Airlangga Bocorkan Strategi Kendalikan Rupiah

Menko Airlangga Hartarto menuturkan, salah satu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipicu permintaan dolar AS meningkat untuk dividen.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 05 Mei 2026, 18:45 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (5/5/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, pemerintah terus memantau pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga rupiah.

Airlangga menuturkan, tekanan terhadap dolar AS cenderung meningkat pada periode tertentu termasuk saat musim ibadah haji. Kebutuhan masyarakat terhadap valuta asing termasuk dolar AS meningkat. Selain itu, pembayaran dividen oleh sejumlah perusahaan juga menyumbang kenaikan permintaan dolar AS.

Ia menambahkan, pemerintah terus memantau dinamika itu termasuk membandingkan pergerakan mata uang di berbagai negara untuk melihat apakah tekanan yang terjadi bersifat global dan domestik.

"Jadi nanti kita juga akan monitor kebutuhan tersebut dan juga biasanya pada kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen jadi demand terhadap dolar AS tinggi dan kita lihat tetap monitor bagaimana dengan negara-negara lain,” kata Airlangga.

Untuk meredam gejolak rupiah, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Salah satu melalui kerja sama pertukaran mata uang atau currency swap dengan beberapa negara termasuk China, Jepang dan Korea Selatan.

Selain itu, pemerintah juga mengkaji strategi pembiaaan yang lebih beragam. Hal ini termasuk kemungkinan penerbitan surat berharga dalam denominasi mata uang selain dolar AS, seperti Yuan dan Yen. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Airlangga menegaskan, berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga keseimbangan eksternal dan memastikan volatilitas rupiah tetap terkendali.

“Sehingga berharap nanti ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat hutang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari China ataupun dari Yen itu untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS,” kata dia.

Rupiah Tembus Rp 17.400, BI Ambil Langkah Ini

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, selalu mengalami perubahan setiap saat terkadang melemah terkadang juga dapat menguat.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara terkait pelemahan rupiah yang kini telah menembus Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS). BI menegaskan, pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.

Erwin mengatakan BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.

"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan BI, Selasa (5/5/2026).

Menurut BI, Rupiah tidak melemah sendirian, melainkan nilai tukar mata uang negara tetangga seperti Philippine Peso melemah sebesar 6,58%, Thailand Baht melemah 5,04%, India Rupee melemah 4,32%, demikian pula dengan Chile Peso (-4,24%), Indonesia Rupiah (-3,65%), dan Korea Won (-2,29%).

Erwin mengatakan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global.

"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," pungkasnya. 

Purbaya Tepis Isu Fiskal Goyah Jadi Penyebab Rupiah Melemah

Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, isu pelemahan rupiah yang dikaitkan dengan kondisi fiskal Indonesia mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh data, terutama jika melihat kekuatan fundamental ekonomi nasional, termasuk ketahanan energi.

Purbaya menegaskan bahwa dalam konteks global yang penuh tekanan, Indonesia justru berada dalam posisi relatif kuat dibanding banyak negara lain. Ia merujuk pada sejumlah kajian internasional yang menempatkan Indonesia dalam jajaran teratas ketahanan energi saat menghadapi potensi krisis global.

“Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah. Maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah nanti tanya BI ya, jangan tanya saya, mereka yang berhak menjawab. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat.” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers, Selasa (5/5/2026).

Ia juga menyinggung perbandingan posisi Indonesia dengan negara besar lain, yang menurutnya menunjukkan daya tahan ekonomi domestik masih solid di tengah risiko global.

“Itu nomor dua tuh. Perbandingan ketahanan energi terhadap krisis energi global. Kalau ada krisis global, Kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain,” ujarnya.

Lebih lanjut, Purbaya membantah narasi yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1998. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini justru masih berada dalam fase ekspansi dan akselerasi, berbeda jauh dengan kondisi resesi yang terjadi sebelum krisis 1998.

Ia mengingatkan agar publik tidak terjebak pada spekulasi yang tidak berbasis data, serta menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tetap stabil dan terkendali.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya