Liputan6.com, Teheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Amerika Serikat kembali memilih langkah militer di saat peluang penyelesaian diplomatik masih terbuka. Tuduhan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz setelah kedua negara saling menuduh melakukan serangan terhadap kapal dan aset militer masing-masing.
Dalam unggahan di platform X pada Jumat waktu setempat, Araghchi mengatakan rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan dari pihak mana pun.
Advertisement
“Setiap kali solusi diplomatik ada di meja perundingan, AS justru memilih petualangan militer yang gegabah,” tulis Araghchi, dikutip dari BBC, Sabtu (9/5/2026).
Ia juga mempertanyakan langkah Washington yang dinilai terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Menurutnya, tindakan tersebut bisa jadi merupakan strategi tekanan politik atau akibat pihak-pihak tertentu yang kembali menyeret Presiden AS Donald Trump ke konflik baru di kawasan.
Meski ketegangan meningkat, Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata antara kedua pihak masih berlaku. Gencatan senjata itu sebelumnya dimaksudkan untuk membuka jalan bagi perundingan guna mengakhiri konflik yang dimulai sejak Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington masih menunggu respons resmi Iran terhadap proposal yang diajukan AS. Respons tersebut diperkirakan disampaikan pada Jumat.
“Saya berharap ini benar-benar menjadi tawaran yang serius,” kata Rubio saat melakukan kunjungan ke Italia.
Situasi di kawasan Teluk memanas setelah Iran memperketat kendali di Selat Hormuz dan melancarkan serangan terhadap sekutu-sekutu AS sebagai balasan atas operasi militer AS dan Israel. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di wilayah itu telah memicu lonjakan harga energi global.
Awal pekan ini, Trump sempat memerintahkan operasi militer untuk membantu membebaskan sekitar 2.000 kapal yang terjebak di kawasan tersebut sejak Februari, sebelum akhirnya operasi itu dihentikan.
Amerika Serikat juga mempertahankan blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran guna menekan Teheran agar menerima syarat-syarat Washington. Langkah itu memicu kemarahan pemerintah Iran.
Pada Jumat, Komando Pusat AS (Centcom) mengklaim pasukannya melumpuhkan dua kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman karena dianggap melanggar blokade laut yang diberlakukan AS.
Dalam pernyataannya, Centcom menyebut pasukan AS menembakkan amunisi presisi ke cerobong kapal untuk mencegah kapal-kapal tersebut memasuki pelabuhan Iran. AS juga mengklaim telah mencegah lebih dari 70 kapal tanker keluar masuk pelabuhan Iran.
Insiden Terbaru
Insiden terbaru itu terjadi sehari setelah baku tembak antara pasukan AS dan Iran di Selat Hormuz. Washington menuduh Iran meluncurkan rudal, drone, dan kapal cepat ke arah tiga kapal perang AS dalam serangan yang disebut “tanpa provokasi”.
Sebaliknya, militer Iran menuduh AS menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran serta beberapa kapal lain yang mendekati Selat Hormuz. Iran juga mengklaim AS melakukan serangan udara di sejumlah wilayah pesisir.
Seorang pejabat Provinsi Hormozgan, Mohammad Radmehr, mengatakan salah satu kapal kargo yang diserang di dekat perairan Minab mengalami kebakaran. Sepuluh pelaut dilaporkan terluka dan telah dilarikan ke rumah sakit, sementara tim pencarian masih berupaya menemukan awak kapal lainnya.
Sementara itu, Trump melalui platform Truth Social menyatakan militer AS telah menghancurkan sejumlah kapal kecil, rudal, dan drone milik Iran.
“Kerusakan besar telah ditimbulkan terhadap para penyerang Iran,” tulis Trump.
Ia juga memperingatkan Iran agar segera menyepakati proposal yang diajukan Washington, atau menghadapi serangan yang lebih keras di masa mendatang.