Liputan6.com, Jakarta - PT Indosat Tbk (ISAT) akan membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 3,57 triliun. Seiring pembagian dividen itu, pemegang saham mendapatkan dividen Rp 111.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis (7/5/2026), PT Indosat Tbk membagikan dividen sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 5 Mei 2026. Pembagian dividen juga mempertimbangkan laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 5,50 triliun dan total ekuitas sebesar Rp 39,50 triliun.
Advertisement
Berikut jadwal pembagian dividen:
- Tanggal efektif pada 5 Mei 2026
- Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 13 Mei 2026
- Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 18 Mei 2026
- Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 19 Mei 2026
- Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 20 Mei 2026
- Tanggal daftar pemegang saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 19 Mei 2026, waktu 16:00
- Tanggal pembayaran dividen pada 5 Juni 2026
Pada penutupan perdagangan Rabu, 6 Mei 2026, harga saham ISAT naik 0,95% menjadi Rp 2.130 per saham. Harga saham ISAT berada di level tertinggi Rp 2.180 dan level terendah Rp 2.100 per saham. Kapitalisasi pasar Rp 68,69 triliun.
Sementara itu, IHSG ditutup naik 0,50% menjadi 7.092,46. Indeks saham LQ45 mendaki 0,17% menjadi 682,75. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau. Investor asing melepas saham Rp 482,07 miliar. Dengan demikian, sepanjang 2026, aksi jual investor asing Rp 48,9 triliun.
Kinerja Kuartal I 2026
Sebelumnya, PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat kinerja keuangan positif pada kuartal pertama 2026. Perseroan meraup pertumbuhan pendapatan dan laba double digit hingga Maret 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis, (30/4/2026), PT Indosat Tbk meraup pendapatan naik 12,1% menjadi Rp 15,22 triliun hingga Maret 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 13,57 triliun. Layanan selular, MIDI dan telekomunikasi tetap memiliki masing-masing memberikan kontribusi 83,5%, 15,1% dan 14% terhadap pendapatan konsolidasi untuk periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026.
Pendapatan perseroan dari layanan selular meningkat 11,2% menjadi Rp 12,7 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 11,42 triliun. Kemudian pendapatan dari MIDI tumbuh 17,5% menjadi Rp 2,30 triliun hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,96 triliun. Lalu pendapatan telekomunikasi tetap naik 9,3% menjadi Rp 212,8 miliar hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 194,7 miliar.
Beban-beban naik 13,1% menjadi Rp 12,20 triliun hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 10,78 triliun.
“Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban penyelenggaran jasa, penyusutan, amortisasi, karyawan dan (beban) penghasilan operasional lain-lain bersih yang diimbangi dengan penurunan beban pemasaran, beban umum dan administrasi,” demikian seperti dikutip.
Aset Perseroan
Perseroan juga mencatat kenaikan beban lain-lain sebesar 6,3% menjadi Rp 1,09 triliun dari kuartal pertama 2025. Hal ini disebabkan oleh kenaikan biaya keuangan yang diimbangi oleh kenaikan penghasilan bunga dan keuntungan selisih kurs-bersih.
Seiring kinerja keuangan tersebut, perseroan mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 13,7% menjadi Rp 1,49 triliun hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,31 triliun. Hal itu terutama didorong kenaikan pendapatan, penurunan pemasaran, umum dan administrasi yang diimbangi oleh kenaikan beban penyelenggaran jasa, penyusutan, amortisasi, karyawan, (beban) penghasilan operasional lain-lain dan beban lain-lain bersih.
Adapun perseroan mencatat ekuitas naik menjadi Rp 41,03 triliun hingga Maret 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 39,50 triliun. Liabilitas bertambah 2,5% menjadi Rp 81,06 triliun dari Desember 2025 sebesar Rp 79,12 triliun. Aset perseroan naik 2,9% menjadi Rp 122,10 triliun dari Desember 2025 sebesar Rp 118,62 triliun.