Indonesia.

“Tadi saya udah sampaikan, segala kemungkinan bisa terjadi. Jadi kita harus mengantisipasi. Jadi saya malah minta tolong sama teman-teman media bahwa ini mungkin bisa menjadi short term pain tapi insya Allah menjadi long term gain,” katanya.

Ia menegaskan pembenahan pasar memang dapat menimbulkan ketidaknyamanan sementara, namun diperlukan agar pasar modal Indonesia menjadi lebih sehat dan kredibel.

“Jadi, jangan orang terus jadi dibikin panik dan lain-lain. Ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan,” ujar Friderica.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya